Peristiwa

Api TPA Supiturang Masih Bersembunyi di Kedalaman 3 Meter, Asap Tebal Jadi Konsentrasi Pemadaman

10
×

Api TPA Supiturang Masih Bersembunyi di Kedalaman 3 Meter, Asap Tebal Jadi Konsentrasi Pemadaman

Share this article
Api TPA Supiturang Masih Bersembunyi di Kedalaman 3 Meter, Asap Tebal Jadi Konsentrasi Pemadaman
Kondisi kawasan TPA Supiturang Kota Malang yang masih mengeluarkan kepulan asap meski kobaran api di permukaan telah berhasil dipadamkan. Petugas gabungan masih melakukan penggalian dan penyemprotan untuk menjangkau bara api yang tertanam hingga kedalaman hampir tiga meter.(Sudutkota.id/Istimewa)

KOTA MALANG, Sudutkota.id – Proses pemadaman kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Supit Urang, Kota Malang, masih terus berlangsung hingga, Senin (2/11/2026).

Meski kobaran api di permukaan sudah tidak terlihat, kepulan asap masih muncul dari sejumlah titik. Kondisi tersebut mengindikasikan masih adanya bara api yang terjebak di bawah timbunan sampah.

Bahkan, hasil penggalian yang dilakukan petugas menemukan bara api masih bertahan hingga kedalaman hampir tiga meter di bawah tumpukan sampah. Kondisi ini membuat proses pemadaman tidak bisa hanya mengandalkan penyemprotan dari permukaan, melainkan harus disertai penguraian timbunan sampah untuk menjangkau titik api tersembunyi.

Hal tersebut disampaikan Kasatpol PP Kota Malang, Drs. Prayitno, M.A.P., saat memberikan keterangan terkait perkembangan penanganan kebakaran TPA Supiturang, Senin (2/11/2026).

“Sebetulnya tadi pagi saya berharap hujan deras di Kota Malang juga terjadi di titik Supit Urang. Namun, berdasarkan pantauan teman-teman di lapangan sekitar pukul 05.00 WIB, hujan hanya gerimis. Sehingga sampai sekarang masih terlihat kepulan asap dan tim kami tetap melakukan proses pemadaman,” ungkap Prayitno.

Ia menjelaskan, secara umum kondisi sisi barat TPA Supit Urang mulai menunjukkan perkembangan. Sekitar 98 persen area sisi barat, dari utara hingga selatan, dilaporkan sudah berhasil dipadamkan. Bahkan, penanganan telah menjangkau hingga radius sekitar 500 meter dari sisi paling barat.

Namun, kondisi berbeda masih terlihat di bagian tengah dan timur TPA. Kepulan asap di kawasan tersebut masih cukup tebal dan menjadi titik konsentrasi penanganan petugas.

“Teman-teman mulai Sabtu hingga Minggu melakukan pemadaman di titik-titik api yang berada di sisi tengah dan timur. Untuk titik tengah, asapnya masih tebal. Ini menjadi indikasi bahwa masih ada api di bawah permukaan, bisa satu sampai dua meter. Tetapi dari hasil uji petik kemarin, ternyata ada yang kedalamannya hampir tiga meter,” jelasnya.

Menurut Prayitno, pola penanganan dilakukan dengan membagi tugas antara petugas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan pemadam kebakaran. Petugas DLH bertugas menggali serta mengurai tumpukan sampah yang masih mengeluarkan asap, sedangkan petugas Damkar melakukan penyemprotan untuk mematikan bara api di dalamnya.

“Jadi teman-teman DLH menggali titik yang diperkirakan masih ada bara api. Kemudian teman-teman Damkar menyemprot dan mematikan apinya. Untuk hari ini, titik tengah masih menjadi konsentrasi kami,” tegasnya.

Selain memadamkan bara api, petugas juga melakukan upaya menekan kepulan asap di sisi utara. Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi pergerakan asap yang berpotensi mengarah ke kawasan permukiman dan menyebabkan masyarakat terpapar.

Prayitno menegaskan, persoalan asap tidak bisa dianggap sepele. Selain menghambat pergerakan petugas, asap dari kebakaran sampah juga berpotensi menimbulkan dampak kesehatan bagi masyarakat di sekitar kawasan TPA.

“Untuk sisi utara, kami melakukan upaya menekan asap supaya tidak terus muncul. Sebab, pergerakan asap ini bisa mengarah ke wilayah masyarakat. Kami khawatir dampak kesehatannya juga terjadi apabila warga terpapar,” terangnya.

Di sisi lain, proses pemadaman juga menjadi bahan evaluasi penting terkait kesiapan infrastruktur penanganan kebakaran di TPA Supit Urang. Salah satu persoalan yang disoroti adalah akses jalan menuju titik-titik kebakaran yang dinilai belum mendukung manuver kendaraan pemadam secara optimal.

Menurutnya, jalur akses di kawasan TPA perlu dirancang melingkar agar kendaraan pemadam dan unit pendukung dapat menjangkau lokasi kebakaran dari berbagai sisi.

“Kemarin ketika kami berupaya memadamkan api di sisi paling barat, aksesnya cukup sulit. Asap tebal dari bagian utara, tengah, dan selatan mengalir ke utara. Kalau dipaksakan menerobos asap, tentu berisiko bagi keselamatan tim,” paparnya.

Ia menambahkan, keterbatasan akses membuat petugas harus mengubah strategi. Tim yang semula berupaya masuk dari sisi selatan akhirnya harus mencari jalur alternatif melalui sisi utara untuk menjangkau bagian paling barat TPA.

Karena itu, pihaknya mengusulkan kepada organisasi perangkat daerah (OPD) terkait agar dilakukan penataan dan perluasan akses jalan, baik di sisi utara, tengah maupun selatan.

“Ini masih kami usulkan kepada teman-teman OPD, terutama yang berada di lapangan. Kami sempat berdiskusi bahwa memang perlu ada jalan untuk mitigasi. Dengan begitu, manuver tim Damkar ketika melakukan pemadaman bisa lebih leluasa dan efektif,” ujarnya.

Prayitno juga menilai, pembangunan akses tersebut perlu dipersiapkan sebagai langkah pencegahan jangka panjang. Sebab, ketika kebakaran masih dalam skala kecil, petugas seharusnya bisa lebih cepat menjangkau titik api sebelum merambat dan meluas.

“Kalau tahun depan jalur selatan sudah tersedia, ketika ada percikan api dan masih berdiameter sekitar 50 sampai 100 meter, unit pemukul bisa segera masuk. Kalau aksesnya jauh, perjalanan dari jalan pinggir menuju lokasi bisa membutuhkan waktu sekitar 45 menit. Ketika sampai, api bisa telanjur membesar,” bebernya.

Selain akses jalan, ia mengusulkan penempatan instalasi penampungan air atau tandon di dekat area rawan kebakaran. Fasilitas tersebut dapat didukung kendaraan berkapasitas tangki dan pompa agar kebutuhan air untuk pemadaman lebih cepat terpenuhi.

Dalam penanganan saat ini, dukungan lintas instansi juga terus diperkuat. Prayitno menyebut, pihaknya mendapat bantuan dari Damkar Kabupaten Malang untuk mendukung tim pemukul sekaligus suplai air.

Sementara itu, petugas DLH dan Damkar tetap bersinergi mengurai serta memadamkan bara api yang berada di dalam tumpukan sampah.

“Teman-teman Damkar menggunakan tekanan air minimal delapan bar agar bisa menembus lapisan sampah yang diperkirakan masih menyimpan bara api. Jadi memang harus dilakukan secara bersama-sama, karena titik api tidak semuanya berada di permukaan,” ungkapnya.

Dukungan juga datang dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang membantu menyiapkan aliran sungai di sekitar kawasan TPA menjadi semacam bendung kecil atau mini dam. Langkah ini dilakukan agar air bisa disedot dari lokasi yang lebih dekat sehingga mobil pemadam tidak harus bergantung pada sumber air yang jauh.

“Dengan adanya mini dam itu, empat sampai enam mobil pemadam bisa bergantian mengambil air. Jadi ada beberapa pilihan titik pengambilan air yang lebih dekat dengan lokasi pemadaman,” jelasnya.

Ia turut menyampaikan apresiasi kepada Gubernur Jawa Timur dan BPBD Provinsi Jawa Timur atas dukungan helikopter untuk membantu proses penanganan kebakaran.

Menurutnya, pemadaman TPA Supiturang membutuhkan keterlibatan berbagai unsur, mengingat bara api yang tertanam jauh di bawah timbunan sampah membutuhkan penanganan teknis dan waktu lebih panjang.

Kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu Gubernur dan BPBD Provinsi yang telah mengirimkan helikopter untuk mendukung penanganan ini. Pemadaman tidak bisa hanya dilakukan sendiri, tetapi harus bersama-sama dengan instansi lainnya,” pungkas Prayitno.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *