Sudutkota.id – Ancaman bencana yang dapat datang kapan saja menjadi perhatian serius Pemerintah Kecamatan Blimbing.
Tak ingin kesiapsiagaan masyarakat hanya sebatas slogan, Pemerintah Kelurahan Bunulrejo bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang kembali mengaktifkan Kelurahan Tangguh Bencana (Keltana) yang sempat vakum hampir satu tahun, Selasa (21/7/2026).
Melalui kegiatan pembentukan kembali Kelurahan Tangguh Bencana, sebanyak 21 Ketua RW, perwakilan Karang Taruna, Linmas, tokoh masyarakat, serta perangkat kelurahan dikumpulkan dalam satu forum untuk memperkuat kapasitas masyarakat dalam menghadapi berbagai potensi bencana, mulai dari gempa bumi, kebakaran, banjir, cuaca ekstrem hingga pohon tumbang.
Langkah ini menjadi penting mengingat Bunulrejo merupakan salah satu kelurahan terbesar di Kecamatan Blimbing dengan 21 RW dan 148 RT. Besarnya wilayah dan padatnya jumlah penduduk menuntut sistem kesiapsiagaan yang lebih terstruktur, cepat, dan melibatkan masyarakat sebagai garda terdepan.
Camat Blimbing, I Ketut Widi Eika Wirawan, S.Sos., M.M., mengatakan keberadaan Kelurahan Tangguh tidak boleh berhenti sebagai organisasi formal semata. Menurutnya, kader yang telah dibentuk harus benar-benar mampu menjadi motor penggerak mitigasi bencana di lingkungan masing-masing.
“Selama hampir satu tahun kegiatan Kelurahan Tangguh di Bunulrejo memang sempat vakum karena banyak pengurus yang berpindah tugas maupun bekerja di luar daerah. Namun kondisi tersebut tidak boleh berlarut. Hari ini kita hidupkan kembali agar kesiapsiagaan masyarakat semakin kuat,” ujarnya.
Ia menegaskan, tantangan ke depan bukan hanya membentuk kepengurusan baru, tetapi memastikan seluruh ilmu yang diperoleh peserta mampu diteruskan kepada warga di tingkat RW hingga RT.
“Kalau hanya selesai di ruang pelatihan, manfaatnya tentu sangat terbatas. Yang kami inginkan adalah para Ketua RW, Karang Taruna, Linmas, dan kader lainnya menjadi penyambung informasi sehingga masyarakat benar-benar memahami langkah yang harus dilakukan ketika bencana terjadi,” tegasnya.
Menurut Widi, keberhasilan penanganan bencana tidak hanya ditentukan oleh kecepatan pemerintah, tetapi juga kesiapan masyarakat dalam melakukan tindakan awal sebelum petugas tiba di lokasi.
“Beberapa menit pertama saat terjadi bencana merupakan waktu yang sangat menentukan. Karena itu masyarakat harus memiliki pengetahuan dasar mengenai evakuasi, penyelamatan, hingga koordinasi. Jangan sampai kepanikan justru memperbesar risiko korban,” katanya.
Ia juga mengapresiasi BPBD Kota Malang yang terus melakukan pendampingan kepada seluruh kelurahan agar memiliki kader tangguh yang siap diterjunkan sewaktu-waktu.
Selain itu, Widi berharap program RT Berkelas yang digagas Pemerintah Kota Malang dapat menjadi ruang untuk memperkuat budaya mitigasi bencana melalui pelatihan rutin, simulasi evakuasi, hingga edukasi kepada masyarakat di tingkat lingkungan.
Sementara itu, Lurah Bunulrejo, Winarko, mengatakan pembentukan kembali Kelurahan Tangguh merupakan bagian dari komitmen pemerintah kelurahan untuk memastikan kesiapsiagaan masyarakat tidak berhenti hanya pada kegiatan seremonial.
Menurutnya, para peserta yang terdiri dari 21 Ketua RW, Karang Taruna, Linmas, dan unsur masyarakat lainnya diharapkan mampu menjadi penggerak sekaligus ujung tombak dalam membangun budaya sadar bencana di lingkungan masing-masing.
“Kami berharap setelah kegiatan ini kader Kelurahan Tangguh kembali aktif, semakin solid, memahami tugas dan fungsinya, serta mampu menjadi motor penggerak kesiapsiagaan masyarakat. Pengetahuan yang diperoleh hari ini harus diteruskan kepada seluruh warga sehingga budaya tangguh bencana benar-benar tumbuh di setiap lingkungan,” ungkap Winarko.




















