Daerah

Wali Kota Malang Bidik Sumber Air Merjosari untuk Layani 8.200 Pelanggan, Ketergantungan Pasokan dari Luar Daerah Bakal Dikurangi

16
×

Wali Kota Malang Bidik Sumber Air Merjosari untuk Layani 8.200 Pelanggan, Ketergantungan Pasokan dari Luar Daerah Bakal Dikurangi

Share this article
Wali Kota Malang Bidik Sumber Air Merjosari untuk Layani 8.200 Pelanggan, Ketergantungan Pasokan dari Luar Daerah Bakal Dikurangi
Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat bersama Kapolresta Malang Kota dan Ketua DPRD Kota Malang meninjau lokasi Sumber Air Clumprit di Merjosari, Jumat (9/10/2026), dalam rangkaian kegiatan World Cleanup Day (WCD) 2026.(Sudutkota.id/Agus Demit)

KOTA MALANG, Sudutkota.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Malang berupaya mengoptimalkan potensi sumber air di kawasan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, untuk mengurangi ketergantungan pasokan air bersih dari luar daerah.

Salah satu sumber air yang ditinjau Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, diperkirakan mampu melayani sekitar 8.200 pelanggan apabila dioptimalkan dan terhubung dengan jaringan distribusi Perumda Air Minum Tugu Tirta.

Peninjauan tersebut dilakukan dalam rangkaian kegiatan World Cleanup Day (WCD) 2026 di kawasan Sumber Air Merjosari dan aliran Sungai Metro, Jumat (9/10/2026). Kegiatan itu juga diisi dengan penanaman pohon sebagai bagian dari upaya menjaga kelestarian lingkungan dan kawasan resapan air.

Wahyu mengatakan, keberadaan sejumlah sumber air di wilayah Merjosari merupakan potensi yang perlu dimanfaatkan secara maksimal. Selama ini, pemenuhan kebutuhan air bersih Kota Malang masih bergantung pada sumber air yang berada di dalam kota maupun wilayah luar daerah, termasuk Kabupaten Malang dan Kota Batu

“Ini satu keberuntungan yang sebetulnya kita dapatkan. Karena terkait dengan sumber air ini, kita selama ini banyak tergantung tidak hanya sumber air yang ada di dalam kota, tetapi malah di kabupaten ataupun di Kota Batu,” ujar Wahyu.

Ia menjelaskan, dari sejumlah titik sumber air yang ditinjau, salah satunya diperkirakan mampu melayani sekitar 8.200 pelanggan. Namun, potensi tersebut belum dapat dimanfaatkan secara optimal karena belum terkoneksi dengan jaringan distribusi PDAM Kota Malang.

“Apabila ini kita optimalkan, karena ini belum ada terkoneksi dengan jaringan PDAM yang ada. Ini juga sekaligus dengan menanam pohon untuk menjaga agar kualitas dari sumber air ini tetap terjaga,” jelasnya.

Menurut Wahyu, pengembangan sumber air Merjosari menjadi bagian dari upaya memperkuat kemandirian pasokan air bersih Kota Malang. Jika jaringan penghubung dapat dibangun dan sumber air dikelola dengan baik, ketergantungan terhadap pasokan dari luar wilayah diharapkan dapat dikurangi.

Wahyu juga menyampaikan bahwa rencana pengembangan jaringan tersebut telah mendapatkan respons dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU). Berdasarkan laporan Direktur Utama Perumda Tugu Tirta, kementerian tersebut akan mendukung pembangunan jaringan agar sumber air Merjosari dapat terkoneksi dengan jaringan distribusi PDAM yang sudah tersedia.

“Dari laporan Dirut Perumda Tugu Tirta, dari Kementerian PU nanti juga akan membangun terkait dengan jaringan tersebut agar ada koneksi dari Sumber Merjosari ke jaringan PDAM Kota Malang,” ungkapnya.

Di balik potensi tersebut, Pemkot Malang masih menghadapi persoalan status kepemilikan sejumlah sumber air. Wahyu menjelaskan, sumber air yang telah dilengkapi bangunan broncaptering atau bangunan penangkap mata air tertentu sudah berstatus milik PDAM. Namun, beberapa titik sumber air lainnya masih menjadi milik warga atau perorangan.

Untuk itu, Pemkot Malang akan melakukan pendekatan dan sosialisasi kepada pemilik lahan agar sumber air tersebut berpeluang dikelola secara terpadu demi kepentingan penyediaan air bersih.

“Ada beberapa titik sumber yang memang masih milik pribadi atau perorangan. Nanti kita akan upayakan ada pendekatan karena sumber tersebut bisa kita jadikan satu dan kita akan bisa melayani,” kata Wahyu.

Ia menambahkan, warga setempat selama ini turut menjaga keberadaan sumber air agar tetap bisa dimanfaatkan masyarakat sekitar. Bahkan, Ketua RW setempat telah menyampaikan masukan agar potensi sumber air yang selama ini belum termanfaatkan secara maksimal dapat dikembangkan.

Namun, hasil peninjauan juga menemukan kondisi bangunan penangkap mata air yang perlu mendapat perhatian. Wahyu menyebut bagian dalam bangunan tersebut terlihat kotor, sementara kedalaman bangunan yang seharusnya dapat mencapai sekitar empat meter ternyata tidak terisi air hingga kedalaman tersebut.

“Padahal kedalaman dari broncaptering ini sebetulnya bisa sampai empat meter. Tapi kita lihat tadi ini kan tidak sampai satu meter,” ujarnya.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan perlunya rehabilitasi infrastruktur sebelum sumber air dioptimalkan. Wahyu menegaskan, rencana yang disiapkan bukan sekadar membongkar bangunan lama, melainkan merehabilitasi fasilitas dan membangun jaringan penghubung menuju pipa distribusi PDAM.

“Dari Perumda Tugu Tirta, dari Kementerian PU dan sudah ada lampu hijau, nanti akan merehabilitasi dan membangun jaringan agar bisa ada koneksi dari Sumber Air Merjosari ke pipa-pipa jaringan PDAM yang ada saat ini,” tegasnya.

Selain pengembangan jaringan distribusi, Pemkot Malang juga menaruh perhatian pada perlindungan kawasan di sekitar sumber air. Penanaman pohon dalam kegiatan WCD 2026 menjadi salah satu langkah untuk menjaga kualitas air sekaligus mempertahankan debitnya.

Wahyu mengatakan, pemerintah akan menyosialisasikan pentingnya menjaga kawasan di sekitar mata air kepada warga, terutama pemilik lahan yang berada dalam radius sumber air.

Menurut dia, kawasan tersebut diharapkan dapat diarahkan menjadi lahan konservasi sehingga aktivitas di sekitarnya tidak mengganggu kualitas maupun ketersediaan air.

“Radius dari sumber ini kita harapkan bisa menjadi lahan konservasi agar kualitas air ini tetap terjaga, termasuk juga debit airnya bisa tetap atau bahkan lebih baik, agar debit airnya tidak turun,” jelasnya.

Terkait potensi banjir, Wahyu menyebut berdasarkan keterangan warga, kawasan tersebut tidak menunjukkan indikasi banjir yang menjadi persoalan utama. Meski demikian, warga menginformasikan bahwa permukaan air sedikit meningkat ketika musim hujan karena kondisi wilayah yang berada di cekungan dan memiliki beberapa titik sumber air.

Di sisi lain, warga juga mengusulkan agar kawasan sumber air dapat dikembangkan sebagai wisata air. Wahyu menyatakan usulan tersebut dapat dibicarakan lebih lanjut melalui pendekatan kepada pemilik lahan, dengan tetap mempertimbangkan kepentingan konservasi.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *