Peristiwa

Toko Madura di Galunggung Terbakar, Satu Tewas Terjebak Asap di Lantai Dua

13
×

Toko Madura di Galunggung Terbakar, Satu Tewas Terjebak Asap di Lantai Dua

Share this article
Toko Madura di Galunggung Terbakar, Satu Tewas Terjebak Asap di Lantai Dua
Kepulan asap hitam membubung dari lokasi kebakaran Toko Madura di kawasan perempatan Jalan Galunggung, Kota Malang, Selasa (22/9/2026) pagi.(Sudutkota.id/Istimewa)

KOTA MALANG, Sudutkota.id – Kebakaran hebat melanda sebuah warung kelontong atau Toko Madura di kawasan perempatan Jalan Galunggung, Kota Malang, Selasa (22/9/2026) pagi. Kobaran api tidak hanya menghanguskan bangunan, tetapi juga menelan korban jiwa.

Satu orang laki-laki ditemukan meninggal dunia di lantai dua bangunan, sementara seorang laki-laki lainnya mengalami luka bakar dan harus mendapatkan penanganan medis.

Kepala UPT Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Malang, Pandu Rizki Darmawan, mengatakan pihaknya menyampaikan duka cita atas jatuhnya korban dalam peristiwa tersebut.

“Yang pertama, kami dari UPT Damkar Kota Malang mengucapkan turut berduka cita sedalam-dalamnya atas meninggalnya satu korban jiwa dan kemudian satu korban luka dalam peristiwa terbakarnya sebuah warung kelontong,” ujar Pandu saat memberikan keterangan terkait kejadian tersebut.

Menurutnya, laporan kebakaran diterima petugas sekitar pukul 08.30 WIB. Merespons laporan tersebut, UPT Damkar Kota Malang langsung menerjunkan lima unit kendaraan pemadam dengan kekuatan 15 personel ke lokasi kejadian.

Petugas mulai melakukan pemadaman sekitar pukul 08.45 WIB. Api yang sudah membesar membuat proses penanganan membutuhkan waktu cukup lama. Setelah berjibaku selama kurang lebih dua jam, kobaran api akhirnya berhasil dikendalikan.

Operasi pemadaman dan penanganan dinyatakan selesai sekitar pukul 10.45 WIB.

“Alhamdulillah saat ini 10.45 dapat kita akhiri. Jadi operasi ini kita selesaikan dalam waktu dua jam dengan mengerahkan lima unit kendaraan, 15 personel, dan juga penggunaan sumber daya air 32.000 liter,” jelasnya.

Pandu mengungkapkan, petugas menghadapi kondisi cukup berat saat masuk ke bagian bangunan yang terbakar. Kepulan asap tebal membuat jarak pandang terbatas sekaligus mengganggu pernapasan.

Untuk memastikan proses pencarian dan penanganan korban tetap dapat dilakukan, sejumlah petugas harus menggunakan Self-Contained Breathing Apparatus (SCBA) atau alat bantu pernapasan.

Kondisi asap yang pekat tersebut juga menjadi salah satu faktor yang membuat korban di lantai dua kesulitan menyelamatkan diri.

Korban meninggal dunia ditemukan berada di dalam bak mandi di lantai dua. Setelah dievakuasi dari lokasi, jenazah kemudian dibawa ke Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang.

“Untuk korban yang meninggal ditemukan di lantai dua, ya, tepatnya di dalam bak mandi. Mungkin yang bersangkutan mencari perlindungan di bak mandi, namun itu adalah langkah yang keliru, karena tidak didapati jalur evakuasi di situ,” terang Pandu.

Menurutnya, posisi korban justru membuat yang bersangkutan tidak memiliki akses untuk keluar ketika asap memenuhi bangunan. Akibatnya, korban terjebak hingga akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.

“Sehingga korban terjebak dalam kepulan asap yang membuat sesak napas,” sambungnya.

Berdasarkan informasi awal yang diterima petugas, kebakaran diduga bermula dari lantai satu toko. Saat kejadian, penjaga toko disebut tengah memasak mi.

Api kemudian diduga menyambar sebuah jeriken berisi bensin yang berada di sekitar lokasi. Kondisi tersebut membuat kobaran api dengan cepat membesar dan merambat ke bagian bangunan.

Situasi semakin sulit ketika api dan asap mulai memenuhi bangunan, termasuk bagian lantai dua yang menjadi lokasi korban ditemukan.

Sementara itu, korban lain yang mengalami luka bakar diduga berusaha menyelamatkan rekannya yang berada di lantai dua.

Rekan korban disebut baru saja menyelesaikan sif jaga malam dan sedang tertidur ketika kebakaran terjadi. Upaya penyelamatan tersebut membuat korban mengalami luka bakar.

Namun, upaya tersebut tidak berhasil menyelamatkan rekannya. Korban yang berada di lantai dua akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia

Peristiwa tersebut juga menjadi perhatian dari sisi kesiapsiagaan menghadapi kebakaran. Pandu menyebut petugas tidak menemukan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) di toko yang terbakar.

Bahkan, menurutnya, APAR juga tidak ditemukan di ruko yang berada di sisi kanan maupun kiri bangunan.

“APAR kami tidak menemukan di lokasi, Mas. Kami tidak menemukan APAR di lokasi, baik di toko kelontong yang terbakar maupun di ruko kanan-kirinya,” ungkapnya.

Ketiadaan APAR membuat penanganan awal kebakaran tidak dapat dilakukan secara optimal sebelum api berkembang menjadi lebih besar.

Saat petugas tiba di lokasi, kondisi kobaran api disebut sudah cukup besar sehingga penanganan harus dilakukan dengan mengerahkan armada dan personel dalam jumlah lebih banyak.

“Sehingga ketika petugas datang memang kondisi api sudah luar biasa besar,” pungkas Pandu.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *