ReligiSeni dan Budaya

Jelajah Situs Sejarah Singosari, Puluhan Pemuda Lintas Agama Perkuat Toleransi dan Perdamaian

12
×

Jelajah Situs Sejarah Singosari, Puluhan Pemuda Lintas Agama Perkuat Toleransi dan Perdamaian

Share this article
Peserta Peace Heritage mengikuti diskusi sejarah dan budaya di kawasan Candi Sumberawan, Singosari, Kabupaten Malang. (Foto: Sudutkota.id/HID)

Sudutkota.id – Sebanyak 65 pemuda dan mahasiswa lintas agama mengikuti program Jelajah Sejarah dan Budaya Singosari yang digelar Peace Heritage di Kabupaten Malang, Minggu (14/6/2026). Kegiatan wisata edukasi ini menjadi sarana memperkuat nilai toleransi, kerukunan, dan perdamaian melalui pengenalan situs sejarah serta tempat ibadah dari berbagai tradisi keagamaan.

Program Peace Heritage merupakan inisiatif Peace Leader Indonesia bersama Rumah Edukasi Creative dan Komunitas Masyarakat Adat Singhasari. Peserta berasal dari berbagai daerah dan latar belakang budaya, mulai dari Singosari, Kota Malang, Madiun, hingga Lembata. Mereka juga terdiri dari mahasiswa asal Nusa Tenggara Timur, Sumba, Sasak, serta samanera dan atasila dari STAB Batu, Jawa Timur.

Dalam kegiatan tersebut, peserta diajak mengunjungi sejumlah situs bersejarah di Singosari, antara lain Pura Bhuana Kertha, Candi Singosari, Arca Dwarapala, dan Candi Sumberawan. Selain mengenal sejarah dan warisan budaya, peserta juga berdialog langsung dengan tokoh masyarakat setempat untuk memahami pentingnya menjaga kerukunan di tengah keberagaman.

Kegiatan turut diisi diskusi budaya dan kesetaraan gender bersama Tuswati atau Bu Tusi, pendiri Patirtan Sumber Awan. Ia membagikan pengalaman spiritual yang mendorongnya mendirikan ruang ibadah sekaligus wadah perjumpaan lintas iman dan pemberdayaan masyarakat.

“Dialog melalui budaya dapat menjadi jembatan yang efektif untuk mempererat hubungan antarumat beragama,” ujar Bu Tusi.

Ketua Peace Leader Indonesia, Redy Saputro, mengatakan Singosari memiliki kekayaan sejarah yang masih terawat dan menjadi bukti kejayaan masa lalu. Menurutnya, keberadaan situs budaya dan tempat ibadah dari berbagai agama menjadikan kawasan tersebut sebagai ruang belajar yang ideal untuk memahami sejarah, toleransi, dan keberagaman.

“Candi Singosari merupakan simbol kejayaan Kerajaan Singhasari. Arca Dwarapala menjadi salah satu patung penjaga terbesar di Indonesia, sementara Candi Sumberawan merupakan pusat perayaan Waisak umat Buddha di Kabupaten Malang. Di sisi lain, Pura Bhuana Kertha menjadi simbol harmoni kehidupan beragama yang telah tumbuh sejak 1975,” jelas Redy.

Ia menambahkan, pengalaman berinteraksi langsung dengan masyarakat dan mengunjungi situs-situs bersejarah memberikan pembelajaran nyata tentang pentingnya hidup berdampingan, menghormati perbedaan, serta menjaga warisan budaya sebagai perekat kohesi sosial.

Sementara itu, Ketua Masyarakat Adat Singhasari, KRT Yusuf Tanoko, menegaskan bahwa warisan leluhur di Singhasari harus terus dirawat dan dilestarikan agar dapat menjadi media edukasi bagi generasi muda.

“Situs-situs sejarah tidak hanya menyimpan jejak peradaban masa lalu, tetapi juga menjadi ruang dialog dan perjumpaan lintas agama. Kami senang melihat antusiasme generasi muda yang ingin belajar sejarah dan budaya Singhasari,” katanya.

Senada dengan itu, Sekretaris Masyarakat Adat Singhasari, Dayat Bachtiar, berharap kegiatan wisata edukasi tersebut dapat menjadi salah satu simpul penting dalam mengenalkan sejarah, merawat budaya, sekaligus mempererat kerukunan masyarakat.

“Kami berharap kegiatan ini dapat mengangkat potensi pariwisata Malang Utara, khususnya Singosari. Banyak situs peninggalan Kerajaan Singhasari yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana edukasi lintas generasi untuk menambah wawasan kesejarahan,” ujar Dayat yang juga menjadi pemandu wisata sejarah dalam kegiatan tersebut.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *