Daerah

Novita Hardini: Pisang Cavendish Bisa Jadi Pintu Kebangkitan Ekonomi Ponorogo

14
×

Novita Hardini: Pisang Cavendish Bisa Jadi Pintu Kebangkitan Ekonomi Ponorogo

Share this article
Novita Hardini: Pisang Cavendish Bisa Jadi Pintu Kebangkitan Ekonomi Ponorogo
Anggota DPR RI Komisi VII Fraksi PDI Perjuangan, Novita Hardini berdialog dengan warga Desa Bringinan, Kecamatan Jambon, Ponorogo, sekaligus mendorong pengembangan pisang Cavendish sebagai salah satu upaya memperkuat ekonomi masyarakat desa.(Foto:sudutkota.id/Staf)

PONOROGO, Sudutkota.id – Anggota DPR RI Komisi VII Fraksi PDI Perjuangan, Novita Hardini, menyerap aspirasi warga Desa Bringinan, Kecamatan Jambon, Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (15/8/2026) malam.

Selain mendengar keluhan soal infrastruktur jalan dan penerangan, Novita melihat potensi ekonomi desa yang dinilai bisa dikembangkan melalui budidaya pisang Cavendish.

“Insyaallah semua ditampung,” kata Novita di hadapan warga. Menurutnya, persoalan ekonomi desa tidak cukup dijawab dengan bantuan sesaat. Potensi lokal harus diolah menjadi sumber pendapatan yang berkelanjutan. Karena itu, ia turut memberikan dukungan bibit pisang Cavendish kepada masyarakat.

Novita mengapresiasi Kepala Desa Bringinan, Barno, yang mengembangkan pemberdayaan tersebut di tengah keterbatasan anggaran desa. Ia menilai model ekonomi berbasis potensi lokal tak harus dimulai dari proyek besar. Bahkan, beberapa batang pisang yang ditanam di lahan warga dapat menjadi pintu masuk untuk menambah pendapatan keluarga.

“Dengan anggaran desa yang terbatas, Mbah Barno mampu menghadirkan gagasan yang segar dan out of the box. Pisang Cavendish menjadi salah satu solusi pemberdayaan di tengah kondisi ekonomi, sosial, dan politik hari ini,” ujar Novita.

Barno menjelaskan, budidaya Cavendish mulai dikembangkan sejak 2024 dengan anggaran sekitar Rp3,5 Juta untuk pengadaan benih dan pelatihan warga. Skemanya dibuat sederhana. Warga cukup menanam sekitar dua hingga lima batang. Kini tanaman tersebut mulai berbuah dan memberikan tambahan pendapatan bagi sejumlah keluarga.

“Alhamdulillah di Bringinan berhasil. Dengan adanya program ini, ekonomi keluarga ikut meningkat,” ujarnya.

Pemerintah desa bahkan mendorong warga menggunakan sebagian hasil penjualan pisang untuk membayar pajak. Namun, keberhasilan awal itu tetap menyisakan pekerjaan rumah: memastikan produktivitas, pasar, biaya produksi, dan harga jual agar program tidak berhenti sebatas pembagian bibit atau seremoni penanaman.

Novita berharap model Bringinan dapat direplikasi di desa lain di Ponorogo. Menurutnya, yang perlu diperluas bukan sekadar budidaya pisang, melainkan model pemberdayaan yang mampu mengubah potensi lokal menjadi sumber pendapatan warga.

“Kalau ini bisa ditularkan dan dilaksanakan di desa-desa lain, tentu dapat menjadi salah satu pintu kebangkitan ekonomi Kabupaten Ponorogo,” tegasnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *