Daerah

Pemkot Kediri Perkuat Sinergi Lintas OPD, Targetkan Kota Kediri Zero Anak Tidak Sekolah

7
×

Pemkot Kediri Perkuat Sinergi Lintas OPD, Targetkan Kota Kediri Zero Anak Tidak Sekolah

Share this article
Pemkot Kediri Perkuat Sinergi Lintas OPD, Targetkan Kota Kediri Zero Anak Tidak Sekolah
Rapat koordinasi lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Tim Pencegahan dan Penanganan ATS di Ruang Kartini Dinas Pendidikan Kota Kediri.(Foto:sudutkota.id/Kristian)

KOTA KEDIRI, Sudutkota.idPemerintah Kota (Pemkot) Kediri semakin serius mempercepat penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS). Melalui koordinasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD), Pemkot Kediri menyusun langkah konkret untuk memastikan anak usia sekolah yang belum mengenyam pendidikan dapat kembali memperoleh hak pendidikannya.

Upaya tersebut dibahas dalam rapat koordinasi Tim Pencegahan dan Penanganan ATS di Ruang Kartini Dinas Pendidikan Kota Kediri. Forum ini menjadi bagian dari strategi Pemkot Kediri untuk mewujudkan Kota Kediri zero ATS.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Kediri, Mandung Sulaksono, mengatakan rapat koordinasi tersebut merupakan tindak lanjut arahan Wali Kota Kediri agar persoalan ATS ditangani secara menyeluruh.

“Kegiatan ini untuk menindaklanjuti arahan Wali Kota Kediri agar kasus ATS di Kota Kediri tertangani secara tuntas dan dapat kembali mengenyam pendidikan,” terang Mandung, Jumat (28/8/2026).

Dalam rapat tersebut, tim lintas OPD mematangkan rencana kerja sesuai tugas dan kewenangan masing-masing. Salah satu fokus utama adalah memastikan validitas data ATS yang sebelumnya dirilis Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).

Data awal Kemendikdasmen mencatat sekitar 2.100 anak sebagai ATS di Kota Kediri. Namun, Pemkot Kediri menilai data tersebut masih perlu diverifikasi dan divalidasi agar sesuai dengan kondisi faktual di lapangan.

Mandung memberikan contoh adanya ketidaksesuaian data di Kelurahan Lirboyo. Dalam data awal, terdapat hampir 800 anak yang tercatat sebagai ATS di wilayah tersebut. Setelah dilakukan pengecekan, jumlah anak yang benar-benar merupakan warga Lirboyo ternyata jauh lebih sedikit.

“Sebagai contoh, di Kelurahan Lirboyo terdapat hampir 800 anak yang tercatat sebagai ATS. Dari sekitar 800 anak tersebut, yang benar-benar merupakan warga Kelurahan Lirboyo tidak lebih dari 50 anak. Artinya, data tersebut perlu dikonfirmasi dan diverifikasi kembali agar benar-benar menggambarkan kondisi ATS di Kota Kediri,” jelasnya.

Pemkot Kediri memahami bahwa persoalan ATS memiliki latar belakang yang beragam. Faktor ekonomi, tuntutan untuk bekerja, persoalan keluarga, hingga kondisi disabilitas menjadi sejumlah penyebab anak tidak melanjutkan pendidikan formal.

Karena itu, penanganan tidak dilakukan dengan satu pendekatan. Dinas Pendidikan bersama OPD terkait menyiapkan pendampingan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak, termasuk dukungan sosial serta akses pendidikan melalui jalur nonformal.

Pendidikan nonformal melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dan Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) menjadi salah satu alternatif yang disiapkan Pemkot Kediri. ATS dapat mengikuti program Paket A, B, maupun C dengan sistem pembelajaran berbasis modul dan waktu yang lebih fleksibel.

Bagi anak yang memiliki kendala untuk datang langsung ke lembaga pendidikan, layanan pendidikan juga dapat dilakukan dengan sistem penjemputan maupun menghadirkan tutor ke lokasi anak.

“Penanganan ATS kita lakukan dengan pendekatan dan menyesuaikan kondisi masing-masing anak. Apabila mereka mengalami kendala untuk datang ke lembaga pendidikan, kita siap melakukan penjemputan atau menghadirkan tutor dari PKBM. Dengan demikian, setiap anak tetap mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan,” ujar Mandung.

Pemkot Kediri juga mendorong pendidikan nonformal tidak sekadar menjadi jalan untuk mendapatkan ijazah. Peserta didik turut diberikan keterampilan praktis yang dapat menjadi bekal menuju kemandirian.

Sejumlah keterampilan yang diberikan antara lain potong rambut, tata rias, menjahit hingga memasak. Bekal tersebut diharapkan dapat membuka peluang bagi anak untuk memiliki keterampilan produktif, memperoleh penghasilan, serta meningkatkan kemandirian ekonomi.

Melalui koordinasi lintas OPD dan pemutakhiran data secara berkelanjutan, Pemkot Kediri optimistis penanganan ATS dapat dilakukan secara lebih tepat sasaran.

Verifikasi dan validasi data menjadi fondasi penting agar setiap anak yang benar-benar membutuhkan intervensi dapat segera mendapatkan pendampingan dan akses pendidikan.

Pemkot Kediri menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat kolaborasi hingga tidak ada lagi anak usia sekolah yang kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan.

Target Kota Kediri zero ATS diharapkan tidak hanya menjadi angka statistik, tetapi terwujud melalui hadirnya layanan pendidikan yang mudah diakses dan sesuai dengan kondisi setiap anak.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *