Nasional

ASEAN Diuji Rivalitas Global, DPR Minta AIPA Tak Berhenti pada Resolusi

6
×

ASEAN Diuji Rivalitas Global, DPR Minta AIPA Tak Berhenti pada Resolusi

Share this article
Anggota Komisi I DPR RI Amelia Anggraini ingatkan ASEAN tak boleh jadi Arena persaingan negara besar. (Foto:DPR RI)

Sudutkota.id – Memanasnya rivalitas geopolitik global dinilai menjadi ujian bagi Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) atau Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara. Menjelang penyelenggaraan The 17th Meeting of the ASEAN Inter-Parliamentary Assembly (AIPA) Caucus atau Kaukus ke-17 Majelis Antar-Parlemen ASEAN pada 22–23 Juli 2026, DPR RI menilai sentralitas ASEAN harus diperkuat agar kawasan tidak berubah menjadi arena persaingan negara-negara besar.

Anggota Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI, Amelia Anggraini, mengatakan rivalitas geopolitik justru harus menjadi momentum memperkuat soliditas ASEAN dalam menjaga ruang dialog dan menentukan kepentingan kawasan secara mandiri.

“Terkait rivalitas geopolitik global, hal ini seharusnya dapat memperkuat sentralitas ASEAN. Sentralitas ASEAN ini sangat bergantung pada seberapa solid ASEAN ke depan dalam menjaga ruang dialog dan menentukan kepentingan kawasan berdasarkan prioritasnya sendiri,” kata Amelia di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (21/7/2026).

Menurut politikus Partai NasDem itu, Asia Tenggara tidak boleh kehilangan independensinya di tengah meningkatnya rivalitas global. “Asia Tenggara tidak boleh hanya menjadi arena kompetisi bagi kekuatan-kekuatan besar,” tegasnya. Karena itu, ia menilai diplomasi parlemen melalui AIPA menjadi instrumen penting untuk menjaga komunikasi, membangun kepercayaan antarnegara, serta memastikan kerja sama dengan mitra eksternal tetap menghormati prinsip hukum internasional dan tidak melemahkan solidaritas ASEAN.

Amelia menambahkan, kekompakan ASEAN akan menentukan kemampuan kawasan menghadapi berbagai tantangan, mulai dari isu perdamaian, perubahan iklim, ekonomi hingga digitalisasi.

“Kekompakan ASEAN sangat penting dalam menghadapi tantangan yang semakin dinamis ke depan, baik terkait isu perdamaian, perubahan iklim, ekonomi, maupun kerja sama di bidang digitalisasi,” ujarnya.

Di sisi lain, ia mengingatkan hasil AIPA tidak boleh berhenti sebagai dokumen atau resolusi semata. Menurutnya, salah satu kekuatan utama AIPA Caucus justru terletak pada mekanisme tindak lanjut melalui country report, di mana setiap parlemen anggota melaporkan perkembangan implementasi resolusi yang telah disepakati sekaligus berbagi praktik terbaik dalam pelaksanaannya.

Meski AIPA bukan lembaga supranasional yang memiliki kewenangan memaksa negara anggota menjalankan seluruh resolusi, Amelia menilai mekanisme tindak lanjut dan peer learning antarparlemen harus terus diperkuat.

“Keberhasilan AIPA pada akhirnya tidak hanya diukur dari seberapa banyak resolusi yang dihasilkan, tetapi dari sejauh mana resolusi tersebut ditindaklanjuti dalam hasil yang nyata serta manfaatnya dirasakan oleh masyarakat di negara-negara ASEAN,” tegasnya.

Amelia berharap AIPA Caucus 2026 tidak hanya menjadi forum pembahasan isu-isu strategis kawasan, tetapi juga mampu memastikan fungsi legislasi, pengawasan, dan penganggaran parlemen berjalan seiring dengan komitmen regional sehingga menghasilkan kebijakan yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat ASEAN.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *