JAKARTA, Sudutkota.id – Kematian Muhammad Hasbi Al Aqib (7), siswa kelas II SDN 1 Kebondalem, Pemalang, Jawa Tengah, yang disebut menjadi korban perundungan, menjadi pengingat bahwa kekerasan terhadap anak masih menjadi persoalan serius.
Anggota Komisi VIII DPR RI, Atalia Praratya menekankan pentingnya keterlibatan orang tua, guru, dan lingkungan dalam mendeteksi serta mencegah kekerasan sejak dini.
Atalia menilai, keluhan atau cerita anak kepada orang terdekat tidak boleh diabaikan. Orang tua dan guru perlu memberi perhatian terhadap setiap tanda kekerasan, terutama karena anak masih bergantung pada orang dewasa untuk memperoleh perlindungan.
“Ketika ada sebuah kasus yang ternyata kemudian dengan sengaja disembunyikan, ini menjadi awareness bagi kita semua, baik bagi orang tua maupun guru sebagai lingkungan yang terdekat dengan anak,” kata Atalia dalam keterangannya, Minggu (11/10/2026).
Menurut Atalia, perilaku kekerasan tidak muncul begitu saja. Anak dapat meniru apa yang mereka lihat dari lingkungan sekitar, termasuk tayangan yang dikonsumsi dan perilaku orang dewasa. Karena itu, pencegahan tidak cukup hanya mengandalkan aturan, tetapi juga membutuhkan pengawasan dan keteladanan di lingkungan keluarga maupun sekolah.
“Karena itu pencegahan kekerasan terhadap anak harus dilakukan dengan pendekatan yang melibatkan berbagai elemen lingkungan,” ujar politikus Partai Golkar tersebut.
Atalia juga menyoroti sikap anak-anak yang menyaksikan perundungan, tetapi memilih diam, membiarkan, bahkan menyemangati pelaku. Budaya tersebut perlu diubah agar anak berani meminta bantuan ketika melihat temannya mengalami kekerasan, termasuk perundungan di ruang digital atau cyberbullying.
“Ketika mereka menemukan sebuah kejadian yang dilakukan oleh teman kepada temannya, maka yang lain yang melihat itu harus segera melapor. Jadi jangan sampai abai,” tegasnya.





















