Daerah

Jelajah Kuburan Londo Jilid 2 Diluncurkan, Wali Kota Wahyu Hidayat: Rawat Ingatan Kota Lewat Literasi Sejarah

9
×

Jelajah Kuburan Londo Jilid 2 Diluncurkan, Wali Kota Wahyu Hidayat: Rawat Ingatan Kota Lewat Literasi Sejarah

Share this article
Buku Trilogi Jelajah Kuburan Londo Malang Jilid 2 karya Hariyani yang mengangkat jejak sejarah, tokoh, dan dinamika sosial di kawasan pemakaman kolonial Kota Malang. (Foto: Sudutkota.id/MIT)

Sudutkota.id – Upaya merawat jejak sejarah Kota Malang kembali diperkuat melalui peluncuran buku “Trilogi Jelajah Kuburan Londo Malang Jilid 2” karya Hariyani. Karya ini tak sekadar buku, tetapi menjadi pintu masuk membaca ulang perjalanan kota dari sudut yang kerap terabaikan: kawasan pemakaman kolonial,Selasa (31/3/2026).

Penulis, Hariyani, menyampaikan rasa syukur atas rampungnya buku tersebut setelah melalui proses riset dan penelusuran lapangan yang panjang.

“Terimakasih ya Rabb, semua karena izin-Mu. Buku ini kami hadirkan agar masyarakat bisa melihat sejarah Kota Malang dari sudut yang berbeda,” ujarnya.

Apresiasi datang dari Wali Kota Malang, Dr. Ir. Wahyu Hidayat, MM, melalui sambutan tertulis tertanggal 30 Maret 2026. Ia menegaskan, buku ini memiliki nilai penting dalam memperkuat literasi sejarah sekaligus menjaga identitas kota.

“Buku ini sarat nilai sejarah, pengetahuan, serta refleksi tentang keberagaman sosial yang membentuk wajah Kota Malang dari masa ke masa,” tegas Wahyu Hidayat.

Menurutnya, “kuburan londo” bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir, melainkan ruang sunyi yang menyimpan rekam jejak peradaban dari interaksi antar-etnis, dinamika sosial, hingga perkembangan budaya yang membentuk Malang hari ini.

Ia juga menyoroti pentingnya menghadirkan sejarah secara lebih dekat dan kontekstual kepada masyarakat, terutama generasi muda.

“Sejarah tidak hanya hidup di museum atau arsip resmi. Ia juga ada di ruang-ruang yang sering luput dari perhatian, seperti kawasan pemakaman kolonial. Di sanalah kita bisa membaca perjalanan kota secara lebih jujur,” lanjutnya.

Dalam aspirasi yang disampaikan, Wahyu Hidayat mendorong agar gerakan literasi sejarah terus diperkuat melalui kolaborasi antara penulis, komunitas, akademisi, hingga pemerintah daerah. Ia berharap karya seperti ini mampu menumbuhkan kesadaran kolektif untuk menjaga dan melestarikan warisan sejarah.

Sementara itu, buku jilid kedua ini menghadirkan eksplorasi yang lebih dalam dan tajam, di antaranya:

  • Penelusuran detail lokasi dan peta kawasan pemakaman kolonial di Kota Malang
  • Kisah tokoh-tokoh yang dimakamkan lengkap dengan latar belakang sejarahnya
  • Kajian inskripsi atau tulisan pada nisan yang mengandung pesan historis
  • Potret interaksi sosial dan keberagaman etnis di masa kolonial
  • Dokumentasi visual kondisi makam, dulu dan kini
  • Refleksi nilai budaya dan jejak peradaban yang relevan bagi generasi saat ini

Melalui rangkaian kisah tersebut, pembaca diajak menyelami bahwa setiap nisan bukan sekadar penanda kematian, tetapi juga penutur bisu perjalanan zaman.

Wali Kota Wahyu Hidayat berharap buku ini dapat menjadi referensi penting sekaligus inspirasi bagi masyarakat untuk lebih mengenal sejarah lokal.

“Ini adalah kontribusi nyata dalam merawat ingatan kolektif kota. Harapannya, akan lahir lebih banyak karya yang menggali kekayaan sejarah Malang dari berbagai perspektif,” pungkasnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *