Sudutkota.id – Ambisi pemerintah mencetak sumber daya manusia (SDM) unggul menuju Indonesia Emas 2045 dinilai tidak akan tercapai jika pembangunan pendidikan berhenti pada jenjang dasar dan menengah. Di tengah masih rendahnya daya saing riset, kualitas lulusan, serta keterbatasan dukungan terhadap dosen dan talenta sains, DPR mengingatkan bahwa pendidikan tinggi harus menjadi prioritas strategis negara.
Peringatan itu mengemuka dalam rapat kerja Komisi X DPR RI bersama Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) terkait persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga (RKA-K/L) serta Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2027 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (17/6/2026).
Anggota Komisi X DPR RI, Ledia Hanifa Amaliah, menegaskan bahwa peningkatan kualitas SDM tidak cukup hanya mengandalkan perluasan akses pendidikan dasar dan menengah. Menurutnya, pendidikan tinggi memegang peran krusial dalam menghasilkan tenaga kerja terampil, ilmuwan, peneliti, dan inovator yang dibutuhkan untuk menjawab tantangan pembangunan nasional.
“Kita sepakati bahwa peningkatan kualitas SDM tidak bisa berhenti hanya pada pendidikan dasar dan menengah, tapi harus dengan pendidikan tinggi, memberikan peluang yang lebih besar, tentu dengan peningkatan APK, tetapi mereka juga harus dengan kualitas yang baik,” kata Ledia.
Pernyataan tersebut sekaligus menyoroti persoalan lama yang masih membayangi pendidikan tinggi nasional. Selama ini, pemerintah kerap menonjolkan capaian angka partisipasi pendidikan, namun kualitas pembelajaran, kesejahteraan dosen, kapasitas riset, hingga daya saing perguruan tinggi masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan.
Ledia menilai peningkatan akses harus berjalan beriringan dengan penguatan kualitas. Karena itu, dukungan terhadap dosen dan pengelola perguruan tinggi menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan dalam penyusunan kebijakan maupun alokasi anggaran negara.
“Berarti memberikan support kepada para dosen dan pengelola pendidikan tingginya,” ujarnya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya pengembangan talenta-talenta sains yang selama ini kerap luput dari perhatian. Padahal, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi salah satu indikator utama daya saing bangsa di tengah persaingan global yang semakin ketat.
“Oleh karenanya juga fasilitasi bagi talenta-talenta sains itu menjadi bagian yang sangat penting,” lanjut politikus PKS tersebut.
Pembahasan anggaran pendidikan tinggi tahun 2027 menjadi momentum penting bagi pemerintah untuk menunjukkan komitmen nyata dalam membangun ekosistem akademik yang sehat. Sebab tanpa dukungan anggaran yang memadai, target mencetak SDM unggul berisiko hanya menjadi slogan pembangunan yang berulang setiap tahun.
Ledia mengapresiasi berbagai pembahasan yang telah dilakukan bersama Kemendiktisaintek dalam beberapa hari terakhir. Ia berharap berbagai masukan yang disepakati dapat diterjemahkan menjadi program yang berdampak langsung terhadap peningkatan mutu pendidikan tinggi dan pengembangan SDM nasional.
“Hal-hal yang positif untuk pengembangan SDM sehingga kita bisa memastikan bahwa ekosistem pendidikan tinggi di Indonesia tumbuh bersama, berkembang bersama, memberikan dampak bersama,” tuturnya.
Dalam rapat tersebut, Komisi X DPR RI dan Kemendiktisaintek turut membahas pagu indikatif serta usulan tambahan anggaran Tahun 2027. Tambahan anggaran itu diharapkan dapat memperkuat kualitas pendidikan tinggi, memperluas dukungan bagi talenta sains, dan meningkatkan daya saing SDM Indonesia. Namun tantangan sesungguhnya bukan hanya pada besarnya anggaran, melainkan sejauh mana dana tersebut mampu diterjemahkan menjadi kebijakan yang efektif dan menghasilkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan zaman.




















