Featured

Bella Vista, Jejak Kemegahan Kota Malang yang Kini Terbelit Sengketa: Dari Rumah Percontohan Hindia Belanda hingga Berujung di Pengadilan

30
×

Bella Vista, Jejak Kemegahan Kota Malang yang Kini Terbelit Sengketa: Dari Rumah Percontohan Hindia Belanda hingga Berujung di Pengadilan

Share this article
Bella Vista, Jejak Kemegahan Kota Malang yang Kini Terbelit Sengketa: Dari Rumah Percontohan Hindia Belanda hingga Berujung di Pengadilan
Bangunan bersejarah Bella Vista di Jalan Gajah Mada, Kelurahan Kiduldalem, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Vila peninggalan Hindia Belanda yang berada di timur Balai Kota Malang dan berbatasan langsung dengan kompleks DPRD Kota Malang itu kini tampak kurang terawat serta menjadi objek sengketa hukum yang masih bergulir di Pengadilan Negeri Malang.(foto:sudutkota.id/mit)

Sudutkota.id – Di balik rindangnya pohon-pohon beringin yang menutupi hampir seluruh sisi bangunan di Jalan Gajah Mada, Kelurahan Kiduldalem, Kecamatan Klojen, Kota Malang, berdiri sebuah bangunan tua yang menjadi saksi perjalanan panjang Kota Malang sejak era kolonial Belanda.

Bangunan bernama Bella Vista itu berada di kawasan yang sangat strategis, tepat di sebelah timur Balai Kota Malang dan berbatasan langsung dengan kompleks Gedung DPRD Kota Malang, hanya dipisahkan oleh satu tembok pembatas.

Lokasi tersebut menjadikan Bella Vista sebagai salah satu bangunan bersejarah paling bernilai di jantung pemerintahan Kota Malang. Namun, di balik nilai sejarahnya yang tinggi, bangunan itu kini justru menjadi objek sengketa hukum yang tengah bergulir di Pengadilan Negeri Malang.

Pantauan wartawan Sudutkota.id, Minggu (19/7/2026), memperlihatkan kondisi Bella Vista yang semakin memprihatinkan. Dari luar pagar besi berwarna hijau, bangunan induk nyaris tak terlihat karena tertutup rimbunnya pohon beringin berusia puluhan tahun yang akar-akarnya menjalar hingga ke trotoar.

Cat dinding bangunan terlihat kusam dan mengelupas. Beberapa bagian kusen tampak lapuk dimakan usia. Halaman depan yang dahulu menjadi taman luas kini telah berubah fungsi. Di sisi depan berdiri bangunan semi permanen yang digunakan sebagai tempat usaha, sementara di sudut lain tampak beberapa kios. Bangunan utama yang dahulu menjadi simbol kemewahan kawasan elite Malang kini tampak sepi tanpa aktivitas berarti.

Ironisnya, banyak masyarakat yang melintas di kawasan tersebut tidak lagi mengetahui bahwa di balik pepohonan itu berdiri salah satu bangunan paling bersejarah di Kota Malang.

Bella Vista diperkirakan dibangun sekitar 1920 hingga 1925, bahkan usianya lebih tua dibandingkan Gedung Balai Kota Malang yang mulai dibangun pada 1927. Vila tersebut menjadi bagian penting dari program Bouwplan I, yaitu rencana besar pemerintah Hindia Belanda dalam membangun kawasan permukiman elite di Kota Malang sejak 1917.

Dalam konsep pembangunan itu, pemerintah kolonial merancang kawasan permukiman orang Eropa yang dikenal sebagai Oranjebuurt, meliputi kawasan Jalan Dr. Sutomo, Jalan Diponegoro, Jalan Dr. Cipto, Jalan RA Kartini, Jalan MH Thamrin hingga Jalan Cokroaminoto.

Menurut Tim Ahli Cagar Budaya Kota Malang, Bella Vista diduga dibangun sebagai rumah percontohan (model house) sebelum rumah-rumah lain di kawasan tersebut didirikan. Arsitektur Bella Vista menjadi acuan pembangunan kawasan elite yang hingga kini masih menjadi salah satu kawasan heritage Kota Malang.

Nama Bella Vista berasal dari bahasa Italia yang berarti “pemandangan yang indah”. Nama tersebut diberikan karena pada masa kolonial bagian selatan bangunan langsung menghadap Sungai Brantas. Posisi vila yang berada di dataran lebih tinggi membuat penghuni dapat menikmati panorama sungai dan pepohonan yang masih alami, sehingga menjadi tempat peristirahatan favorit kalangan elite Belanda.

Bangunan ini mengusung gaya Nieuwe Indische Bouwstijl, perpaduan arsitektur Eropa dengan penyesuaian iklim tropis Nusantara. Atap tinggi, teras yang lebar, ventilasi besar, paviliun di bagian belakang, dapur terpisah serta halaman yang luas menjadi ciri khas bangunan tersebut. Hingga kini, bentuk dasar arsitekturnya masih relatif utuh meski sejumlah ornamen dan bagian interior dilaporkan telah banyak hilang akibat minimnya perawatan.

Perjalanan sejarah Bella Vista juga melewati berbagai periode penting. Hingga tahun 1942 bangunan tersebut dihuni keluarga Belanda. Saat Jepang menduduki Indonesia, bangunan itu sempat dimanfaatkan sebagai kantor pendukung pemerintahan militer Jepang. Setelah Indonesia merdeka, bangunan tersebut beberapa kali berganti penghuni dan pada dekade 1990-an bahkan pernah dimanfaatkan sebagai tempat kursus komputer sebelum akhirnya kembali kosong dan perlahan mengalami kerusakan.

Nilai sejarah Bella Vista semakin kuat karena bangunan ini juga disebut pernah menjadi tempat persinggahan Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, ketika melakukan kunjungan ke Kota Malang pada awal 1950-an. Kedekatannya dengan Balai Kota menjadikan vila tersebut memiliki posisi strategis dalam berbagai kegiatan pemerintahan saat itu.

Kini, bangunan yang menjadi bagian penting sejarah pembangunan Kota Malang tersebut justru berada dalam pusaran sengketa kepemilikan. Perkara dugaan penyerobotan lahan dan memasuki pekarangan tanpa izin masih disidangkan di Pengadilan Negeri Malang dan belum memperoleh putusan yang berkekuatan hukum tetap.

Di tengah proses hukum yang masih berlangsung, Bella Vista terus menua tanpa kepastian. Bangunan yang dahulu menjadi simbol lahirnya kawasan elite Kota Malang itu kini berdiri sunyi di tengah kawasan pemerintahan, menunggu penyelesaian sengketa sekaligus harapan agar dapat diselamatkan sebagai salah satu warisan sejarah penting Kota Malang, bukan justru hilang ditelan zaman.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *