DaerahEkonomi Bisnis

Harga Telur Ayam Jombang Hanya Rp22 Ribu per Kg, Peternak Keluhkan Pakan Naik

3
×

Harga Telur Ayam Jombang Hanya Rp22 Ribu per Kg, Peternak Keluhkan Pakan Naik

Share this article
Peternak ayam petelor di Jombang. (Foto: Sudutkota.id/Elok A)

Sudutkota.id – Harga telur ayam di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan signifikan.

Meski sempat naik tipis, harga telur ayam di tingkat peternak masih bertahan di kisaran Rp22 ribu hingga Rp22.500 per kilogram atau nyaris menyentuh Harga Pokok Produksi (HPP).

Kondisi tersebut telah berlangsung selama sekitar tiga bulan setelah Hari Raya Idul Fitri 2026. Akibatnya, keuntungan peternak ayam petelur semakin menipis di tengah kenaikan biaya produksi.

Salah satu peternak ayam petelur di Desa Mojotengah, Kecamatan Bareng, Eko Murdianto, mengatakan harga telur ayam di tingkat kandang saat ini berada di kisaran Rp22.000-Rp22.500 per kilogram.

Menurutnya, harga tersebut masih jauh di bawah harga sebelum Lebaran yang sempat menembus Rp24.000 hingga Rp26.000 per kilogram.

“Di kandang saat ini sekitar Rp22.000 sampai Rp22.500. Sebelumnya malah sempat turun ke Rp21.500. Setelah Lebaran, harga terus jatuh hingga sekarang. Ini sudah sekitar tiga bulan,” kata Eko kepada wartawan, Selasa (9/6/2026).

Eko menilai turunnya harga telur ayam di Jombang dipicu melimpahnya pasokan di pasaran akibat overpopulasi ayam petelur. Sementara itu, biaya produksi justru terus mengalami kenaikan.

Harga pakan jadi saat ini mencapai Rp6.900 per kilogram. Sedangkan harga konsentrat naik dari Rp475.000 menjadi Rp495.000 per sak berisi 50 kilogram.

“Harga telur turun, tetapi pakan naik. Kemungkinan besar penyebabnya karena overpopulasi,” ujarnya.

Ia menjelaskan, HPP telur ayam di tingkat peternak saat ini berkisar Rp22.300 per kilogram. Dengan harga jual yang hampir setara HPP, margin keuntungan peternak menjadi sangat tipis.

Bahkan, jika harga pakan kembali mengalami kenaikan, peternak berpotensi mengalami kerugian.
Karena itu, Eko berharap pemerintah dapat membantu menjaga stabilitas harga telur ayam, salah satunya melalui optimalisasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Harapannya pemerintah ikut berperan supaya harga tidak semakin jatuh. Dapur MBG bisa menyerap langsung dari peternak atau UMKM, bukan melalui pihak lain,” tuturnya.

Sementara itu, penurunan harga telur ayam juga terjadi di tingkat konsumen. Sarmudi (52), pedagang telur di Pasar Pon Jombang, menyebut harga telur saat ini dijual Rp24.000 per kilogram.

Harga tersebut turun dibanding sebelumnya yang mencapai Rp25.000 per kilogram. Padahal, harga normal telur ayam biasanya berada di kisaran Rp25.000-Rp26.000 per kilogram.

“Hari ini Rp24.000. Sebelumnya Rp25.000. Alhamdulillah, meski harga turun, daya beli masyarakat tetap terjaga. Justru penurunan ini lumayan membantu pembeli,” ujar Sarmudi.

Untuk memenuhi kebutuhan stok, ia mendatangkan pasokan telur dari Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, dengan harga sekitar Rp23.000 per kilogram.

Terpisah, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagrin) Jombang, Anjik Eko Saputro, mengatakan pihaknya terus memantau perkembangan harga bahan pokok setiap hari, termasuk komoditas telur ayam.

Menurutnya, penurunan harga telur tidak menimbulkan persoalan bagi konsumen karena justru membuat harga lebih terjangkau. Namun kondisi tersebut berdampak langsung terhadap peternak ayam petelur.

“Kalau ada penurunan harga telur, bagi pembeli tidak ada masalah. Yang terdampak justru peternaknya. Untuk itu, hal ini menjadi ranah teman-teman di dinas peternakan,” pungkas Anjik.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *