KOTA MALANG, Sudutkota.id – Predikat Pramuka Garuda di Kota Malang diharapkan tidak berhenti pada kepemilikan sertifikat maupun medali. Para penerimanya dituntut mampu menunjukkan karakter, kemandirian serta menjadi teladan di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Ketua Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Kota Malang, Ginanjar Yoni Wardoyo, usai memberikan medali Pramuka Garuda kepada putrinya sendiri dalam rangkaian kegiatan di Stadion Gajayana, Kota Malang.
Menurut Ginanjar, penganugerahan Pramuka Garuda merupakan salah satu program unggulan tahunan Kwarcab Kota Malang. Proses untuk mendapatkannya dilakukan melalui seleksi, sehingga peserta yang dinyatakan lolos memang memiliki kecakapan dan kapasitas sesuai standar kepramukaan.
“Ini program unggulan dan program tahunan kita untuk mencetak output Pramuka yang memiliki kualitas dan kapasitas sesuai dengan kecakapannya,” ujar Ginanjar.
Tahun ini, jumlah Pramuka Garuda yang tersertifikasi mencapai 1.280 orang, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang jumlahnya masih ratusan. Mereka berasal dari berbagai tingkatan, mulai Siaga, Penggalang, Penegak hingga Pandega.
Ginanjar menegaskan, predikat tersebut membawa tanggung jawab moral. Para Pramuka Garuda harus mampu menjadi contoh bagi teman-temannya dan lingkungan sekitar.
“Harapannya, mereka bisa menjadi teladan di lingkungan, di sekolah maupun di masyarakat. Nilai semangat kebangsaan, gotong royong, kemandirian dan kedewasaan harus bisa ditanamkan kepada teman-temannya,” tegasnya.
Proses seleksi Pramuka Garuda di Kota Malang melibatkan lima Kwartir Ranting (Kwarran), yakni Blimbing, Klojen, Kedungkandang, Sukun dan Lowokwaru.
Kwarran diberikan kewenangan menangani proses pendaftaran hingga seleksi administrasi dan teknis. Sementara Kwarcab melakukan monitoring untuk memastikan tahapan berjalan sesuai ketentuan.
Persyaratan peserta mencakup kelengkapan administrasi kepramukaan maupun data sekolah dan pangkalan. Selanjutnya, peserta mengikuti seleksi teknis berdasarkan kecakapan kepramukaan dan tanda kecakapan yang dimiliki.
Bagi Ginanjar, para Pramuka Garuda nantinya juga menjadi salah satu kekuatan utama dalam berbagai kegiatan organisasi.
“Ini sebenarnya garda terdepan kita. Ketika ada kegiatan pengabdian masyarakat maupun kegiatan teknis internal kepramukaan, resource Garuda ini yang menjadi andalan,” jelasnya.
Tak hanya penghargaan, predikat Pramuka Garuda juga mulai memiliki nilai strategis dalam pendidikan. Ginanjar mengungkapkan, pihaknya telah membangun sinergi dengan Dinas Pendidikan terkait peluang bagi pemilik sertifikasi Pramuka Garuda untuk mengikuti jalur non-akademik dalam penerimaan peserta didik.
Ke depan, Kwarcab Kota Malang juga berencana menjajaki kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi, termasuk Universitas Muhammadiyah Malang dan Universitas Brawijaya, agar prestasi kepramukaan dapat menjadi salah satu jalur pertimbangan penerimaan mahasiswa baru.
“Kita juga akan melakukan MoU kalau bisa. Seperti yang sudah dilakukan Unesa Surabaya, ada jalur khusus kepramukaan, bahkan beasiswa,” katanya.
Ginanjar menilai penguatan pendidikan kepramukaan penting untuk membangun karakter generasi muda di tengah berbagai tantangan sosial, termasuk narkoba, bullying dan pengaruh negatif lainnya.
Menurutnya, Pramuka dapat menjadi salah satu instrumen pendidikan nonformal untuk membentuk SDM Kota Malang yang tangguh, mandiri dan berkarakter.
Sementara itu, pemilihan Stadion Gajayana sebagai lokasi kegiatan juga memiliki makna tersendiri. Momentum tersebut sekaligus mengangkat semangat satu abad Stadion Gajayana sebagai bagian dari sejarah Kota Malang.
“Semangat Gajayana menginspirasi adik-adik Pramuka Kota Malang. Bagaimana stadion ini dengan perjalanan panjang dan penuh sejarah tetap berdiri kokoh dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” pungkas Ginanjar.





















