Sudutkota.id – Memasuki hari keempat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), upaya gabungan yang melibatkan personel darat dan dukungan pemadaman melalui udara mulai membuahkan hasil.
Kobaran api yang sempat menghanguskan kawasan Blok Bantengan hingga lereng Cemoro Anget, wilayah Pos Jemplang, akhirnya berhasil dikendalikan, Jumat (7/8/2026).
Meski kondisi sudah jauh lebih kondusif, petugas gabungan belum menghentikan operasi. Seluruh unsur yang terlibat masih melakukan patroli, pemantauan, dan pendinginan untuk mengantisipasi munculnya titik api baru akibat bara yang masih tersisa di dalam kawasan hutan.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Malang, Purwoto, S.Sos., M.Si., saat dikonfirmasi SudutKota.id membenarkan bahwa kondisi kebakaran di wilayah Kabupaten Malang telah berhasil dikendalikan.
“Api di wilayah Kabupaten Malang saat ini sudah bisa dikendalikan. Namun kami tetap melakukan pemantauan bersama seluruh unsur terkait agar tidak terjadi penyalaan kembali,” ujar Purwoto.
Berdasarkan laporan perkembangan lapangan hingga pukul 17.10 WIB, kondisi mulai membaik sejak dini hari. Pada pukul 02.00 WIB, kawasan Blok Bantengan dan lereng Cemoro Anget yang berada di bawah Pos Jemplang sudah tidak lagi memperlihatkan kobaran api. Kawasan tersebut hanya diselimuti kabut pegunungan.
Selanjutnya pada pukul 07.00 WIB, hasil pemantauan kembali memastikan tidak terlihat titik api maupun kepulan asap di lokasi yang sebelumnya menjadi pusat kebakaran. Meski demikian, petugas tetap melakukan pengawasan karena kondisi cuaca yang kering masih berpotensi memicu kebakaran kembali.
Operasi pemadaman dari udara sempat mengalami perubahan rencana. Sekitar pukul 11.10 WIB, dua unit helikopter Bell 412 milik TNI Angkatan Laut diterbangkan untuk melakukan survei titik api sekaligus menguji kesiapan bucket atau tandon air yang akan digunakan dalam operasi water bombing.
Namun setelah dilakukan peninjauan dari udara, kedua helikopter tersebut tidak jadi melakukan penyiraman. Berdasarkan hasil evaluasi teknis di lapangan, ukuran tandon air dinilai terlalu besar sehingga kurang efektif digunakan pada medan kebakaran di kawasan pegunungan TNBTS. Kedua helikopter kemudian kembali ke Surabaya.
Operasi pemadaman selanjutnya diambil alih oleh helikopter Super Puma milik BPBD. Pada pukul 16.01 WIB, helikopter tersebut melaksanakan water bombing di lereng Jantur, Kabupaten Probolinggo. Pasokan air diambil dari Danau Ranupane, Kabupaten Lumajang, yang menjadi titik pengambilan air terdekat dengan lokasi kebakaran sehingga mempercepat siklus penerbangan.
Rangkaian penyiraman dari udara tersebut dinilai efektif membantu memadamkan titik-titik api yang masih tersisa di kawasan hutan. Hingga pukul 17.10 WIB, api dinyatakan berhasil dikendalikan. Setelah menyelesaikan misi, helikopter Super Puma kemudian bersiaga di Lanud Abdulrachman Saleh, Pakis, Kabupaten Malang, sebagai langkah antisipasi apabila kembali diperlukan operasi udara.
Sementara itu, berdasarkan data sementara dari Karesort Trisula, Ibung Kusriadi, luas kawasan hutan yang terdampak kebakaran di wilayah Kabupaten Malang diperkirakan mencapai ±4 hektare. Pendataan masih terus dilakukan untuk memastikan luas akhir area yang terbakar.
Penanganan karhutla ini melibatkan sinergi Balai Besar TNBTS, BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, relawan, serta berbagai instansi terkait. Kolaborasi lintas sektor tersebut menjadi faktor penting dalam mempercepat pengendalian kebakaran di kawasan konservasi yang memiliki kontur curam dan sulit dijangkau oleh personel darat.
Meski situasi telah berangsur normal, BPBD Kabupaten Malang menegaskan seluruh personel tetap bersiaga. Langkah ini dilakukan untuk memastikan tidak ada bara api yang kembali menyala, sekaligus menjaga agar kebakaran tidak meluas ke kawasan konservasi lain di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.




















