Daerah

Pak Mbois Turun ke Arjowinangun, Pawai Budaya Digelar Tanpa Sound Horeg

36
×

Pak Mbois Turun ke Arjowinangun, Pawai Budaya Digelar Tanpa Sound Horeg

Share this article
Pak Mbois Turun ke Arjowinangun, Pawai Budaya Digelar Tanpa Sound Horeg
Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat atau Pak Mbois menyaksikan tarian pembukaan Gebyar Arjowinangun ke-3, Sabtu (29/8/2026) malam.(Foto:sudutkota.id/Andik Agus Demit)

KOTA MALANG, Sudutkota.idWali Kota Malang, Wahyu Hidayat atau yang akrab disapa Pak Mbois menegaskan komitmennya menjaga ruang publik tetap nyaman melalui kegiatan seni dan budaya.

Hal itu disampaikan saat menghadiri Gebyar Arjowinangun ke-3 di Kelurahan Arjowinangun, Kecamatan Kedungkandang, Sabtu (29/8/2026) malam.

Gebyar yang digelar setiap tahun dalam rangka memperingati kemerdekaan Republik Indonesia tersebut tahun ini mengusung tema “Pawai Budaya Nusantara: Lestari Budayanya, Bersatu Warganya, Jaya Negerinya.”

Sebanyak 19 peserta dari unsur TK, SD, lembaga kemasyarakatan, dan RW di Kelurahan Arjowinangun ambil bagian dalam pawai. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ajang bagi Kelurahan Arjowinangun mewakili Kecamatan Kedungkandang dalam lomba pawai tingkat Kota Malang.

Wahyu mengapresiasi keterlibatan masyarakat yang dinilainya mampu menunjukkan kekompakan sekaligus menjadi ruang silaturahmi warga.

“Yang jelas tidak ada sound horeg. Alhamdulillah, karena kami melarang sound horeg yang ada di Kota Malang,” tegas Wahyu.

Menurutnya, pawai budaya tidak semestinya hanya berorientasi pada kemeriahan. Esensi utamanya adalah menghadirkan seni, tradisi, dan kearifan lokal kepada masyarakat, terutama generasi muda.

Wahyu mengingatkan, derasnya perkembangan teknologi membuat anak-anak muda semakin mudah mengakses budaya dari berbagai negara melalui gawai. Kondisi tersebut harus diimbangi dengan penguatan kecintaan terhadap budaya sendiri.

“Kalau bukan kita, siapa lagi?” ujarnya.

Karena itu, ia menilai pawai budaya seperti yang digelar di Arjowinangun menjadi momentum penting untuk menunjukkan bahwa budaya Nusantara memiliki daya tarik dan tidak kalah dengan budaya dari luar negeri.

Pawai tersebut juga menjadi bagian dari implementasi program unggulan Pemkot Malang Malang 1000 Event serta mendukung Dasa Bhakti “Ngalam Asyik, Ngalam Laris.”

Rangkaian pawai dimulai dari wilayah RW 4 dengan rute sekitar 1,2 kilometer. Beragam penampilan seni dan budaya ditampilkan peserta sepanjang perjalanan, termasuk kekayaan budaya Nusantara dan kearifan lokal Kota Malang.

Sementara itu, dewan juri dari sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) hadir melakukan penilaian dalam lomba pawai tingkat Kota Malang. Penilaian tersebut nantinya menentukan perwakilan terbaik dari masing-masing wilayah.

Wahyu berharap Arjowinangun mampu memberikan penampilan terbaik dan membawa nama Kecamatan Kedungkandang meraih penghargaan. Pemenang lomba akan memperoleh hadiah berupa uang, piala, dan piagam.

Di sisi lain, Wahyu meminta masyarakat menjadikan pawai tersebut sebagai hiburan sekaligus ruang mempererat persaudaraan. Ia mengingatkan agar jangan sampai keramaian justru memicu gesekan antarwarga.

“Jangan ada hal-hal yang tidak kita inginkan. Kadangkala nonton begini ada sedikit gesekan terus jadi bertengkar,” pesannya.

Menurut Wahyu, budaya harus dirawat bersama dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Gebyar Arjowinangun diharapkan tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga menjadi bukti bahwa pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan kebersamaan dan hiburan masyarakat.

“Selamat menonton dan manfaatkan pawai kebudayaan ini untuk menghibur,” pungkasnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *