Sudutkota.id – Persaingan global di era digitalisasi dan teknologi menuntut setiap SDM untuk melakukan berbagai strategi agar bisa survive dalam menentukan arah kebijakan. Terutama di sektor pendidikan, dimana pusat informasi dan inovasi bersumber disana.
Arah baru pendidikan tinggi mulai ditegaskan Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Bukan sekadar mencetak sarjana, kampus ini kini menargetkan lulusan dengan mental tahan banting menghadapi disrupsi global yang kian tak menentu.
Pesan tersebut disampaikan oleh Rektor Unesa, Prof. Dr. Nurhasan, M.Kes., usai memimpin wisuda ke 119 di Graha Unesa, Rabu (29/4/2026).
Ia menyoroti perubahan drastis dunia kerja dalam 5–10 tahun ke depan yang diprediksi akan menggerus banyak profesi konvensional.
“Geopolitik dan teknologi bergerak sangat cepat. Kalau mental tidak siap, lulusan akan kalah sebelum masuk arena,” tegasnya.
Menurutnya, tantangan ke depan bukan hanya soal kompetensi teknis, melainkan daya tahan menghadapi tekanan, ketidakpastian, dan perubahan. Karena itu, Unesa mulai mendorong seluruh mata kuliah tidak hanya berorientasi akademik, tetapi juga menanamkan daya juang.
Langkah tersebut diikuti pembenahan kurikulum yang lebih agresif. Kampus mulai mengintegrasikan program pendamping ijazah untuk memperkuat keterampilan praktis mahasiswa agar lebih relevan dengan kebutuhan industri.
Namun, di tengah dorongan kuat menuju industrialisasi pendidikan, Unesa tidak serta-merta mengorbankan program studi non-industri. Wacana restrukturisasi atau penutupan prodi masih dalam tahap kajian.
“Ada prodi yang langsung terserap industri, ada yang tidak. Tapi yang tidak pun tetap penting untuk kepentingan bangsa, termasuk budaya dan pembangunan jangka panjang,” ujarnya.
Unesa juga memperkuat fungsi career center untuk memastikan efektivitas lulusan di pasar kerja, sekaligus mengawasi relevansi setiap program studi.
Dalam momentum wisuda tersebut, perhatian juga tertuju pada capaian individu mahasiswa. Salah satunya Adi Tarigan dari S1 Pendidikan Luar Biasa (PLB) yang menyelesaikan studi hanya dalam 7 semester.
Di sisi internal, Unesa menempuh langkah berbeda dibanding banyak perguruan tinggi lain, investasi besar pada sumber daya manusia. Kampus memberikan fasilitas pendidikan gratis bagi pegawai tetap untuk melanjutkan studi S2 hingga S3.
“Kami tidak hanya membangun mahasiswa, tapi juga dosen dan tenaga kependidikan. Ini investasi jangka panjang,” kata Nurhasan.
Langkah ini menegaskan pergeseran peran kampus dari sekadar lembaga pendidikan menjadi pusat pembentukan manusia adaptif yang siap bertahan di tengah tekanan global.




















