Nasional

Karhutla Telan Korban Jiwa, Daniel Johan Soroti Keselamatan Petugas dan Warga

15
×

Karhutla Telan Korban Jiwa, Daniel Johan Soroti Keselamatan Petugas dan Warga

Share this article
Karhutla Telan Korban Jiwa, Daniel Johan Soroti Keselamatan Petugas dan Warga
Anggota Komisi IV DPR RI, Daniel Johan mendesak penguatan mitigasi karhutla menyusul jatuhnya korban jiwa di Bromo dan Samarinda.(Sudutkota.id/Staff)

JAKARTA, Sudutkota.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menelan korban jiwa. Anggota Komisi IV DPR RI, Daniel Johan mendesak pemerintah memperkuat pencegahan dan mengevaluasi keselamatan penanganan karhutla setelah empat petugas dan relawan meninggal saat memadamkan kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur.

“Kita kembali berduka atas hilangnya nyawa para petugas dan relawan akibat kebakaran hutan dan lahan, termasuk yang baru terjadi beberapa hari lalu di kawasan Bromo. Kami turut merasakan kesedihan keluarga yang ditinggalkan,” kata Daniel dalam keterangan tertulis, Rabu (21/10/2026).

Kebakaran di sekitar Blok Pusung Dawa, Desa Ngadirejo, Kabupaten Probolinggo, bermula dari ladang warga yang berbatasan dengan kawasan TNBTS. Medan sulit, keterbatasan sumber air, dan angin kencang menyulitkan pemadaman hingga sejumlah personel terjebak api. Tiga orang ditemukan meninggal di lokasi, sedangkan satu korban lainnya meninggal setelah dirawat di rumah sakit. Dua relawan juga mengalami luka bakar serius.

Daniel meminta Kementerian Kehutanan dan pengelola kawasan mengevaluasi prosedur operasi di wilayah berisiko tinggi, termasuk kesiapan jalur evakuasi, komunikasi antartim, serta perubahan arah angin dan pergerakan api.

“Setiap keputusan mengirim tim ke lokasi harus disertai kepastian mengenai risiko, jalur keluar, dan dukungan pertolongan. Ketika keadaan berubah, pimpinan operasi perlu memiliki informasi serta kewenangan untuk segera menyesuaikan penugasan,” ujarnya.

Korban jiwa juga terjadi di Samarinda, Kalimantan Timur. Seorang warga berinisial LJ, 60 tahun, meninggal setelah mengalami luka bakar sekitar 60 persen ketika berupaya memadamkan api bersama warga pada 13 Oktober. Daniel mengingatkan masyarakat agar tidak menghadapi kebakaran berbahaya tanpa pelatihan dan perlengkapan memadai.

Selain itu, seorang balita berusia satu tahun di Kecamatan Palaran, Samarinda, meninggal setelah mengalami sesak napas pada 15 Oktober. Keluarga menduga paparan asap karhutla berkontribusi terhadap gangguan pernapasan korban, tetapi penyebab pasti kematiannya masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan lebih lanjut.

“Hampir setiap hari kita mendengar kabar buruk mengenai Karhutla. Berapa banyak lagi nyawa warga harus dipertaruhkan karena hutan dan lahan dibakar demi kepentingan ekonomi sejumlah pihak?” kata Daniel.

Ia mendesak pemerintah memperkuat pengendalian karhutla dan memantau kualitas udara sebagai dasar perlindungan masyarakat. Menurutnya, penanganan juga harus mempertimbangkan risiko kekeringan, hujan ekstrem, banjir, dan longsor, terutama di wilayah dengan kerusakan hutan dan daerah aliran sungai.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *