DaerahEkonomi Bisnis

Pedagang Hormati Keputusan Bupati Fawait soal Jam Operasional Pasar Tanjung, Minta Lokasi Bongkar Muat

7454
×

Pedagang Hormati Keputusan Bupati Fawait soal Jam Operasional Pasar Tanjung, Minta Lokasi Bongkar Muat

Share this article
Bupati Jember Muhammad Fawait bersama jajaran Forkopimda saat bertemu dengan pedagang Pasar Tanjung di Aula Dispendik Jember. (Foto: Sudutkota.id/WNP)

JEMBER, Sudutkota.id – Ada yang menarik saat Bupati Jember Dr. Muhammad Fawait, S.E., M.Sc. kembali bertemu dengan pedagang Pasar Tanjung di Aula Dinas Pendidikan (Dispendik) Jember, Jumat (2/10/2026).

Dalam pertemuan tersebut, tidak hanya pedagang yang mendukung penataan jam operasional Pasar Tanjung yang diundang. Pedagang yang tidak sepakat dengan pembagian shift waktu yang telah dibuat dan diberlakukan juga turut dihadirkan.

Pertemuan itu juga melibatkan sejumlah pendamping pedagang, di antaranya Laskar Jahanam (Jalinan Anak Manusia), MADAS, serta mahasiswa Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI).

Suasana sempat tegang ketika pedagang pikap dan bajongan bersama Laskar Jahanam menolak pemberlakuan jam operasional hingga pukul 22.00 WIB. Mereka meminta waktu operasional untuk pedagang pikap dan bajongan dapat dimulai pukul 19.00 WIB.

Namun, permintaan tersebut mendapat penolakan dari pedagang lain yang berjualan di bagian atas Pasar Tanjung.

Melihat situasi mulai memanas, Bupati Fawait meminta seluruh pedagang mencari titik temu atau jalan tengah. Namun, perbedaan pendapat masih terjadi antara pedagang bajongan dan pedagang yang berjualan di bagian atas Pasar Tanjung.

“Saya tawarkan, langsung konkret dari saya. Jam sembilan atau delapan tiga puluh?” tanya Fawait kepada pedagang yang bersitegang.

Meski telah menawarkan jalan tengah, belum tercapai kesepakatan terkait jam operasional. Fawait kemudian berdiskusi dengan jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) yang hadir untuk mengambil keputusan.

“Harus ada keputusan, tidak boleh kita enggak ada keputusan. Saya akan mengakomodasi semua. Saya putuskan, ini setuju enggak setuju adalah kesepakatan kita bersama sore hari ini: jam delapan tiga puluh (20.30), toleransi 15 menit. Begitu ya?” ujarnya.

Keputusan tersebut diambil meski tidak dapat memuaskan seluruh pihak yang hadir dalam pertemuan.

Usai pertemuan, Bupati Fawait menjelaskan penataan jam operasional serta rencana revitalisasi Pasar Tanjung.

“Tadi sudah kita putuskan, tentu keputusan itu tidak bisa menyenangkan semuanya. Tapi saya sampaikan ada kebijakan jangka pendek, menengah, dan jangka panjang. Idealnya semua pedagang bisa berjualan di dalam Pasar Tanjung, tetapi tentu kapasitas kita tidak cukup. Maka ada semacam usaha kita untuk revitalisasi pasar,” ujarnya.

Fawait berharap pembangunan pasar baru nantinya dapat menampung seluruh pedagang Pasar Tanjung.

“Mudah-mudahan nanti dengan dibangunnya pasar yang baru, semua pedagang bisa masuk ke dalam Pasar Tanjung, tidak ada satu pun yang tercecer,” lanjutnya.

Untuk pengaturan jangka pendek, pemerintah telah melakukan rekayasa lalu lintas dan mengatur jam operasional pedagang yang berjualan di dalam, di bagian bawah, maupun yang sementara masih berjualan di jalan.

“Kami bikin satgas yang melibatkan semua masyarakat dan juga jajaran Forkopimda, dari Kejaksaan, Dandim, Kapolres, dan OPD-OPD Kabupaten Jember,” ujarnya.

Menurut Fawait, para pedagang juga akan dilibatkan dalam upaya penataan tersebut.

“Yang penting ini ada ikhtiar kami untuk mencoba merangkai semua usulan yang ada. Tidak mungkin bisa memuaskan semua pihak, pasti ada yang belum puas, tetapi kita berikhtiar untuk bisa mengakomodasi dari berbagai permintaan. Mudah-mudahan ini bisa menata Pasar Tanjung dan bisa lebih baik lagi,” katanya.

Sementara itu, Ketua Laskar Jahanam Dwi Agus mengatakan pihaknya menghormati keputusan Bupati Fawait meski belum sepenuhnya memuaskan para pedagang. Menurutnya, kebijakan tersebut akan dievaluasi kembali.

Dwi Agus menilai masih ada titik temu terkait jam operasional, yakni pukul 20.00 WIB.

“Ini luar biasa. Saya mengapresiasi Pak Bupati ternyata mau bertemu dengan rakyatnya. Ya, semoga nanti ke depannya apa yang disampaikan tadi bisa sejalan,” ujarnya.

Dwi Agus juga menyatakan akan mengawal kebijakan tersebut agar tidak terjadi konflik horizontal antarpedagang.

“Kami akan mengawal bagaimana rakyat ini tidak sampai terjadi konflik horizontal. Itu yang pertama. Yang kedua, ya kita mengawal bagaimana teman-teman yang saya dampingi ini juga harus sportif. Apa yang menjadi kesepakatan tadi,” katanya.

“Saya melihat kesepakatan tadi yang disampaikan Pak Bupati, delapan tiga puluh, ditawar atau tidak, enggak bisa, sudah keputusan Bupati. Ya, kita lihat nanti,” lanjutnya.

Sebelumnya, Dwi Agus sempat mengusulkan jam operasional pukul 20.00 WIB sebagai jalan tengah.

“Ya minimal paling tidaklah jam delapan. Dari jam tujuh mundur jam delapan. Ini sudah, menurut saya, ini solusi,” paparnya.

Dwi Agus menambahkan, seluruh pihak sebaiknya tidak mengatasnamakan kelompok tertentu dalam polemik Pasar Tanjung karena penataan tersebut menyangkut kepentingan bersama.

“Saya kira itu. Harapannya semua para pihak, sudahlah, jangan mengatasnamakan siapa,” ujarnya.

Ia menegaskan keputusan yang telah diambil harus dilaksanakan sambil dilakukan evaluasi.

“Kita jalankan delapan tiga puluh karena itu keputusan Bupati yang harus kita hormati. Kita ikuti dulu sambil melihat, sambil dievaluasi. Saya kira itu,” ujarnya.

Dalam pertemuan tersebut, pedagang juga mengusulkan penyediaan lokasi khusus untuk kegiatan bongkar muat serta fasilitas toilet.

Usulan itu disampaikan pedagang pikap dan bajongan bersama Laskar Jahanam. Usulan tersebut mendapat apresiasi dari Ketua DPRD Jember Ahmad Halim dan Wakil Ketua DPRD Jember Widarto yang turut hadir dalam pertemuan.

Bupati Fawait menyatakan setuju dengan usulan penyediaan lokasi khusus untuk bongkar muat.

“Saya setuju usulnya Ketua DPRD, Wakil Ketua DPRD, saya setuju untuk membuat pasar pembongkaran, saya setuju. Saya akan minta pertanggungjawaban beliau-beliau untuk cari dana juga di Jakarta untuk bangun pasar itu,” ujarnya.

Fawait juga menyatakan siap melengkapi kebutuhan toilet portabel di Pasar Tanjung. Menurutnya, fasilitas tersebut harus diberikan secara adil kepada pedagang di bagian bawah maupun pedagang yang berada di bagian atas.

“Kalau urusan itu boleh, tapi jangan sampai juga nanti portabelnya di jalan, yang di atas enggak ada portabelnya. Tambah makin jomplang nanti fasilitas antara di atas dengan yang di jalan. Kasihan juga pedagang yang di atas, ya. Ini sama-samalah, yang di atas, di bawah, di depan, di jalan, harus kita ayomi,” ujarnya. (*)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *