Sudutkota.id – Nuansa Kota Malang pada era 1940 hingga 1960-an kembali terasa di kawasan RT 04 RW 05, Kelurahan Tunjungsekar, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang.
Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, warga setempat menggelar Festival Tunjungsekar Tempo Doeloe 2026, Sabtu (1/8/2026).
Festival yang dipusatkan di lingkungan RT 04 RW 05 itu menyulap kawasan permukiman menjadi kampung bernuansa jadul. Dekorasi klasik, kuliner tradisional, musik lawas, hingga stan UMKM dengan konsep tempo dulu menjadi daya tarik yang mengundang ribuan pengunjung dari berbagai wilayah Kota Malang.
Kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi warga yang diprakarsai Ketua RT 04 sekaligus Ketua Panitia, Satria Adi Nugroho, bersama Ketua RW 05 Gunawan Priyo Widodo, serta didukung para pelaku UMKM dan komunitas kreatif setempat.
Festival dijadwalkan berlangsung setiap akhir pekan, yakni pada 1, 2, 8, dan 9 Agustus 2026, sebagai bagian dari rangkaian peringatan HUT RI sekaligus upaya menghidupkan kembali nilai sejarah, budaya, dan semangat kebersamaan masyarakat.
Ketua RW 05 Gunawan Priyo Widodo mengatakan, festival ini tidak sekadar menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga memiliki misi edukasi agar generasi muda mengenal perjalanan sejarah Kota Malang.
“Kami ingin mengingatkan anak-anak muda bahwa Malang memiliki sejarah panjang yang patut dikenang. Lewat festival ini, sejarah bisa disampaikan dengan cara yang menyenangkan sekaligus memperkuat semangat gotong royong di tengah masyarakat,” ujarnya.
Selain menghadirkan pertunjukan musik akustik dan hiburan bernuansa klasik, festival juga menjadi ruang promosi bagi sekitar 60 pelaku UMKM. Berbagai produk makanan, minuman, hingga kerajinan ditampilkan dengan konsep dan kemasan bergaya tempo dulu sehingga menghadirkan pengalaman berbeda bagi pengunjung.
Salah satu tokoh masyarakat yang hadir, Mbok Nurul, mengapresiasi inisiatif warga dalam menyelenggarakan festival tersebut. Menurutnya, kegiatan seperti ini mampu menjaga identitas budaya lokal sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat.
“Malang merupakan kota yang kaya akan sejarah, budaya, dan kuliner. Semua itu harus terus dijaga. Festival ini bukan hanya memperkuat identitas daerah, tetapi juga menjadi peluang bagi UMKM untuk berkembang dan menarik kunjungan masyarakat,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Mbok Nurul juga menyempatkan diri berkeliling kawasan festival, menyapa warga, serta mencicipi berbagai kuliner tradisional yang dijajakan para pelaku UMKM. Ia berpesan kepada generasi muda agar terus mencintai seni dan budaya lokal sebagai bagian dari warisan yang harus dilestarikan.
Sementara itu, Ketua Panitia Satria Adi Nugroho mengaku tidak menyangka antusiasme masyarakat begitu besar sejak hari pertama penyelenggaraan. Menurutnya, keberhasilan festival ini menjadi bukti kuatnya semangat kebersamaan warga.
“Antusiasme warga sangat luar biasa. Kami berharap Festival Tunjungsekar Tempo Doeloe bisa menjadi agenda tahunan sehingga tidak hanya dikenal sebagai pusat kuliner, tetapi juga sebagai kawasan yang mampu menjaga nilai sejarah dan budaya di Kota Malang,” ungkapnya.
Di tempat yang sama, Farmasi, selaku tim kreator festival, mengungkapkan bahwa gagasan menghadirkan kampung bertema tempo dulu sebenarnya telah dirancang sejak sekitar tiga tahun lalu. Ia berharap festival ini mampu menjadi ikon baru yang membanggakan warga Tunjungsekar.
“Kami ingin membuktikan bahwa dari lingkungan kampung pun bisa lahir sebuah destinasi kreatif yang dikenal luas. Harapannya, Tunjungsekar semakin maju, menjadi tujuan wisata budaya, sekaligus mengangkat potensi masyarakat melalui kreativitas dan kebersamaan,” tuturnya.




















