Daerah

Transformasi Digital Kesehatan Jawa Timur Masuki Babak Baru, RSUD Haji Jadi Pusat Pengembangan AI dan Robotika Medis

20
×

Transformasi Digital Kesehatan Jawa Timur Masuki Babak Baru, RSUD Haji Jadi Pusat Pengembangan AI dan Robotika Medis

Share this article
Transformasi Digital Kesehatan Jawa Timur Masuki Babak Baru, RSUD Haji Jadi Pusat Pengembangan AI dan Robotika Medis
Wakil Gubernur Jatim, Emil Elestianto Dardak saat menghadiri peluncuran transformasi digital Kesehatan di RS Haji. (foto:sudutkota.id/Humas Pemprov Jatim)

Sudutkota.id – Transformasi digital sektor kesehatan di Jawa Timur memasuki fase baru. RSUD Haji Provinsi Jawa Timur kini diproyeksikan menjadi pusat pengembangan teknologi kesehatan berbasis Artificial Intelligence (AI) dan robotika melalui peluncuran ekosistem HAJI C-AIRRe (Collaborative Artificial Intelligence and Robotic Research Innovation Ecosystem in Healthcare) 2026.

Peluncuran yang dilakukan Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak di Ruang Pertemuan Serambi Mekkah RSUD Haji, Kamis (16/7/2026), menandai langkah strategis pemerintah daerah dalam membangun rumah sakit yang tidak hanya berorientasi pada layanan kesehatan, tetapi juga menjadi pusat riset, inovasi, pendidikan, dan pengembangan teknologi medis.

Emil menegaskan, pengembangan HAJI C-AIRRe merupakan bagian dari upaya menciptakan ekosistem kesehatan digital yang menghubungkan rumah sakit, perguruan tinggi, industri, lembaga riset, sektor keuangan, hingga pemerintah dalam satu kolaborasi terpadu.

Menurutnya, penguatan teknologi kesehatan tidak cukup berhenti pada penciptaan inovasi, melainkan harus mampu menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat melalui peningkatan kualitas pelayanan medis.

“Transformasi digital kesehatan bukan lagi sebuah pilihan, melainkan kebutuhan agar pelayanan publik semakin berkualitas dan mampu menjawab tantangan kesehatan di masa depan,” ujar Emil.

Dalam pengembangannya, HAJI C-AIRRe diarahkan agar teknologi berbasis kecerdasan buatan dapat dimanfaatkan secara langsung oleh tenaga medis dalam proses diagnosis, pengambilan keputusan klinis, hingga percepatan pelayanan pasien.

Emil menyebut tingkat pemanfaatan teknologi atau utilisasi menjadi faktor utama keberhasilan program tersebut. Seluruh inovasi yang dihasilkan diharapkan tidak hanya berhenti sebagai hasil penelitian, tetapi benar-benar diterapkan dalam praktik pelayanan sehari-hari.

Selain mempercepat proses layanan, teknologi digital juga diharapkan mampu meningkatkan akurasi diagnosis, efisiensi operasional rumah sakit, serta memberikan pengalaman pelayanan yang lebih baik bagi pasien.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga menempatkan kolaborasi sebagai fondasi utama dalam pengembangan ekosistem inovasi kesehatan tersebut.

RSUD Haji menggandeng berbagai institusi strategis, di antaranya Universitas Airlangga, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Bank Indonesia, Bank Jatim, serta sejumlah mitra industri dan lembaga riset untuk mempercepat pengembangan teknologi kesehatan nasional.

Menurut Emil, sinergi tersebut diharapkan mampu melahirkan berbagai inovasi baru yang dapat distandardisasi dan diterapkan secara luas di fasilitas pelayanan kesehatan.

Ia bahkan mendorong penyusunan roadmap bersama perguruan tinggi agar setiap inovasi memiliki arah pengembangan yang jelas hingga siap diimplementasikan secara nasional.

Pengembangan HAJI C-AIRRe juga menjadi bagian dari implementasi Program Jatim Sehat dalam RPJMD Provinsi Jawa Timur 2025–2029.

Program tersebut mendukung peningkatan kualitas layanan kesehatan, pemerataan akses pelayanan, percepatan digitalisasi rumah sakit, penguatan sistem transaksi non-tunai, hingga pencapaian target Universal Health Coverage (UHC) 100 persen di seluruh kabupaten/kota.

Selain itu, transformasi digital di sektor kesehatan juga diharapkan mampu berkontribusi terhadap peningkatan usia harapan hidup masyarakat serta percepatan penurunan prevalensi stunting hingga 12 persen pada 2029.

Lebih jauh, Emil menilai rumah sakit ke depan harus berkembang menjadi pusat lahirnya inovasi teknologi medis dalam negeri.

Menurutnya, pengalaman selama pandemi Covid-19 menunjukkan pentingnya kemandirian bangsa dalam mengembangkan teknologi kesehatan sendiri sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan nasional.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *