Sudutkota.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) terus memperkuat sektor pariwisata berbasis budaya sebagai strategi meningkatkan kunjungan wisatawan, melestarikan warisan budaya, membangun karakter masyarakat, sekaligus mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Komitmen tersebut disampaikan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang, Drs. Firmando Hasiholan Matondang, dalam rangkaian kegiatan Pekan Budaya Malang yang menjadi bagian dari peringatan Hari Jadi ke-1266 Kabupaten Malang.
Firmando mengatakan, Kabupaten Malang memiliki kekayaan seni dan budaya yang sangat besar. Potensi tersebut harus dimanfaatkan sebagai kekuatan utama dalam pengembangan pariwisata sehingga tidak hanya mengandalkan keindahan alam, tetapi juga menawarkan pengalaman budaya yang menjadi ciri khas daerah.
Menurutnya, pasca pengembangan desa wisata dan berbagai program kepariwisataan, termasuk Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022, Disparbud kini fokus menghadirkan atraksi seni secara rutin di berbagai destinasi wisata.
“Kami ingin kesenian terus hidup di tengah masyarakat. Ke depan, pertunjukan seni akan kami tampilkan secara rutin, terutama setiap Sabtu dan Minggu maupun pada berbagai momentum kegiatan di destinasi wisata Kabupaten Malang,” ujar Firmando, Sabtu (25/7/2026).
Ia menjelaskan, kehadiran pertunjukan seni secara berkelanjutan diharapkan mampu meningkatkan daya tarik wisata sehingga wisatawan memiliki lebih banyak alasan untuk datang dan menghabiskan waktu lebih lama di Kabupaten Malang.
“Harapan kami, dengan adanya atraksi budaya, kunjungan wisata terus meningkat. Ketika wisatawan datang, maka hotel, restoran, UMKM, pedagang, transportasi, hingga pelaku ekonomi kreatif ikut merasakan manfaatnya. Dampaknya tentu akan meningkatkan perputaran ekonomi masyarakat sekaligus memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Malang,” jelasnya.
Menurut Firmando, pembangunan sektor pariwisata tidak boleh hanya mengejar jumlah kunjungan wisatawan. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana pariwisata mampu menghadirkan manfaat ekonomi sekaligus menjaga jati diri daerah melalui pelestarian budaya.
Ia menegaskan bahwa seni pertunjukan bukan hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi media pendidikan karakter yang efektif.
“Seni adalah ruang untuk menyampaikan pesan-pesan moral kepada masyarakat. Melalui seni kita membangun karakter manusia Kabupaten Malang, menanamkan nilai gotong royong, sopan santun, kejujuran, tanggung jawab, dan kecintaan terhadap budaya sendiri,” katanya.
Salah satu kesenian yang akan terus didorong tampil di berbagai destinasi wisata adalah wayang golek. Menurut Firmando, wayang golek merupakan warisan budaya yang tidak hanya menyuguhkan tontonan, tetapi juga menjadi tuntunan bagi kehidupan masyarakat.
“Wayang golek bukan sekadar pertunjukan seni. Di dalamnya terdapat banyak nilai pendidikan, etika, tata krama, kepemimpinan, kejujuran, serta penghormatan kepada orang tua dan sesama. Nilai-nilai itu sangat relevan untuk membangun karakter generasi muda di tengah derasnya arus globalisasi,” ungkapnya.
Ia menambahkan, setiap lakon yang dipentaskan dalam wayang golek selalu mengandung pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, pelestarian seni tradisional harus terus dilakukan agar tidak tergerus perkembangan zaman.
Firmando menilai, budaya merupakan kekuatan fundamental dalam membangun karakter bangsa. Kemajuan teknologi dan pembangunan fisik harus diimbangi dengan pembangunan sumber daya manusia yang berlandaskan nilai budaya dan kearifan lokal.
Karena itu, Disparbud akan terus menggandeng komunitas seni, pelaku pariwisata, pemerintah desa, pelaku ekonomi kreatif, hingga masyarakat untuk menghidupkan ruang-ruang budaya melalui pertunjukan seni secara berkala.
Dengan konsep tersebut, wisatawan tidak hanya menikmati panorama alam Kabupaten Malang yang terkenal dengan pegunungan, pantai, dan desa wisatanya, tetapi juga memperoleh pengalaman budaya yang autentik dan berkesan.
Lebih jauh, strategi pariwisata berbasis budaya diyakini mampu memperpanjang lama tinggal wisatawan (length of stay), meningkatkan belanja wisatawan, membuka peluang kerja bagi seniman lokal, menggerakkan UMKM, serta memperkuat ekonomi kreatif masyarakat.
Di sisi lain, upaya tersebut juga menjadi gerakan bersama untuk menjaga nilai-nilai luhur bangsa yang telah diwariskan sejak masa Kerajaan Singhasari dan Majapahit yang memiliki sejarah panjang di wilayah Kabupaten Malang.
“Kami ingin budaya menjadi wajah pariwisata Kabupaten Malang. Ketika seni terus hidup, maka karakter masyarakat juga akan semakin kuat. Wisatawan mendapatkan pengalaman budaya, masyarakat memperoleh manfaat ekonomi, dan daerah mendapatkan peningkatan PAD. Itulah pembangunan pariwisata yang kami harapkan, yakni berkelanjutan, berbudaya, dan menyejahterakan masyarakat,” pungkas Firmando.
Dengan langkah tersebut, Disparbud Kabupaten Malang optimistis sektor pariwisata berbasis budaya akan menjadi salah satu motor penggerak pembangunan daerah, sekaligus memperkuat identitas Kabupaten Malang sebagai daerah yang kaya sejarah, budaya, dan memiliki daya saing tinggi di tingkat nasional.




















