Daerah

Kampung Tempo Dulu RW 16 Bunulrejo, Ketika Gotong Royong Warga Mengalahkan Sekadar Kompetisi

17
×

Kampung Tempo Dulu RW 16 Bunulrejo, Ketika Gotong Royong Warga Mengalahkan Sekadar Kompetisi

Share this article
Kampung Tempo Dulu RW 16 Bunulrejo, Ketika Gotong Royong Warga Mengalahkan Sekadar Kompetisi
Tampak warga RW 16 Kelurahan Bunulrejo, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, menampilkan berbagai produk kerajinan, kuliner dan hasil kreativitas warga dalam stand Kampung Tempo Dulu. Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang promosi UMKM warga serta upaya melestarikan budaya dan tradisi lokal.(Foto:sudutkota.id/Andik Agus Demit)

KOTA MALANG, Sudutkota.id – Lomba Kampung Tempo Dulu di RW 16, Kelurahan Bunulrejo, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, menjadi gambaran bagaimana kekompakan warga mampu menghidupkan kembali suasana kampung masa lalu.

Kegiatan yang digelar dengan melibatkan warga RT 01 hingga RT 05 tersebut tidak hanya menampilkan kreativitas kampung, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat silaturahmi, melestarikan budaya, mengenalkan kuliner tradisional sekaligus mendorong UMKM warga.

Sekretaris RW 16 Kelurahan Bunulrejo, Wiwin Puspita Rahayu, mengatakan kompetisi bukan tujuan utama dari kegiatan tersebut. Menurutnya, jauh lebih penting adalah bagaimana kegiatan mampu menggerakkan warga untuk kembali bergotong royong dan membangun kebersamaan.

“Kompetisi itu bisa ada yang kalah dan ada yang menang, tapi itu bukan tujuan satu-satunya. Tujuan kami adalah bagaimana kita bisa menggerakkan kebersamaan, gerakan gotong royong, dan rasa cinta tanah air,” kata Wiwin, Minggu (23/8/2026).

Kampung Tempo Dulu RW 16 Bunulrejo, Ketika Gotong Royong Warga Mengalahkan Sekadar Kompetisi
Tampak warga RW 16 Kelurahan Bunulrejo, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, mengenakan busana bernuansa tempo dulu dan mengikuti rangkaian Lomba Kampung Tempo Dulu. Kegiatan tersebut menjadi ajang mempererat kebersamaan, menghidupkan gotong royong, sekaligus melestarikan budaya dan tradisi warga.(Foto:sudutkota.id/Andik Agus Demit)

Menurutnya, semangat tersebut terlihat dari keterlibatan masyarakat dalam mempersiapkan seluruh rangkaian kegiatan. Warga secara swadaya ikut menyiapkan berbagai kebutuhan, mulai dari dekorasi kampung, gapura, pasar tradisional hingga panggung bernuansa tempo dulu.

Keterlibatan tidak hanya datang dari pengurus RW dan RT. PKK, Linmas, Karang Taruna serta warga ikut mengambil bagian dalam persiapan kegiatan.

“Mulai RT 1 sampai dengan RT 05 ternyata semuanya rukun dan bergotong royong. Tak pandang waktu, pagi, siang, sore, malam. Bahkan mereka rela berbagi apapun,” ujarnya.

Wiwin menegaskan, berbagai tampilan dalam Kampung Tempo Dulu tersebut merupakan hasil swadaya masyarakat. Warga bergerak setelah mendapat informasi mengenai agenda penilaian dan kedatangan dewan juri.

Menurutnya, partisipasi tersebut menunjukkan bahwa kegiatan berbasis lingkungan masih mampu menggerakkan masyarakat tanpa harus selalu menunggu dukungan besar dari luar.

“Mereka dengan penuh keikhlasan menampilkan karyanya. Ibu-ibu melalui makanan jadul dan luar biasa sekali,” katanya.

Kondisi tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa gotong royong masih memiliki tempat kuat di tengah kehidupan masyarakat perkotaan.

Tidak berhenti pada dekorasi kampung, warga juga menghadirkan beragam makanan tradisional. Stand UMKM dan bazar warga dipenuhi jajanan yang dahulu akrab dalam kehidupan masyarakat.

Di antaranya klepon, gatot, sawut, lupis dan berbagai olahan berbahan dasar singkong atau ketela.

Wiwin mengatakan pengenalan makanan tradisional menjadi bagian penting agar generasi muda tidak kehilangan pengetahuan mengenai pangan lokal.

“Kita mencoba generasi muda juga agar tahu, ‘Oh, pohong iku opo? Telo iku opo?’,” tuturnya.

Menurutnya, singkong dan ketela dapat diolah menjadi berbagai jenis makanan. Karena itu, keberadaan jajanan tradisional tidak semestinya hanya dianggap sebagai makanan masa lalu.

“Pohong, telo semuanya itu tidak hanya disuguhkan dalam bentuk seperti itu saja, tapi bisa menjadi 10 bahkan 15 olahan,” jelasnya.

Ia mencontohkan, di salah satu stand warga tersedia klepon, gatot, sawut dan lupis yang sengaja disiapkan untuk memperkenalkan kembali cita rasa kuliner tradisional.

Di sisi lain, Wiwin mengajak masyarakat yang hadir agar tidak hanya melihat-lihat stand UMKM. Warga juga diminta ikut membeli produk yang dijual sebagai bentuk dukungan langsung kepada pelaku usaha di lingkungan RW 16.

“Silakan berbelanja, UMKM kami siap melayani aneka hidangan yang mungkin ini bisa ditemui di era-era dulu,” ujarnya.

Ajakan tersebut menjadi bagian dari konsep kegiatan, di mana pelestarian budaya berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi warga.

Bagi warga RW 16, Lomba Kampung Tempo Dulu akhirnya bukan semata soal perebutan juara. Ada pesan sosial yang ingin dibangun melalui kegiatan tersebut, yakni menjaga kekompakan warga, memperkuat gotong royong, merawat budaya dan membuka ruang bagi UMKM lokal.

Wiwin pun memberikan apresiasi kepada seluruh unsur masyarakat yang terlibat.
Ia menilai keterlibatan Ketua RW, para Ketua RT, PKK, Linmas, Karang Taruna dan seluruh warga menjadi kekuatan utama sehingga suasana Kampung Tempo Dulu dapat diwujudkan secara bersama-sama.

“Yang jelas kami mengapresiasi dari RT 1 sampai RT 05. Panjenengan semua keren dan luar biasa,” pungkasnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *