Nasional

Kekurangan Dosen Saintek Jadi Hambatan UIN Banten Menuju World Class University

11
×

Kekurangan Dosen Saintek Jadi Hambatan UIN Banten Menuju World Class University

Share this article
Kekurangan Dosen Saintek Jadi Hambatan UIN Banten Menuju World Class University
Anggota Komisi VIII DPR RI Hetifah Sjaifudian saat melakukan kunjungan kerja spesifik ke UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.(Foto:sudutkota.id/dok. DPR RI)

JAKARTA, Sudutkota.id – Target Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin Banten menuju world class university masih menghadapi persoalan mendasar. Pengembangan program studi sains dan teknologi (Saintek) terkendala keterbatasan jumlah dosen, yang pada saat bersamaan harus menanggung beban pengajaran di kampus.

Kondisi tersebut membuat ruang bagi dosen untuk meningkatkan kualifikasi akademik menjadi semakin terbatas. Kesempatan melanjutkan pendidikan, termasuk ke perguruan tinggi di luar negeri, menjadi sulit dilakukan karena kampus masih membutuhkan tenaga pengajar yang tersedia.

Persoalan itu mencuat dalam kunjungan kerja spesifik Komisi VIII DPR RI ke UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Jum’at (21/8/2026). Anggota Komisi VIII DPR RI Hetifah Sjaifudian mengatakan keterbatasan tersebut terutama terjadi pada sejumlah program studi umum yang relatif baru.

“Tentu saja kami mendengar banyak aspirasi, termasuk kekurangan-kekurangan, khususnya pada prodi-prodi umum. Ada prodi Saintek yang masih baru dan sangat kekurangan dosen terkait. Sehingga dosen-dosen yang ada sangat sulit untuk bisa melanjutkan studi, khususnya ke luar negeri, karena mereka masih kekurangan,” ujar Hetifah.

Menurutnya, persoalan sumber daya manusia tersebut tidak berdiri sendiri. Komisi VIII juga menerima aspirasi mengenai keterbatasan fasilitas penunjang pembelajaran, termasuk laboratorium yang dibutuhkan untuk pengembangan program studi Saintek.

Di sisi lain, akses mahasiswa dari keluarga kurang mampu terhadap pendidikan tinggi juga menjadi perhatian. Hetifah menyebut kuota beasiswa Program Indonesia Pintar (KIP) yang tersedia masih terbatas, sehingga belum seluruh mahasiswa yang membutuhkan dapat terlayani.

“Kemudian juga terkait dengan sarana seperti laboratorium. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana agar mahasiswa-mahasiswa yang termasuk kategori sangat membutuhkan secara ekonomi bisa terlayani, karena jumlah beasiswa KIP yang tersedia sangat terbatas,” katanya.

Meski menghadapi sejumlah kendala, Hetifah melihat perkembangan kualitas akademik UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten mulai menunjukkan arah positif. Peningkatan jumlah guru besar dan doktor, serta perkembangan hasil riset, dinilai menjadi modal penting bagi kampus untuk memperkuat kualitas akademiknya.

“Dari sisi pengajar atau sumber daya manusianya juga mulai banyak peningkatan ke arah baik, guru besar maupun para doktor. Hasil-hasil risetnya pun menunjukkan satu kemajuan yang luar biasa,” tutur Hetifah.

Namun, capaian tersebut perlu diikuti dengan penguatan fondasi pendidikan tinggi. Kekurangan dosen, keterbatasan laboratorium, hingga akses beasiswa menjadi pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan agar peningkatan kualitas tidak berhenti pada capaian akademik semata.

Hetifah berharap aspirasi yang disampaikan dalam kunjungan tersebut dapat ditindaklanjuti sehingga pengembangan UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten berjalan lebih terarah.

“Mudah-mudahan dari kunjungan hari ini akan ada berbagai tindak lanjut yang diperlukan untuk memastikan bahwa UIN Sultan Maulana Hasanuddin semakin maju dan pendidikan ataupun layanan yang diberikan semakin bermutu,” pungkasnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *