Sudutkota.id – Keberhasilan Pemerintah Kota Malang dalam menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok melalui program Warung Tekan Inflasi (WTI) mulai menjadi rujukan daerah lain.
Salah satunya Pemerintah Kota Batu yang melakukan kunjungan kerja ke Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang untuk mempelajari strategi pengendalian inflasi, pengelolaan pasar rakyat, serta penguatan kerja sama antar daerah di sektor perdagangan.
Kunjungan yang berlangsung Kamis (6/8) itu dipimpin langsung oleh Kepala Bidang Perdagangan Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian dan Perdagangan (Diskumdag) Kota Batu, Andri, bersama jajaran tim. Rombongan diterima oleh Kepala Bidang Perdagangan Diskopindag Kota Malang, Luh Putu Eka Wilantari, S.H., M.Hum., di kantor Diskopindag Kota Malang.
Saat dikonfirmasi Sudutkota.id, Luh Putu Eka Wilantari membenarkan adanya kunjungan tersebut. Menurutnya, pertemuan itu merupakan forum koordinasi sekaligus berbagi pengalaman mengenai tata kelola sektor perdagangan yang selama ini diterapkan Pemerintah Kota Malang.
“Benar, kunjungan dipimpin Pak Andri selaku Kepala Bidang Perdagangan Kota Batu bersama tim. Kami berdiskusi mengenai pengelolaan pasar rakyat, kerja sama antar daerah, serta strategi pengendalian inflasi yang dijalankan Pemerintah Kota Malang,” ujarnya.
Luh Putu menjelaskan, salah satu materi yang menjadi perhatian utama adalah program Warung Tekan Inflasi, yang selama ini menjadi instrumen Pemerintah Kota Malang dalam melakukan intervensi harga ketika terjadi gejolak harga kebutuhan pokok di pasaran.
“Koordinasi juga terkait pengendalian inflasi di Kota Malang melalui Warung Tekan Inflasi yang selama ini menjadi salah satu langkah Pemkot Malang dalam melakukan intervensi sehingga inflasi tetap terkendali,” katanya.
Program Warung Tekan Inflasi dinilai efektif membantu masyarakat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga yang lebih stabil sekaligus menjadi instrumen pemerintah dalam meredam lonjakan harga pada komoditas tertentu. Langkah tersebut juga menjadi bagian dari upaya menjaga daya beli masyarakat dan memperkuat ketahanan pangan di tingkat daerah.
Selain membahas pengendalian inflasi, kedua daerah juga bertukar pengalaman mengenai pengelolaan pasar rakyat, mulai dari penataan pasar, pembinaan pedagang, peningkatan kualitas pelayanan, hingga strategi menjaga daya saing pasar tradisional di tengah berkembangnya perdagangan modern.
Tak kalah penting, pertemuan tersebut juga membahas peluang kerja sama antar daerah dalam mendukung kelancaran distribusi barang kebutuhan pokok. Sinergi ini dinilai penting untuk menjaga ketersediaan pasokan, memperkuat rantai distribusi, dan mengantisipasi gejolak harga yang dapat memicu inflasi.
Sebagai daerah yang telah menerapkan berbagai inovasi di sektor perdagangan, Kota Malang menjadi salah satu referensi bagi pemerintah daerah lain dalam mengembangkan kebijakan yang adaptif terhadap dinamika ekonomi.
Kunjungan kerja Pemerintah Kota Batu diharapkan menjadi langkah awal memperkuat kolaborasi antardaerah dalam menciptakan tata kelola perdagangan yang lebih efektif, menjaga stabilitas harga, serta meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dan pelaku usaha.




















