Olahraga

Derby di Atas Luka, Mahasiswa Desak Penghentian Laga Arema vs Persebaya di Kanjuruhan

18
×

Derby di Atas Luka, Mahasiswa Desak Penghentian Laga Arema vs Persebaya di Kanjuruhan

Share this article
Derby di Atas Luka, Mahasiswa Desak Penghentian Laga Arema vs Persebaya di Kanjuruhan
Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Amarah Brawijaya menyatakan sikap penolakan terhadap rencana laga Arema FC vs Persebaya di Stadion Kanjuruhan, menuntut keadilan tragedi 1 Oktober 2022 dituntaskan sebelum stadion kembali digunakan.(foto:tangkapan layar)

Sudutkota.id – Rencana laga sarat gengsi antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, 28 April 2026, kembali memantik gelombang penolakan.

Kali ini, suara keras datang dari kalangan mahasiswa yang menilai pertandingan tersebut belum layak digelar di stadion yang menjadi simbol duka nasional.

Aliansi mahasiswa Universitas Brawijaya yang tergabung dalam Amarah Brawijaya secara terbuka menyatakan sikap menolak keras penyelenggaraan derby Jawa Timur di Kanjuruhan.

Bagi mereka, keputusan ini bukan sekadar persoalan sepak bola, tetapi menyangkut nurani dan keadilan yang hingga kini dinilai belum benar-benar tuntas pasca tragedi 1 Oktober 2022.

Dalam pernyataan resminya yang diunggah melalui media sosial, aliansi tersebut mengingatkan bahwa Kanjuruhan bukan sekadar stadion. Ia adalah ruang ingatan kolektif atas salah satu tragedi paling kelam dalam sejarah sepak bola Indonesia.

“Tanah di bawah Stadion Kanjuruhan belum kering. Di sanalah ratusan nyawa melayang dalam situasi yang seharusnya aman bagi penonton,” tegas mereka, Senin (6/4/2026).

Mahasiswa menilai, rencana menggelar laga besar di lokasi tersebut berpotensi menjadi bentuk normalisasi tragedi. Alih-alih menjadi ruang refleksi, Kanjuruhan justru dikhawatirkan berubah menjadi arena yang perlahan menghapus ingatan publik atas peristiwa kelam tersebut.

Lebih dari 135 korban jiwa dalam tragedi itu, menurut mereka, bukan angka yang bisa dengan mudah dilupakan. Tragedi tersebut disebut sebagai akibat dari kegagalan sistemik mulai dari tata kelola pertandingan hingga aspek keamanan yang menempatkan jalannya kompetisi di atas keselamatan manusia.

“Ini bukan soal takdir atau bencana alam. Ini soal sistem yang gagal melindungi warganya,” kritik mereka.

Nada penolakan semakin tajam ketika aliansi menyoroti pemilihan laga derby sebagai pertandingan yang direncanakan digelar di Kanjuruhan. Derby Jawa Timur dikenal sebagai salah satu laga dengan nilai komersial tinggi, baik dari sisi penonton, siaran, hingga sponsor.

Bagi Amarah Brawijaya, pemilihan laga ini bukan kebetulan.

“Derby adalah komoditas paling laris dalam industri sepak bola. Rivalitas dijadikan mesin uang, dan Kanjuruhan yang seharusnya menjadi situs duka, kini hendak difungsikan kembali sebagai mesin produksi nilai,” tegas mereka.

Aliansi bahkan menyebut langkah ini sebagai bentuk “penguburan ingatan secara perlahan”, di mana sorak-sorai tribun berpotensi menenggelamkan memori kolektif masyarakat atas tragedi kemanusiaan yang belum sepenuhnya menemukan titik terang.

Penolakan ini kian menguat setelah digelarnya kegiatan sosialisasi dan penandatanganan nota kesepahaman terkait pengamanan laga Arema FC versus Persebaya di Pendapa Panji Kabupaten Malang, Minggu (5/4/2026) kemarin.

Dalam forum tersebut, berbagai pihak dilibatkan, mulai dari panitia pelaksana, manajemen Arema FC, Presidium Aremania, unsur kepolisian, hingga kepala daerah di Malang Raya. Namun, bagi mahasiswa, langkah tersebut justru mengabaikan persoalan utama.

“Kesepahaman yang ditandatangani hanya membahas stabilitas dan pengamanan teknis. Tidak menyentuh pertanyaan mendasar: apakah laga ini layak digelar di Kanjuruhan?” kritik mereka.

Aliansi menilai, kesepakatan tersebut cenderung menjadi formalitas administratif yang mengesampingkan aspek moral dan kemanusiaan.

“Kesepahaman di atas ketidakadilan bukanlah kesepahaman. Itu hanya kesepakatan untuk melupakan,” sindir mereka.

Dalam tuntutannya, Amarah Brawijaya secara tegas meminta sejumlah pihak untuk segera mengambil langkah konkret. Mereka mendesak PSSI, PT Liga Indonesia Baru, Pemerintah Kabupaten Malang, Polres Malang, hingga DPRD Kabupaten Malang untuk membatalkan laga tersebut.

Menurut mereka, memaksakan pertandingan di tengah belum tuntasnya proses keadilan hanya akan memperpanjang luka dan mencederai rasa keadilan bagi keluarga korban.

“Pertandingan ini bukan pemulihan. Ia berisiko menjadi pemakaman kedua bagi lebih dari 130 korban,” tegas aliansi.

Tak hanya kepada otoritas sepak bola dan pemerintah, sorotan juga diarahkan kepada manajemen Arema FC. Keputusan memilih Kanjuruhan sebagai venue derby dinilai sarat kepentingan bisnis yang berdiri di atas tragedi kemanusiaan.

“Memilih venue ini untuk laga sebesar derby adalah keputusan yang tak sensitif. Ini bukan memulihkan sepak bola, tapi memodifikasi duka,” ujar mereka.

Di sisi lain, mahasiswa juga mengingatkan masyarakat luas agar tidak larut dalam euforia pertandingan hingga melupakan peristiwa kelam yang pernah terjadi.

Mereka menegaskan, stadion tidak seharusnya kembali difungsikan sebagai arena pertandingan sebelum keadilan benar-benar ditegakkan secara utuh.

“Korban bukan sekadar angka. Mereka adalah anak, orang tua, saudara, dan sahabat yang kehilangan hidupnya di malam yang seharusnya biasa saja,” tulis mereka.

Desakan ini menjadi refleksi keras bagi seluruh pemangku kepentingan sepak bola nasional. Bahwa pemulihan tidak cukup diukur dari bergulirnya kembali pertandingan, tetapi juga dari sejauh mana keadilan ditegakkan dan ingatan kolektif dijaga.

“Tidak ada pertandingan yang lebih penting dari keadilan,” tutup pernyataan tersebut.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *