Daerah

Busana Khas Jadi Senjata Baru, Wahyu Hidayat Tegaskan Malang Tak Boleh Kehilangan Jati Diri di Usia 112

11
×

Busana Khas Jadi Senjata Baru, Wahyu Hidayat Tegaskan Malang Tak Boleh Kehilangan Jati Diri di Usia 112

Share this article
Suasana upacara peringatan HUT ke-112 Kota Malang di halaman Balai Kota Malang. (Foto: Sudutkota.id/MIT)

Sudutkota.id – Momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke-112 Kota Malang menjadi panggung penting bagi penguatan identitas daerah. Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, secara tegas menekankan bahwa di tengah arus modernisasi, Kota Malang tidak boleh kehilangan jati diri.

Hal itu disampaikan dalam sambutan resminya, Selasa (1/4/2026), di hadapan jajaran Forkopimda, DPRD, TNI-Polri, ASN, tokoh agama, hingga masyarakat umum. Dalam suasana yang juga masih kental dengan nuansa Hari Raya Idul Fitri, Wahyu mengawali pidatonya dengan ajakan menjaga nilai kebersamaan dan kepedulian.

“Atas nama Pemerintah Kota Malang, saya mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin. Semoga nilai kebersamaan yang telah kita bangun selama Ramadan dapat terus kita jaga,” ujarnya.

Wahyu menegaskan bahwa 1 April 1914 merupakan tonggak awal berdirinya Kota Malang. Dalam rentang waktu 112 tahun, berbagai dinamika telah dilalui—mulai dari masa kolonial, perkembangan kota, hingga era modern yang penuh tantangan global.

“Perjalanan panjang ini telah membentuk karakter Kota Malang sebagai kota yang tangguh, kreatif, dan penuh daya saing,” tegasnya.

Namun, ia mengingatkan bahwa tantangan ke depan tidak akan semakin ringan. Perubahan global, tekanan ekonomi, serta kompleksitas persoalan perkotaan menuntut adanya langkah yang lebih cepat, tepat, dan terukur.

“Tidak ada ruang untuk stagnasi. Kita harus berani menembus batas, menghadirkan inovasi, dan menyelesaikan persoalan hingga tuntas,” ujarnya.

Dalam momentum HUT ke-112 ini, Pemkot Malang menghadirkan langkah konkret dalam penguatan identitas budaya, yakni melalui perancangan busana khas Kota Malang.

Menurut Wahyu, busana tersebut bukan sekadar pakaian seremonial, melainkan simbol yang merepresentasikan jati diri kota
.
“Busana khas ini mengandung filosofi perpaduan nilai-nilai lokal dengan perjalanan sejarah Kota Malang, dari era pra-kolonial hingga masa kini,” jelasnya.

Desain busana tersebut mengangkat motif dan elemen budaya lokal yang dipadukan dengan sentuhan estetika klasik. Hal ini mencerminkan harmoni antara tradisi dan modernitas.

“Ini adalah simbol bahwa Malang bisa maju dan berkelas, tanpa meninggalkan akar budayanya,” tegas Wahyu.

Lebih jauh, Wahyu menyebut bahwa kehadiran busana khas ini juga menjadi bagian dari strategi besar city branding Kota Malang. Ia ingin Malang tidak hanya dikenal sebagai kota pendidikan atau wisata, tetapi juga sebagai kota kreatif dengan identitas budaya yang kuat.

“Ketika orang melihat busana ini, mereka harus langsung teringat Malang,” katanya.

Tak hanya itu, pengembangan busana khas ini juga membuka peluang besar bagi pelaku ekonomi kreatif lokal, mulai dari desainer hingga pengrajin.

“Ini bukan hanya soal simbol, tapi juga peluang ekonomi. Kita ingin pelaku UMKM dan industri kreatif ikut tumbuh,” imbuhnya.

Dalam pidatonya, Wahyu juga memaparkan capaian makro Kota Malang yang menunjukkan tren positif. Pertumbuhan ekonomi pada 2025 tercatat mencapai 5,92 persen, sementara tingkat pengangguran mengalami penurunan.

Selain itu, Kota Malang juga berhasil meraih berbagai penghargaan di tingkat nasional dan internasional, termasuk pengakuan sebagai kota kreatif dunia dari UNESCO di bidang media.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa capaian tersebut tidak boleh membuat semua pihak berpuas diri.

“Prestasi ini harus menjadi pemacu, bukan membuat kita lengah. Kita harus terus meningkatkan kinerja dan menghadirkan inovasi yang berdampak nyata,” tegasnya.

Wahyu menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari angka dan penghargaan, tetapi dari sejauh mana masyarakat merasakan manfaatnya.

“Kesejahteraan masyarakat dan kualitas hidup harus menjadi ukuran utama,” ujarnya.

Ke depan, Pemkot Malang akan terus mendorong pembangunan yang berfokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia, pemerataan ekonomi, serta tata kelola pemerintahan yang lebih responsif dan melayani.

Di akhir sambutannya, Wahyu kembali menegaskan pesan penting kepada seluruh masyarakat Kota Malang agar tidak kehilangan identitas di tengah derasnya perubahan zaman.

“Hari ini bukan sekadar perayaan, tapi refleksi. Sudah sejauh mana kita menjaga kota ini, dan apa yang akan kita wariskan ke depan,” ucapnya.

Ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus bergerak bersama membangun Kota Malang yang tidak hanya maju secara fisik, tetapi juga kuat dalam karakter dan budaya.

“Busana khas ini adalah pengingat. Bahwa di tengah kemajuan, kita tetap harus berdiri dengan jati diri kita sendiri,” pungkasnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *