Daerah

Dukungan untuk Yai Tain Menguat, Nahdliyin Serukan Muktamar NU Tanpa Politik Transaksional

13
×

Dukungan untuk Yai Tain Menguat, Nahdliyin Serukan Muktamar NU Tanpa Politik Transaksional

Share this article
Deklarasi dukungan terhadap Yai Tain di makam KH Abdul Wahab Chasbullah. (Foto: Sudutkota.id/Elok Apriyanto)

Sudutkota.id – Sejumlah Nahdliyin menggelar deklarasi dukungan terhadap pengasuh Pondok Pesantren Madrosatul Qur’an Tebuireng, KH Musta’in Syafi’ie atau Yai Tain, di kompleks makam salah satu muassis Nahdlatul Ulama (NU), KH Abdul Wahab Chasbullah, Tambakberas, Jombang, Rabu (25/8/2026).

Deklarasi dukungan terhadap Yai Tain tersebut digelar menjelang Muktamar NU ke-35 yang akan berlangsung di Jombang.

Para peserta menyerukan agar forum tertinggi NU tersebut tetap berjalan dengan menjunjung tinggi moralitas, persaudaraan, dan nilai-nilai yang diwariskan para muassis NU.

Sebelum deklarasi, peserta terlebih dahulu melakukan tawassul di makam Mbah Wahab. Kegiatan tersebut dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada salah satu pendiri NU sekaligus memohon keberkahan dan kelancaran pelaksanaan deklarasi.

Usai tawassul, para peserta menyampaikan deklarasi dukungan kepada Yai Tain. Mereka mengenakan kaos putih bertuliskan “KPK NU” sebagai simbol komitmen untuk mengawal moralitas dan marwah organisasi.

Koordinator deklarasi, Solihin, mengatakan dukungan tersebut muncul sebagai respons atas somasi dari tim kuasa hukum Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar serta laporan ke Bareskrim Polri terkait dugaan pencemaran nama baik terhadap Yai Tain.

Menurut Solihin, pernyataan yang disampaikan Yai Tain semestinya ditempatkan sebagai kritik moral terhadap arah kepemimpinan NU, bukan semata-mata dianggap sebagai serangan personal.

“Bagi kami, narasi Yai Tain adalah refleksi yang semestinya diterima sebagai pengingat oleh pengurus PBNU. Ini soal standar moral seorang Rais Aam dan soal bagaimana NU kembali kepada kesederhanaan yang diwariskan para muassis,” ujarnya.

Solihin mempertanyakan langkah hukum yang ditempuh terhadap Yai Tain. Ia menilai kritik yang disampaikan dalam kerangka moral dan kepentingan organisasi seharusnya tidak serta-merta dipandang sebagai pencemaran nama baik.

“Bagaimana mungkin sebuah gerakan moral, pengingat akhlak, dan pesan untuk menjaga marwah NU justru dianggap mencemarkan nama baik?” katanya.

Solihin menegaskan, somasi dan proses hukum yang dihadapi Yai Tain tidak membuat dukungan terhadapnya surut. Sebaliknya, ia menilai persoalan tersebut semakin menegaskan pentingnya pesan yang selama ini disampaikan Yai Tain terkait moralitas dan marwah NU.

“Justru dengan dilaporkannya Yai Tain, kami semakin yakin bahwa pesan tentang pentingnya menjaga moralitas dan marwah NU harus terus disuarakan,” tegasnya.

Dari kompleks makam Mbah Wahab, Solihin juga menyampaikan pesan kepada jajaran PWNU dan PCNU agar ikut menjaga pelaksanaan Muktamar NU ke-35.

Menurutnya, Muktamar sebagai forum tertinggi organisasi jangan sampai berubah menjadi arena politik transaksional yang mencederai nilai-nilai yang diwariskan para pendiri NU.

“Kami meminta kepada PWNU dan PCNU, tolong jaga Muktamar NU ini. Jangan jadikan Muktamar sebagai ajang politik transaksional. Malu kepada Mbah Wahab. Malu kepada para muassis yang membangun NU dengan keikhlasan, perjuangan, dan pengorbanan,” ujarnya.

Ia menambahkan, kelompok yang mengatasnamakan relawan KPK NU akan melakukan pengawalan terhadap proses Muktamar. Pengawalan tersebut, kata dia, termasuk mencermati berbagai indikasi transaksi politik maupun manuver yang dinilai dapat mencederai independensi forum.

“Kami akan mengawal. Kami akan mencermati setiap indikasi politik transaksional yang muncul dan, apabila menemukan dugaan pelanggaran atau praktik yang tidak semestinya, kami akan mengumpulkan bukti dan menyampaikannya melalui mekanisme yang tersedia,” katanya.

Menurut Solihin, pengawalan tersebut bukan ditujukan untuk mengintimidasi pihak tertentu. Ia menyebut langkah itu sebagai upaya memastikan Muktamar NU ke-35 berjalan secara bermartabat, transparan, dan sesuai dengan nilai-nilai organisasi.

Deklarasi dukungan terhadap Yai Tain di makam KH Abdul Wahab Chasbullah tersebut sekaligus menjadi simbol bahwa kritik terhadap kepemimpinan NU tidak semestinya selalu dipandang sebagai upaya melemahkan organisasi.

Solihin menilai kritik merupakan bagian dari tradisi amar ma’ruf sekaligus mekanisme moral untuk mengingatkan para pengurus agar tetap berada dalam koridor perjuangan yang diwariskan para muassis NU.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *