JOMBANG, Sudutkota.id – Menjelang pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam Muktamar ke-35 NU turut diwarnai pertemuan dua tokoh Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Sabtu (29/8/2026).
Mantan Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siradj datang menemui pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin. Pertemuan keduanya berlangsung di Ndalem Kasepuhan Tebuireng.
Gus Kikin diketahui menjadi salah satu kandidat Ketua Umum PBNU dalam Muktamar ke-35 NU. Sementara Kiai Said merupakan mantan Ketua Umum PBNU selama dua periode, yakni 2010-2021.
Sebelum menuju Ndalem Kasepuhan, Kiai Said terlebih dahulu berziarah ke makam dzurriyah Tebuireng. Setelah itu, ia bertemu dan berbincang dengan Gus Kikin.
Di tengah pertemuan tersebut, Kiai Said bersama Gus Kikin kemudian melaksanakan salat hajat di kamar KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama.
Pertemuan itu berlangsung sehari menjelang proses pemilihan Ketua Umum PBNU yang menjadi salah satu agenda utama Muktamar ke-35 NU di Jombang.
Usai keluar dari kompleks Ndalem Kasepuhan Tebuireng, Kiai Said menyampaikan harapannya agar proses Muktamar NU berjalan aman dan tidak diwarnai ketegangan.
Ia mengatakan tidak membawa permintaan khusus dalam kunjungannya ke Tebuireng. Menurutnya, harapan utama adalah agar seluruh rangkaian muktamar berlangsung dengan damai.
“Gak ada yang lain. Gak ada gak ada yang diminta kecuali muktamar berjalan aman, damai, tenteram,” ujar Kiai Said kepada wartawan.
Menurut Kiai Said, Muktamar NU semestinya menjadi ruang berkumpulnya warga NU untuk memperkuat persatuan. Ia tidak ingin forum tersebut justru menjadi tempat mempertajam perbedaan antarkelompok.
“Menjadikan muktamar sebagai pestanya orang NU-lah, bukan tempat judi. Yang justru tadinya kurang bersatu jadi bersatu. Nyatanya ada ketegangan, justru di muktamar itu menghilangkan ketegangan. Jangan sebaliknya,” tuturnya.
Kiai Said juga memberikan tanggapan ketika ditanya mengenai pencalonan Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU.
Ia menyebut Gus Kikin sebagai dzurriyah atau keturunan pendiri NU. “Baik, baik. Dzurriyah,” kata Kiai Said singkat.





















