Daerah

41 Tahun Tinggal di Rumah Reyot, Moh Jailani Akhirnya Terima Bantuan Bedah Rumah dari Program BSPS

3
×

41 Tahun Tinggal di Rumah Reyot, Moh Jailani Akhirnya Terima Bantuan Bedah Rumah dari Program BSPS

Share this article
41 Tahun Tinggal di Rumah Reyot, Moh Jailani Akhirnya Terima Bantuan Bedah Rumah dari Program BSPS
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait bersama Wakil Wali Kota Malang, Ali Muthohirin saat meninjau langsung rumah tidak layak huni milik Moh Jailani, calon penerima Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS), di Kota Malang.(foto:sudutkota.id/mit)

Sudutkota.id – Senyum haru tak mampu disembunyikan dari wajah Moh Jailani. Setelah puluhan tahun bertahan di rumah yang nyaris tak layak huni, warga yang telah menempati rumah tersebut selama 41 tahun itu akhirnya menjadi salah satu penerima Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) atau bedah rumah dari pemerintah.

Dengan suara bergetar, Jailani mengaku bersyukur karena rumah yang selama ini menjadi tempat tinggal keluarganya akan segera dibangun ulang.

“Alhamdulillah, alhamdulillah. Saya sudah diberi bantuan sama Pak Presiden. Saya bersyukur sekali,” ucapnya, Jumat (3/7/2026).

Selama bertahun-tahun, rumah berukuran sekitar 5 x 8 meter itu dihuni tiga orang, yakni dirinya, sang istri, dan seorang anak berusia 11 tahun. Kondisinya memprihatinkan. Atap bocor di berbagai titik, kayu-kayu penyangga lapuk dimakan rayap, genteng banyak yang pecah, sementara dapur masih berdinding anyaman rotan.

“Kalau hujan bocor semua. Rumah ini juga dingin karena kayunya sudah dimakan rayap,” katanya.

Jailani mengungkapkan, dirinya bisa mendapatkan bantuan setelah rumahnya didata dan diverifikasi oleh tim pendamping BSPS yang menilai langsung kondisi bangunan.

“Yang mendampingi Pak Fauzan sama Bu Amel. Mereka melihat langsung kondisi rumah ini,” ujarnya.

Dalam proses renovasi nanti, rumah tersebut akan dibongkar total. Perbaikan dijadwalkan dimulai pada 10 Juli 2026 dan ditargetkan selesai pada 10 Oktober 2026. Seluruh bagian rumah, mulai pondasi, sloof, dinding hingga atap akan dibangun kembali agar menjadi hunian yang aman dan layak.

Selama proses pembangunan berlangsung, Jailani bersama istri dan anaknya akan sementara tinggal di rumah ibunya yang berada tepat di sebelah rumah mereka.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Jailani bekerja sebagai buruh lepas. Ia mengaku menerima berbagai pekerjaan yang tersedia, mulai menjadi kuli bangunan hingga buruh tebang tebu.

“Kalau ada kerja ya kerja. Kadang kuli bangunan, kadang tebang tebu,” tuturnya.

Tak banyak harapan yang diucapkan Jailani. Baginya, rumah yang kokoh dan nyaman sudah menjadi impian yang selama ini sulit diwujudkan.

“Harapan saya cuma ingin rumah ini bagus. Biar keluarga bisa tinggal dengan nyaman dan damai,” pungkasnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *