JAKARTA, Sudutkota.id – Festival Pesona Kuliner Biak 2026 menjadi ruang promosi kekayaan budaya dan kuliner lokal Papua. Namun, manfaat kegiatan ini tidak hanya diukur dari pelestarian tradisi, tetapi juga dari sejauh mana festival mampu membuka peluang usaha dan meningkatkan pendapatan masyarakat setempat.
Anggota DPD RI, Lalita menyambut penyelenggaraan festival yang resmi dibuka di Kabupaten Biak Numfor, Papua, Senin (19/10/2026). Kegiatan tahunan tersebut mengangkat tradisi lokal, termasuk ritual Munara Fan Nanggi yang merupakan bagian dari tradisi Wor masyarakat Biak sebagai ungkapan rasa syukur atas kelimpahan hasil alam.
Lalita menilai tradisi tersebut memiliki nilai budaya yang penting karena mencerminkan hubungan masyarakat Biak dengan alam. Ia juga melihat festival ini sebagai peluang untuk memperkenalkan kuliner Papua sekaligus memperluas pasar bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal.
“Tradisi Munara Fan Nanggi adalah warisan budaya yang sangat bernilai tinggi, mencerminkan keharmonisan hubungan antara masyarakat Biak dengan alam raya. Melalui Festival Pesona Kuliner Biak ini, kita tidak hanya merayakan kekayaan tradisi dan rasa syukur atas hasil bumi, tetapi juga membuka peluang besar bagi UMKM lokal untuk mengenalkan keanekaragaman kuliner Papua ke kancah nasional maupun internasional,” ujar Lalita.
Meski demikian, promosi budaya dan kuliner perlu diikuti dukungan yang berkelanjutan agar manfaat ekonomi tidak berhenti selama festival berlangsung. Akses pasar, penguatan pelaku usaha, dan promosi pariwisata menjadi bagian penting agar potensi lokal dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Lalita menekankan perlunya komitmen pemerintah pusat dan daerah untuk mendukung agenda kebudayaan serta ekonomi kreatif, khususnya di kawasan Indonesia Timur. Menurutnya, potensi budaya dan pangan berbahan lokal yang ditampilkan dalam festival perlu terus dikembangkan agar berdampak langsung pada perekonomian masyarakat adat.
Ia berharap Festival Pesona Kuliner Biak dapat menjadi agenda rutin dalam kalender pariwisata nasional sekaligus mendorong generasi muda Papua menjaga identitas budayanya. Keberlanjutan festival pada akhirnya perlu ditopang bukan hanya oleh pelestarian tradisi, tetapi juga oleh manfaat nyata yang dirasakan pelaku UMKM dan masyarakat Biak.





















