Daerah

Sudah Direhab dan Dibangun Pasar Baru, Pasar Ploso Jombang Masih Semrawut, Ini Penyebabnya

10
×

Sudah Direhab dan Dibangun Pasar Baru, Pasar Ploso Jombang Masih Semrawut, Ini Penyebabnya

Share this article
Sudah Direhab dan Dibangun Pasar Baru, Pasar Ploso Jombang Masih Semrawut, Ini Penyebabnya
Kondisi pedagang di depan Pasar Ploso yang picu kemacetan.(foto:sudutkota.id/lok)

Sudutkota.id – Upaya Pemerintah Kabupaten Jombang menata Pasar Ploso masih menghadapi tantangan serius. Meski anggaran Miliaran Rupiah telah digelontorkan untuk rehabilitasi dan pembangunan Pasar Buah Sub Terminal Ploso, para pedagang kembali memadati area depan pasar hingga meluber ke bahu jalan.

Pantauan di lokasi, menunjukkan bagian depan Pasar Ploso yang sebelumnya sempat steril kini kembali dipenuhi lapak pedagang. Bahkan, belum genap dua bulan sejak dilakukan penertiban, jumlah pedagang yang berjualan di depan pasar justru bertambah.

Sebagian besar pedagang menjual sayur mayur dan palawija. Mereka menggelar dagangan secara lesehan maupun sistem bongkar pasang. Ada pula yang memanfaatkan kendaraan roda tiga dan berjualan sebagai pedagang kaki lima (PKL).

Meski tidak menempati bangunan permanen, aktivitas jual beli berlangsung ramai dan terkesan semrawut. “Memang awalnya di sana harus steril, cuma sekarang kesannya balik lagi,” ujar Hadi, warga sekitar, Senin (23/2/2026)

Sebelumnya, pedagang sempat diarahkan berjualan di area Sub Terminal Ploso. Di lokasi tersebut sudah dibuat garis penanda di depan kios sebagai tempat berjualan, meski bukan dalam bentuk lapak permanen seperti pedagang buah di pasar baru.

“Kalau tidak salah kemarin diminta jualan di area terminal Ploso, di depan kios. Cuma bukan lapak permanen, jualannya lesehan,” jelas Hadi.

Namun mayoritas pedagang enggan menempati lokasi yang telah disiapkan. Penertiban oleh petugas sempat dilakukan, tetapi tak berlangsung lama. Pedagang kembali berjualan di depan pasar karena dinilai lebih strategis dan ramai pembeli.

Diduga, sebagian pedagang meminta fasilitas setara dengan pedagang yang direlokasi ke pasar baru. Beberapa di antaranya juga disebut tidak masuk dalam daftar pedagang relokasi resmi.

Sementara itu, salah satu pedagang Pasar Ploso berinisial DK mengakui rehabilitasi pasar belum sepenuhnya mengubah wajah pasar tradisional tersebut. Menurutnya, bagian belakang pasar yang telah direhab justru sepi aktivitas.

“Karena di belakang semakin sepi, banyak yang pilih jualan di depan. Istilahnya sekarang sudah difasilitasi paving, tapi tetap saja yang ramai di depan,” ujarnya.

DK menilai, kondisi tersebut bukan semata karena pedagang menolak pindah, melainkan kurangnya arahan dan pengawasan yang konsisten.

“Saya pikir bukan pedagang yang tidak mau, tapi tidak ada yang benar-benar mengarahkan supaya jualan di belakang,” tuturnya.

Kini, keramaian tidak hanya terjadi di sisi barat depan Pasar Ploso, melainkan juga di depan Pasar Buah yang baru hingga meluber ke badan jalan. Kondisi ini memicu kesan kumuh dan mengganggu arus lalu lintas.

Sebagai informasi, pada 2025 lalu Pemkab Jombang merehabilitasi Pasar Ploso dengan anggaran Rp 3,5 Miliar. Sementara pembangunan Pasar Buah di kawasan Sub Terminal Ploso menelan anggaran Rp 3,9 Miliar.

Total anggaran revitalisasi pasar mencapai Rp 7,4 Miliar. Proyek tersebut menjadi bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam meningkatkan tata kelola pasar tradisional agar lebih tertib, bersih, dan nyaman bagi pedagang maupun pembeli.

Namun fakta di lapangan menunjukkan penataan Pasar Ploso Jombang masih membutuhkan pengawasan dan solusi berkelanjutan agar relokasi pedagang berjalan efektif.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *