Daerah

Gerakan Korve Didorong, Menteri LH Tekankan Budaya Atasi Sampah

9
×

Gerakan Korve Didorong, Menteri LH Tekankan Budaya Atasi Sampah

Share this article
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq bersama Wali Kota Malang Wahyu Hidayat dan jajaran saat kerja bakti memungut sampah di kawasan Car Free Day Jalan Semeru, Kota Malang. (Foto: Sudutkota.id/MIT)

Sudutkota.id – Persoalan sampah di Jawa Timur kian mendesak dan telah masuk kategori darurat di sejumlah daerah. Menyikapi hal itu, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq mengajak seluruh elemen, mulai dari pemerintah hingga masyarakat, menghidupkan kembali budaya kerja bakti atau korve sebagai solusi nyata.

Ajakan tersebut disampaikan saat menghadiri Car Free Day (CFD) di Jalan Semeru, Kota Malang, Minggu (29/3). Dalam kegiatan itu, Hanif bersama jajaran Pemkot Malang turun langsung memungut sampah di sepanjang jalur CFD.

“Masalah sampah tidak bisa diselesaikan secara instan. Ini butuh gotong royong nasional,” tegasnya.

Menurut Hanif, melalui Gerakan Nasional Indonesia ASRI yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto, seluruh unsur, mulai dari pemerintah pusat, daerah hingga TNI-Polri, didorong aktif menggelorakan budaya bersih-bersih lingkungan secara rutin.

Selain itu, pemerintah juga menyiapkan langkah jangka panjang melalui pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi (waste to energy/PLTSA) di wilayah Malang Raya. Proyek tersebut dirancang beroperasi hingga 20–30 tahun ke depan dengan lokasi di Kabupaten Malang.

“Ini proyek jangka panjang. Namun selama proses pembangunan 2–3 tahun, penanganan sampah tetap harus dilakukan serius. Volume sampah di Malang Raya sudah mencapai sekitar 1.000 ton per hari,” ungkapnya.

Hanif menegaskan, kunci utama keberhasilan bukan hanya teknologi, melainkan perubahan perilaku masyarakat, terutama dalam memilah sampah dari sumbernya.

“Sampah bukan semata soal teknologi, tetapi budaya. Tanpa budaya yang kuat, teknologi secanggih apa pun tidak akan efektif,” ujarnya.

Ia juga meminta gerakan korve dilakukan rutin, minimal sepekan sekali, bahkan jika memungkinkan setiap hari sebelum memulai aktivitas. Menurutnya, pemerintah harus menjadi pelopor.

“Kalau pemerintah tidak memimpin, lalu siapa lagi? Kita harus menjadi contoh,” imbuhnya.

Sementara itu, Wali Kota Malang Wahyu Hidayat mengakui persoalan sampah di Kota Malang masih dipicu rendahnya kesadaran masyarakat.

Pemkot Malang, lanjut dia, telah menginstruksikan kerja bakti rutin di lingkungan perkantoran dan sekolah. Bahkan, siswa didorong melakukan bersih-bersih sebelum kegiatan belajar.

“Masih banyak masyarakat membuang sampah sembarangan. Ini memicu banjir di beberapa titik Kota Malang,” ujarnya.

Ia berharap kehadiran Menteri Lingkungan Hidup dapat menjadi pemicu perubahan perilaku masyarakat agar lebih disiplin dalam mengelola sampah.

“Intinya sederhana, buang sampah pada tempatnya. Dampaknya sangat besar bagi kota ini,” pungkasnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *