Daerah

DLH Kota Malang Angkat 1,5 Ton Sampah dari Sumber Air Merjosari, Warga Diminta Berhenti Buang Sampah ke Sungai

10
×

DLH Kota Malang Angkat 1,5 Ton Sampah dari Sumber Air Merjosari, Warga Diminta Berhenti Buang Sampah ke Sungai

Share this article
DLH Kota Malang Angkat 1,5 Ton Sampah dari Sumber Air Merjosari, Warga Diminta Berhenti Buang Sampah ke Sungai
Plt. Kepala DLH Kota Malang, Gamaliel Raymond Hatigoran Matondang, saat diwawancarai terkait pengangkatan sekitar 1,5 ton sampah dari kawasan Sumber Air Merjosari dalam rangkaian kegiatan World Cleanup Day (WCD) 2026.(Sudutkota.id/Agus Demit)

KOTA MALANG, Sudutkota.id – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang mengangkat sekitar 1,5 ton sampah dari kawasan Sumber Air Merjosari.

Temuan tersebut menjadi perhatian serius karena menunjukkan masih perlunya upaya berkelanjutan untuk menjaga kebersihan lingkungan dan mencegah pencemaran sumber air.

Pembersihan tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan World Cleanup Day (WCD) 2026 yang berlangsung di kawasan Sumber Air Merjosari dan aliran Sungai Metro, Jumat (9/10/2026).

Selain mengangkut sampah, kegiatan ini juga diarahkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan, terutama ke sungai dan kawasan sumber air.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala DLH Kota Malang, Gamaliel Raymond Hatigoran Matondang, menjelaskan bahwa pengangkatan sekitar 1,5 ton sampah tersebut menjadi pengingat pentingnya menjaga kebersihan lingkungan secara konsisten.

“Untuk persiapan di mata air ini, kita sudah mendapatkan kurang lebih 1,5 ton sampah,” ujar Raymond.

Menurutnya, kegiatan pembersihan tidak cukup hanya dilakukan dengan mengangkut sampah yang telanjur menumpuk. Perubahan perilaku masyarakat juga diperlukan agar kawasan yang telah dibersihkan tidak kembali menjadi tempat pembuangan sampah.

Ia berharap masyarakat memiliki kesadaran untuk menjaga kebersihan sungai dan sumber air dengan tidak membuang sampah sembarangan. Sebab, tanpa kedisiplinan warga, kegiatan pembersihan berisiko menjadi pekerjaan berulang tanpa menyelesaikan persoalan dari sumbernya.

“Jangan sampai setelah dibersihkan, sampah kembali menumpuk karena masih ada masyarakat yang membuang sampah sembarangan,” imbuh Raymond.

DLH Kota Malang juga mendorong edukasi pengelolaan sampah dengan melibatkan mahasiswa dan komunitas CPD Kota Malang. Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat pemahaman masyarakat, khususnya warga di sekitar kawasan sumber air, mengenai pentingnya memilah dan mengolah sampah.

Raymond menjelaskan, edukasi menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi timbulan sampah. Masyarakat perlu memahami bahwa sebagian sampah masih dapat dimanfaatkan kembali apabila dipilah dan dikelola dengan benar.

Dengan pengelolaan yang tepat, volume sampah yang dibuang dapat ditekan sehingga tidak seluruhnya berakhir di tempat pembuangan. Upaya tersebut sekaligus dapat mengurangi risiko sampah masuk ke saluran air dan sungai.

Menurutnya, kegiatan edukasi harus berjalan beriringan dengan aksi pembersihan di lapangan. Tanpa perubahan kebiasaan, sampah akan terus menjadi persoalan berulang dan berpotensi mengancam kelestarian lingkungan.

“Edukasi kepada masyarakat penting agar pengelolaan sampah bisa dimulai dari rumah. Jadi, bukan hanya membersihkan sampah yang sudah menumpuk, tetapi juga mencegah supaya sampah tidak kembali mencemari lingkungan,” tegas Raymond.

Raymond turut menyoroti pentingnya menjaga keberadaan sumber air di Kota Malang. Menurutnya, kawasan sumber air memiliki nilai strategis bagi lingkungan sehingga kebersihan dan kelestariannya perlu dijaga bersama.

Ia menjelaskan bahwa sumber air yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat melalui layanan PDAM berasal dari sejumlah lokasi di wilayah Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu.

Karena itu, perlindungan sumber air dari sampah dan pencemaran perlu menjadi perhatian bersama. Kerusakan lingkungan di sekitar sumber air tidak boleh dianggap sebagai persoalan sepele karena berkaitan dengan keberlanjutan sumber daya air.

Raymond juga melihat potensi pengembangan kawasan sumber air menjadi ruang yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat, termasuk sebagai kawasan wisata berbasis lingkungan. Namun, pengembangan tersebut harus disertai penataan yang baik dan tetap mengutamakan perlindungan kawasan.

“Kalau kawasan sumber air bisa dijaga kebersihan dan kelestariannya, tentu manfaatnya akan lebih besar. Karena itu, penataan kawasan harus tetap memperhatikan lingkungan,” imbuh Raymond.

Ia menegaskan bahwa upaya menjaga sumber air tidak bisa dilepaskan dari pengendalian sampah. Kesadaran masyarakat menjadi salah satu kunci agar kawasan tersebut tetap bersih dan tidak mengalami pencemaran akibat kebiasaan membuang sampah sembarangan.

Pengangkatan sekitar 1,5 ton sampah dari kawasan Sumber Air Merjosari menjadi catatan penting dalam pelaksanaan kegiatan WCD 2026. Jumlah tersebut menunjukkan perlunya perhatian lebih terhadap perilaku membuang sampah dan pengelolaan lingkungan di sekitar sumber air.

Pemerintah melalui DLH dapat melakukan pembersihan dan sosialisasi. Namun, keberhasilan menjaga kebersihan lingkungan juga bergantung pada partisipasi masyarakat dalam menerapkan kebiasaan membuang dan mengelola sampah secara bertanggung jawab.

Raymond menegaskan bahwa kegiatan WCD tidak seharusnya berhenti sebagai agenda seremonial atau aksi bersih-bersih sesaat. Hasil kegiatan perlu dipertahankan melalui edukasi berkelanjutan dan keterlibatan aktif masyarakat.

“Yang paling penting adalah bagaimana masyarakat ikut menjaga kebersihan setelah kegiatan ini. Jangan sampai sampah yang sudah diangkat justru kembali menumpuk di tempat yang sama,” tegas Raymond.

Ia berharap kolaborasi antara pemerintah, mahasiswa, komunitas, dan masyarakat dapat memperkuat gerakan pengurangan sampah di Kota Malang. Dengan keterlibatan berbagai pihak, upaya menjaga sungai dan sumber air diharapkan menjadi kebiasaan bersama, bukan hanya dilakukan ketika ada kegiatan tertentu.

“Harapannya, masyarakat semakin sadar bahwa sungai dan sumber air bukan tempat pembuangan sampah. Kebersihan lingkungan harus dijaga bersama agar manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka panjang,” pungkasnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *