Ekonomi Bisnis

Sarung Goyor Jombang Laris Jelang Haji 2026, Perajin Keluhkan Cuaca Tak Menentu

6
×

Sarung Goyor Jombang Laris Jelang Haji 2026, Perajin Keluhkan Cuaca Tak Menentu

Share this article
Sarung Goyor Jombang Laris Jelang Haji 2026, Perajin Keluhkan Cuaca Tak Menentu
Kerajinan sarung goyor di Penggaron Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang.(foto:sudutkota.id/lok)

Sudutkota.id – Perajin sarung goyor di Jombang, Jawa Timur, mulai kebanjiran pesanan menjelang musim haji 2026.

Meski tidak seramai Ramadan, peningkatan permintaan untuk kebutuhan oleh-oleh dan souvenir jemaah haji kembali menggerakkan aktivitas produksi di Dusun Penggaron, Desa Penggaron, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang.

Suara khas alat tenun bukan mesin (ATBM) terdengar bersahutan, memecah suasana tenang di kampung tenun Dusun Penggaron, Rabu (6/5/2026).

Bunyi “tak-tak-tak” itu berasal dari rumah produksi milik Siti Khoirumah (41), salah satu perajin sarung goyor di Jombang.

Tangan para pekerja tampak cekatan mengatur helaian benang. Mereka sesekali memeriksa pola yang mulai membentuk motif khas sarung goyor. Di sudut ruangan, tumpukan pesanan terlihat siap dikirim ke berbagai daerah.

Memasuki musim haji 2026, permintaan sarung goyor Jombang kembali meningkat, terutama untuk kebutuhan souvenir jemaah. Kondisi ini menjadi angin segar bagi para perajin agar usaha mereka tetap berjalan.

“Alhamdulillah, musim haji ini tetap ada peningkatan pesanan, terutama untuk souvenir. Memang tidak sebanyak Ramadan, tapi tetap ramai,” ujar Siti.

Dalam sepekan, rumah produksi tersebut mampu menghasilkan sekitar 15 potong sarung goyor. Harga jualnya mulai Rp250 Ribu per lembar, tergantung motif dan bahan.

Proses pembuatan sarung goyor masih dilakukan secara tradisional menggunakan ATBM. Mulai dari pewarnaan benang, penjemuran, hingga proses menenun membutuhkan ketelitian dan waktu yang tidak singkat.

Cuaca menjadi salah satu kendala utama dalam produksi. Saat hujan turun, proses pengeringan benang menjadi lebih lama sehingga berdampak pada jumlah produksi.

“Kendala terbesar memang cuaca. Kalau hujan terus, proses pewarnaan dan pengeringan jadi lebih lama,” jelasnya.

Sarung goyor khas Jombang dikenal memiliki kualitas unggulan. Bahannya nyaman digunakan dalam berbagai kondisi cuaca.

“Kalau udara dingin terasa hangat, kalau panas justru terasa adem,” kata Siti.

Selain sarung, para perajin juga memproduksi berbagai jenis kain seperti selendang, songket, dan kain meteran. Kain dengan pewarna alami dijual lebih mahal, bahkan bisa mencapai di atas Rp200 Ribu per meter.

“Untuk kain berbahan sintetis dibanderol sekitar Rp100 Ribu per meter,” paparnya.

Produk sarung goyor dari Dusun Penggaron tidak hanya dipasarkan di Jombang, tetapi juga telah menembus berbagai daerah seperti Kalimantan, Banyumas, hingga sejumlah pondok pesantren.

Di tengah gempuran produk tekstil pabrikan, para perajin tetap bertahan menjaga warisan budaya tenun tradisional. Aktivitas alat tenun yang terus berbunyi menjadi simbol bahwa tradisi ini masih hidup dan terus dilestarikan.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *