Ekonomi Bisnis

Dari Dapur Sederhana, Titik Sukses Kembangkan Kerupuk Samiler Luliza di Jombang, Kini Produksi 200 Kg Sehari

19
×

Dari Dapur Sederhana, Titik Sukses Kembangkan Kerupuk Samiler Luliza di Jombang, Kini Produksi 200 Kg Sehari

Share this article
Dari Dapur Sederhana, Titik Sukses Kembangkan Kerupuk Samiler Luliza di Jombang, Kini Produksi 200 Kg Sehari
Titik yang kini sukses kembangkan usaha kerupuk samiler.(Sudutkota.id/Elok Apriyanto)

JOMBANG, Sudutkota.id – Siapa sangka, usaha kerupuk samiler rumahan yang dirintis Titik Martianah (55), warga Desa Kayangan, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, kini mampu berkembang menjadi usaha dengan kapasitas produksi mencapai 200 kilogram singkong per hari.

Perjalanan panjang itu bermula pada 2011. Saat itu, Titik memiliki keinginan sederhana, yakni meneruskan usaha kerupuk samiler yang sebelumnya dirintis oleh orang tuanya.

Dengan peralatan seadanya, perempuan berusia 55 tahun tersebut mulai memproduksi kerupuk samiler dari rumah. Jumlah bahan baku yang diolah pun masih sangat terbatas, hanya sekitar 10 kilogram singkong setiap hari.

Namun, keterbatasan modal dan peralatan tidak membuatnya menyerah. Titik terus menjalankan usaha tersebut sembari berupaya meningkatkan kualitas dan jumlah produksi.

Kerupuk samiler sendiri merupakan salah satu camilan tradisional berbahan dasar singkong. Proses pembuatannya membutuhkan sejumlah tahapan, mulai dari mengupas dan mencuci singkong, menggilingnya hingga halus, mencampurkan bumbu, mengukus adonan, membentuk kerupuk, hingga menjemurnya sampai kering.

Dari proses sederhana itulah, Titik menghasilkan dua varian kerupuk samiler, yakni rasa original dan pedas.

Keinginan untuk mengembangkan usaha semakin kuat ketika permintaan pasar mulai membuka peluang lebih besar. Sayangnya, keterbatasan peralatan dan modal menjadi salah satu kendala yang harus dihadapi.

Titik kemudian mencari solusi dengan mengakses pembiayaan perbankan. Kesempatan itu datang pada 2018 ketika dirinya mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) melalui BRI Unit Diwek.

Pengajuan pinjaman sebesar Rp25 juta tersebut disetujui. Dana itu langsung dimanfaatkan untuk membeli mesin penggiling singkong dan sejumlah peralatan penunjang produksi.

Hasilnya mulai terlihat. Kapasitas produksi yang sebelumnya hanya 10 kilogram singkong per hari meningkat menjadi 50 hingga 60 kilogram.

“Awalnya produksi saya masih sedikit, sekitar 10 kilogram singkong sehari. Setelah mendapatkan pinjaman dari BRI, uangnya saya gunakan untuk membeli mesin giling dan peralatan produksi. Alhamdulillah, produksi bisa meningkat menjadi 50 sampai 60 kilogram sehari,” ungkap Titik.

Bahkan, dalam waktu sekitar satu tahun, Titik berhasil melunasi pinjaman pertamanya.

Perjalanan usaha yang semakin berkembang membuat Titik semakin percaya diri untuk memperbesar kapasitas produksi. Jumlah pekerja yang awalnya terbatas pun bertambah hingga mencapai 25 orang.

Pada 2020, dia kembali mengajukan pembiayaan KUR BRI. Kali ini, pinjaman sebesar Rp160 juta diperoleh untuk membangun gedung produksi di belakang rumahnya.

Bangunan tersebut menjadi langkah penting dalam perjalanan usaha kerupuk samiler Luliza. Dengan tempat produksi yang lebih luas, proses pengolahan singkong bisa dilakukan secara lebih leluasa dan kapasitas produksi meningkat hingga 200 kilogram singkong setiap hari.

Dari usaha rumahan yang awalnya hanya mengandalkan peralatan sederhana, kerupuk samiler Luliza kini mulai menjangkau pasar yang lebih luas.

Produk buatan Titik telah dipasarkan ke berbagai daerah di Jawa Timur, mulai Blitar, Sidoarjo, Tuban, Pasuruan, hingga Surabaya.

Kerupuk samiler original dijual dengan harga Rp35 ribu per kilogram, sedangkan varian pedas dibanderol Rp38 ribu per kilogram.

Meski kapasitas produksi terus meningkat, Titik tidak berhenti memikirkan bagaimana membuat usahanya semakin efisien. Salah satu persoalan yang menjadi perhatiannya adalah pengadaan bahan baku singkong.

Selama ini, kebutuhan singkong untuk produksi masih diperoleh melalui tengkulak dengan harga sekitar Rp3.200 per kilogram.

Padahal, jika bisa membeli langsung dari petani, harga singkong diperkirakan hanya sekitar Rp2.500 per kilogram. Selisih harga tersebut menjadi peluang untuk menekan biaya produksi.

Atas pertimbangan itu, pada 2024 Titik kembali mengajukan pembiayaan KUR BRI setelah pinjaman sebelumnya berhasil dilunasi. Dia memperoleh pinjaman sebesar Rp110 juta.

Kali ini, dana tersebut digunakan untuk membeli mobil pikap yang akan menunjang pengangkutan singkong secara langsung dari petani.

“Selama ini saya membeli singkong dari tengkulak dengan harga sekitar Rp3.200 per kilogram. Kalau bisa membeli langsung dari petani, harganya sekitar Rp2.500 per kilogram. Karena itu, saya membutuhkan mobil pikap agar lebih mudah mengambil singkong langsung dari petani,” jelasnya.

Bagi Titik, tambahan modal bukan sekadar untuk memperbesar usaha. Lebih dari itu, pembiayaan yang diperoleh secara bertahap membantunya memenuhi kebutuhan pengembangan bisnis sesuai dengan kondisi dan peluang yang dihadapi.

Mulai dari membeli mesin penggiling, membangun tempat produksi, hingga menyediakan kendaraan operasional untuk pengadaan bahan baku.

Dia mengaku bersyukur karena selama mengembangkan usaha kerupuk samiler, seluruh kebutuhan tambahan modalnya diperoleh melalui pembiayaan BRI. Dirinya juga mengaku belum pernah mengajukan pinjaman ke bank lain.

“Alhamdulillah, usaha saya bisa berkembang seperti sekarang berkat bantuan pinjaman dari BRI. Saya merasa terbantu karena proses pengajuannya mudah, cepat, dan pelayanannya juga baik. Bunganya juga terjangkau sehingga tidak terlalu memberatkan,” tutur Titik.

Kini, usaha yang dahulu dimulai dari rumah dengan bahan baku hanya 10 kilogram singkong per hari telah tumbuh menjadi usaha kerupuk samiler dengan kapasitas produksi mencapai 200 kilogram sehari.

Perjalanan Titik Martianah menjadi bukti bahwa usaha kecil yang berangkat dari keinginan meneruskan usaha keluarga memiliki peluang untuk berkembang. Ketekunan, keberanian mengambil peluang, serta dukungan permodalan menjadi bagian dari perjalanan panjangnya membangun usaha.

Dari Desa Kayangan, Kecamatan Diwek, kerupuk samiler merek Luliza kini tidak hanya menjadi sumber penghidupan keluarga, tetapi juga membuka kesempatan kerja bagi 25 orang dan memperluas jangkauan produk tradisional Jombang ke sejumlah daerah di Jawa Timur.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *