Ekonomi Bisnis

Kulit Bantul Punya Kualitas, Regenerasi Perajin dan Akses Pasar Masih Jadi Pekerjaan

9
×

Kulit Bantul Punya Kualitas, Regenerasi Perajin dan Akses Pasar Masih Jadi Pekerjaan

Share this article
Kulit Bantul Punya Kualitas, Regenerasi Perajin dan Akses Pasar Masih Jadi Pekerjaan
GKR Hemas meninjau produksi kerajinan kulit di CV Djoen Leather, Bantul.(Sudutkota.id/DPD)

JAKARTA, Sudutkota.id – Kerajinan kulit Bantul memiliki potensi untuk menjangkau pasar lebih luas, tetapi kualitas produk saja belum cukup. Regenerasi perajin dan akses kepada pembeli juga menjadi tantangan yang perlu dijawab agar usaha lokal terus bertahan.

Wakil Ketua DPD RI, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas, menyoroti persoalan tersebut saat mengunjungi rumah produksi dan galeri CV Djoen Leather di Kabupaten Bantul, Kamis (29/10/2026). Ia meminta perajin memperkuat kendali mutu sekaligus menyiapkan generasi muda penerus keterampilan.

“Begitu saya lihat ada perajin kulit, sebetulnya dari produknya itu sudah bagus, mungkin perlu ditingkatkan quality control-nya. Potensi lokal apabila dikelola dengan keterampilan dan kreativitas dapat berkembang menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan menjangkau pasar yang lebih luas,” ujar GKR Hemas.

Menurut Hemas, keberlanjutan usaha tidak cukup diukur dari omzet. Peluang kerja bagi masyarakat sekitar dan pewarisan keterampilan kepada generasi muda juga perlu menjadi perhatian agar kerajinan tidak kehilangan penerus.

“Kita harus selalu melakukan regenerasi perajin. Keterampilan dan ketekunan para perajin senior harus ditularkan kepada generasi muda agar warisan keterampilan ini tetap hidup dan berkembang,” tegasnya.

Pemilik CV Djoen Leather, Harjuno Wiwoho, mengatakan usahanya dirintis pada 2015 dengan melibatkan warga sekitar sebagai tenaga kerja. Sebagian pekerja, menurutnya, mendapat pelatihan hingga mampu menjalankan pekerjaan secara mandiri.

“Sebagian besar pekerja kami adalah warga sekitar yang awalnya tidak memiliki penghasilan, lalu kami latih hingga mandiri. Tantangan saat ini memang cukup berat di tengah situasi global, namun dengan sinergi bersama pemerintah dan komunitas, kami terus berupaya menjaga roda produksi tetap berjalan,” ungkap Harjuno.

Persoalan lain muncul dari kebutuhan perajin terhadap ruang pamer bersama dan akses bertemu pembeli, terutama dari luar negeri. Kepala Disperindag DIY, Anton Raharja, menyebut dukungan yang disiapkan mencakup temu bisnis, fasilitas produksi di nDalem Kulit Jogja, ruang kolaborasi SIKKY, serta pendampingan sertifikasi mutu.

Hemas menyatakan akan membawa aspirasi pelaku usaha tersebut ke tingkat pusat melalui fungsi dan kewenangan DPD RI. Tantangannya kini bukan hanya menjaga keterampilan perajin tetap hidup, tetapi juga memastikan produk mereka memperoleh akses pasar dan peluang usaha yang berkelanjutan.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *