Pendidikan

16 Ribu Mahasiswa Unesa Belajar Langsung di Lapangan, Ini Misinya

13
×

16 Ribu Mahasiswa Unesa Belajar Langsung di Lapangan, Ini Misinya

Share this article
Rektor Unesa Nurhasan atau Cak Hasan menghadiri Kick-off Program Mahasiswa Berdampak Mobilitas Akademik Tahun Akademik 2026/2027 di Kampus Unesa II Lidah Wetan, Surabaya. (Foto: Humas Unesa)

Sudutkota.id – Universitas Negeri Surabaya (Unesa) memberangkatkan 16.000 mahasiswa untuk mengikuti Program Mahasiswa Berdampak Mobilitas Akademik Tahun Akademik 2026/2027. Selama empat bulan, para mahasiswa akan belajar langsung di tengah masyarakat, instansi pemerintah, dunia usaha, hingga industri melalui kerja sama dengan 1.152 mitra di dalam dan luar negeri.

Program tersebut resmi diluncurkan dalam Kick-off Mobilitas Akademik di Kampus Unesa II Lidah Wetan, Senin (27/7/2026). Acara dihadiri Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan, Rektor Unesa Nurhasan atau Cak Hasan, serta sejumlah kepala daerah dan mitra.

Dalam kesempatan itu, Unesa juga meluncurkan maskot baru bernama Si Prio, akronim dari Progresif, Responsif, Inovatif, dan Optimis, sebagai bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-62 Unesa.

Program Mobilitas Akademik dirancang agar mahasiswa tidak hanya memperoleh pembelajaran di ruang kuliah, tetapi juga menguji kompetensi melalui pengalaman nyata di masyarakat. Program ini bersifat inklusif dengan melibatkan mahasiswa reguler, mahasiswa afirmasi, hingga mahasiswa penyandang disabilitas.

Wamendiktisaintek Fauzan mengatakan pembelajaran berbasis pengalaman di lapangan menjadi bagian penting dalam membentuk lulusan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

“Mahasiswa akan diterjunkan ke masyarakat untuk belajar dari realitas sosial dan ditantang memberi solusi. Harapannya tercipta kolaborasi kampus, pemerintah, industri, dan media agar karya akademik tidak berhenti di jurnal, tapi berdampak langsung,” kata Fauzan.

Menurutnya, sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan media menjadi faktor penting agar hasil riset maupun inovasi mahasiswa dapat memberikan manfaat yang lebih luas.

Rektor Unesa Nurhasan atau Cak Hasan menyebut program tersebut sebagai “laboratorium kehidupan” yang memberi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan akademik sekaligus karakter.

“Di era global, mahasiswa diuji bukan hanya akademik, tapi juga kedisiplinan, tanggung jawab, problem solving, empati, dan kerja tim,” ujar Cak Hasan.

Ia menegaskan pengalaman belajar di lapangan akan memperkuat kesiapan mahasiswa menghadapi tantangan dunia kerja sekaligus meningkatkan kemampuan beradaptasi dengan berbagai persoalan sosial.

Dalam program ini, mahasiswa dapat memilih sembilan skema pembelajaran, yaitu magang, Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP), riset, pertukaran mahasiswa, KKN Tematik, wirausaha, studi independen, asistensi mengajar, dan proyek kemanusiaan.

Salah satu peserta, Aldito Christian Putra, mahasiswa S1 Pendidikan Teknologi Informasi Fakultas Teknik Unesa, memilih mengikuti program magang sebagai programmer di PT Aplikasi Bisnis Digital Indonesia.

“Saya diberi tugas mengembangkan sistem berbasis web dan uji sistem. Di sini saya juga melatih soft skill komunikasi, kerja sama tim, dan profesionalisme,” ungkap Aldito.

Sementara itu, Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi mengapresiasi pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, mahasiswa dapat memberikan kontribusi nyata melalui berbagai skema pembelajaran, terutama KKN Tematik yang dinilai mampu mendukung pengembangan sektor industri, pertanian berbasis teknologi, hingga pariwisata daerah.

Sebagai simbol keberagaman peserta, Unesa menyematkan rompi kepada 12 mahasiswa yang terdiri atas empat mahasiswa penyandang disabilitas, dua mahasiswa asal Papua, dua mahasiswa asing, dan empat mahasiswa reguler. Penyematan tersebut menjadi penanda komitmen Unesa menghadirkan program pembelajaran yang inklusif dan terbuka bagi seluruh mahasiswa.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *