Sudutkota.id – Wakil Wali Kota Malang Ali Muthohirin menegaskan bahwa sektor ekonomi kreatif (ekraf) di Kota Malang harus mampu naik kelas dan memberikan dampak nyata terhadap pertumbuhan ekonomi daerah, bukan sekadar ramai saat penyelenggaraan festival.
Hal tersebut disampaikan Ali saat membuka gelaran Grasse Van Java Volume 2 di Malang Creative Center (MCC), Sabtu (20/6/2026).
Menurut Ali, festival kreatif harus menjadi ruang kolaborasi yang mampu mempertemukan ide, inovasi, riset, dan kewirausahaan dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.
“Festival ini menjadi bukti bahwa industri kreatif di Kota Malang terus berkembang dan mampu memadukan seni, riset, serta kewirausahaan dalam satu ekosistem yang saling menguatkan,” ujar Ali.
Ia menilai, perkembangan ekonomi kreatif di Kota Malang menunjukkan tren positif seiring tumbuhnya komunitas kreatif, pelaku usaha muda, serta dukungan dari perguruan tinggi, dunia usaha, pemerintah, dan media.
Namun demikian, Ali mengingatkan bahwa geliat ekonomi kreatif tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial semata. Produk dan karya kreatif yang lahir harus mampu menciptakan nilai tambah ekonomi, membuka lapangan pekerjaan, serta menembus pasar yang lebih luas.
“Grasse Van Java bukan hanya sekadar festival atau pameran karya. Ini adalah ruang kolaborasi yang mempertemukan ide, inovasi, riset, dan semangat kewirausahaan,” katanya.
Ali menegaskan, Pemerintah Kota Malang berkomitmen menciptakan iklim yang kondusif bagi pertumbuhan berbagai subsektor ekonomi kreatif, mulai dari fesyen, kriya, kuliner, aplikasi digital, musik, hingga seni pertunjukan.
Menurutnya, keberadaan Malang Creative Center menjadi salah satu bentuk nyata dukungan pemerintah dalam menyediakan ruang berekspresi sekaligus wadah pengembangan kapasitas bagi pelaku ekonomi kreatif.
“Kami ingin MCC menjadi rumah bersama bagi para pelaku ekonomi kreatif untuk bertemu, berdiskusi, berkolaborasi, hingga menghasilkan karya yang memiliki nilai tambah ekonomi,” ungkapnya.
Sebagai kota yang telah masuk dalam jejaring kota kreatif dunia, Ali menilai Malang memiliki peluang besar untuk memperluas pasar sekaligus meningkatkan daya saing produk kreatif lokal.
“Sebagai kota kreatif dunia, Kota Malang berkomitmen membuka ruang bagi pelaku ekonomi kreatif guna memperkuat jejaring, melahirkan inovasi, dan menjadikan Malang sebagai pusat gagasan kreatif yang berdaya saing global,” tegasnya.
Ali berharap penyelenggaraan Grasse Van Java dapat menjadi agenda tahunan yang mampu memperkuat jejaring antarpelaku ekonomi kreatif sekaligus mendorong lahirnya kolaborasi lintas sektor.
“Ke depan, kami ingin semakin banyak ruang kreatif yang menghadirkan kolaborasi antara seniman, peneliti, pelaku usaha, akademisi, dan komunitas. Dari kolaborasi itulah akan lahir gagasan-gagasan baru yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” pungkasnya.
Melalui penyelenggaraan Grasse Van Java Volume 2, Pemkot Malang optimistis ekosistem ekonomi kreatif akan semakin kuat dan mampu mengukuhkan posisi Kota Malang sebagai salah satu pusat ekonomi kreatif unggulan di Indonesia.




















