Peristiwa

Kebakaran TPA Supiturang Meluas ke Selatan, 8 Hektare Terbakar dan Api Mengancam Aset di Dekat Permukiman

20
×

Kebakaran TPA Supiturang Meluas ke Selatan, 8 Hektare Terbakar dan Api Mengancam Aset di Dekat Permukiman

Share this article
Kebakaran TPA Supiturang Meluas ke Selatan, 8 Hektare Terbakar dan Api Mengancam Aset di Dekat Permukiman
Plt Kepala DLH Kota Malang, Gabriel Raymond Hatigoran Matondang bersama Wali Kota Malang Wahyu Hidayat, Ketua Komisi C DPRD Kota Malang Anas, dan Kepala UPT Pemadam Kebakaran (Damkar) Satpol PP Kota Malang Pandu Rizki Darmawan saat berkoordinasi terkait penanganan kebakaran di TPA Supiturang.(Sudutkota.id/Agus Demit)

KOTA MALANG, Sudutkota.id – Kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Supit Urang, Kota Malang, belum berhasil dipadamkan sepenuhnya hingga, Kamis (22/10/2026) malam.

Perubahan arah angin membuat perambatan api bergeser ke sisi selatan, mendekati wilayah Desa Jedong, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, serta sejumlah aset milik badan usaha di sekitar kawasan tersebut.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang, Gabriel Raymond Hatigoran Matondang, mengatakan perubahan arah perambatan api terjadi sejak siang hingga sore setelah kunjungan Wakil Wali Kota Malang ke lokasi kebakaran.

“Dari perkembangan situasi terkini, setelah kunjungan Pak Wakil Wali Kota, dari siang menuju sore hari perkembangan api ini berubah. Sebelumnya mengarah ke bagian barat laut, termasuk bagian timur, tetapi kemudian berbalik arah dan menyasar ke selatan, mendekati wilayah Desa Jedong, Kecamatan Wagir,” ujar Raymond, Kamis (22/10/2026) malam.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat petugas harus memperkuat penyekatan agar kobaran api tidak semakin meluas dan mendekati aset-aset milik badan usaha di sekitar TPA Supit Urang.

“Upaya yang kami lakukan adalah penyekatan supaya perambatan api ini tidak menyebar lebih luas atau semakin mendekati aset-aset yang ada di sekitar kawasan tersebut,” tegasnya.

Raymond menjelaskan, cepatnya perambatan api dipengaruhi kombinasi material yang mudah terbakar, kondisi vegetasi yang mengering selama musim kemarau, serta kencangnya embusan angin. Kawasan yang terbakar juga merupakan zona lama TPA yang telah ditutup, tetapi masih menyisakan timbunan sampah dan rerumputan kering.

“Selain material yang terbakar berupa tumpukan sampah, termasuk material organik dan plastik, kawasan ini merupakan zona lama TPA yang sudah ditutup. Kondisi rerumputan saat ini sangat kering sehingga perambatan api berlangsung luar biasa cepat,” jelasnya.

Di tengah perubahan arah api, petugas memprioritaskan penanganan pada titik-titik yang mengarah ke sisi selatan, terutama bagian yang mendekati permukiman warga.

Raymond mengungkapkan, arah angin pada Kamis malam justru membuat penanganan di sisi barat dan utara TPA berisiko bagi keselamatan petugas. Kepulan asap dari kawasan tersebut terus terbawa angin sehingga dapat mengganggu personel yang melakukan pemadaman.

“Pada malam ini angin mengarah ke sisi barat dan utara zona TPA. Kalau kami memaksakan pemadaman di sisi tersebut, keselamatan petugas bisa terancam karena terus-menerus terpapar kepulan asap. Karena itu, kami memprioritaskan penanganan sekaligus mengutamakan keselamatan rekan-rekan petugas,” paparnya.

Selain arah angin, medan yang curam juga menjadi tantangan serius. Terdapat bagian kawasan dengan jurang berketinggian sekitar 30 meter yang menyulitkan petugas menjangkau titik api, khususnya pada malam hari.

Raymond mengatakan, sejumlah titik bara dan asap masih muncul dari bagian bawah timbunan sampah, meskipun permukaan tanah terlihat sudah tidak menyala.

“Masih banyak titik api tersembunyi yang kedalamannya belum diketahui secara pasti. Dari atas terkadang terlihat sudah tidak ada bara, tetapi setelah ditinggalkan, muncul kembali kepulan asap dari bawah. Kalau diabaikan, bara itu bisa kembali membesar menjadi api,” ungkapnya.

Kondisi tersebut membuat proses pemadaman tidak cukup hanya dilakukan dengan menyiram permukaan. Petugas harus memastikan titik-titik bara di bawah timbunan benar-benar terbasahi agar api tidak kembali muncul dan merambat ke area lain.

Berdasarkan keterangan Raymond, luas keseluruhan kawasan TPA Supit Urang yang disebut dalam penjelasannya mencapai 32 hektare. Dari luasan tersebut, sekitar delapan hektare dilaporkan terdampak kebakaran.

Ia menjelaskan, area TPA terdiri atas zona pembuangan sampah baru dan kawasan timbunan lama. Sebagian area yang terbakar berada di zona lama, dengan persebaran titik api membentang dari sisi selatan hingga utara.

“Total keseluruhan ada luasan delapan hektare yang terbakar. Sebarannya mulai dari selatan sampai utara. Yang menyulitkan adalah posisi di kompleks itu terdapat jurang dengan ketinggian kurang lebih 30 meter, sehingga pada malam hari tidak memungkinkan bagi petugas untuk turun ke bawah,” jelasnya.

Petugas berencana melanjutkan penanganan pada titik-titik yang belum terjangkau saat kondisi lebih terang pada Jumat pagi. Pengalaman selama dua hari pemadaman diharapkan membantu personel mengenali medan dan menentukan titik penyiraman secara lebih efektif.

Meski demikian, upaya tersebut masih menghadapi risiko munculnya kembali bara dari dalam timbunan sampah, terutama di bagian yang sulit dijangkau dan ditumbuhi rerumputan kering.

Untuk mempercepat penanganan, Pemkot Malang memaksimalkan sarana dan personel yang tersedia serta menerima dukungan dari berbagai instansi di Malang Raya.

Bantuan datang dari Damkar Kabupaten Malang, kendaraan water cannon kepolisian, Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Malang (UM), pihak perusahaan rokok, serta unsur TNI melalui Kodim dan instansi lainnya.

Raymond mengapresiasi keterlibatan berbagai pihak yang bergotong royong membantu pemadaman di tengah sulitnya medan dan cepatnya perambatan api.

“Untuk sarana prasarana dan tim, kami maksimalkan yang ada. Kami juga mengharapkan bantuan dari rekan-rekan di wilayah Malang Raya. Alhamdulillah, sejumlah instansi sudah bergabung dan saling membantu agar kebakaran ini bisa segera ditangani,” katanya.

Namun, hingga Kamis malam, belum ada kepastian kapan seluruh titik api dapat dipadamkan. DLH bersama tim gabungan masih berupaya menekan penyebaran api, khususnya pada bagian selatan dan barat yang sulit dijangkau.

Raymond menegaskan, proses pemadaman akan terus dilanjutkan dengan mempertimbangkan kondisi medan, arah angin, serta keselamatan personel.

“Kami akan terus berupaya secepat mungkin melakukan pemadaman. Yang terpenting, perambatan api bisa dikendalikan dan titik-titik yang masih menyimpan bara dapat ditangani,” tegasnya.

Dalam rapat koordinasi bersama Sekretaris Daerah, BPBD, Satpol PP, serta unsur terkait, Pemkot Malang turut membahas kemungkinan dukungan hujan buatan melalui koordinasi dengan pemerintah provinsi.

Raymond menyebut rencana tersebut diharapkan membantu menambah curah hujan dan mendukung pembasahan kawasan yang terbakar. Namun, rencana itu masih memerlukan koordinasi lebih lanjut dan tidak dapat menjadi satu-satunya tumpuan dalam penanganan kebakaran.

“Pembasahan yang dilakukan hari ini belum bisa memadamkan seluruh api. Karena itu, kami tetap mengupayakan pemadaman secara langsung sembari membahas kemungkinan dukungan hujan buatan,” ujarnya.

Ia menambahkan, kelelahan personel juga menjadi pertimbangan dalam pengaturan waktu pemadaman. Setelah bekerja hingga larut malam selama dua hari, petugas perlu menjaga kondisi fisik agar dapat kembali melakukan penyiraman secara optimal pada Jumat pagi.

Di tengah upaya pemadaman, Raymond menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat yang terdampak asap kebakaran. Ia mengatakan, dukungan penanganan dampak kesehatan juga dilakukan, termasuk penyediaan masker bagi warga di sekitar kawasan terdampak.

Namun, ia mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran sampah secara sembarangan, khususnya di sekitar TPA Supit Urang.

Menurutnya, pembakaran sampah yang awalnya terlihat kecil dapat memicu kebakaran lebih besar ketika api menyambar rerumputan kering. Kondisi kawasan bekas timbunan sampah yang memiliki kontur miring membuat api berpotensi menjalar dan sulit dijangkau petugas.

“Kami dari dinas pemadam menyampaikan permohonan maaf atas kejadian ini. Kami sangat berharap masyarakat tidak mengulangi pembakaran sampah, terutama di sekitar kawasan TPA. Api yang awalnya diperkirakan cepat mati ternyata bisa membesar dan melompat mengenai rerumputan kering,” imbaunya.

Raymond menegaskan, pencegahan harus menjadi perhatian bersama karena kebakaran di kawasan timbunan sampah bukan hanya menyulitkan proses pemadaman, tetapi juga berpotensi mengancam keselamatan petugas, aset di sekitar TPA, serta warga yang tinggal berdekatan dengan lokasi.

Hingga Kamis malam, petugas gabungan masih berupaya mengendalikan titik-titik api yang tersisa. Fokus penanganan diarahkan pada area yang mendekati permukiman dan kawasan yang sulit dijangkau, sembari menyiapkan penyiraman lanjutan pada Jumat pagi.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *