Peristiwa

Karhutla TNBTS Meluas, Pos Jemplang Ngadas Masuk Zona Waspada

12
×

Karhutla TNBTS Meluas, Pos Jemplang Ngadas Masuk Zona Waspada

Share this article
Karhutla TNBTS Meluas, Pos Jemplang Ngadas Masuk Zona Waspada
Petugas gabungan dari TNI, Polri, Balai Besar TNBTS, BPBD, Perhutani, dan relawan berjibaku memadamkan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di kawasan Bukit Bantengan, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Rabu (5/8/2026).(Foto:sudutkota.id/Polsek Poncokusumo)

Sudutkota.id – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) masih belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Hingga Rabu (5/8/2026), kobaran api yang melanda Bukit Bantengan, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, terus bergerak mendekati perbatasan Kabupaten Malang, membuat kawasan Pos Jemplang, Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, ditetapkan dalam status siaga sebagai langkah antisipasi rembetan api.

Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena kebakaran yang telah berlangsung sejak beberapa hari terakhir belum berhasil dikendalikan sepenuhnya. Selain dipengaruhi cuaca kemarau, angin kencang dan vegetasi ilalang yang mengering menyebabkan api terus berpindah dan memunculkan titik-titik bara baru di kawasan perbukitan.

Kapolsek Poncokusumo, AKP Teguh Iman Sugiharto, SH, saat dikonfirmasi Sudutkota.id, mengatakan seluruh unsur gabungan masih melakukan pengamanan sekaligus pemadaman agar api tidak memasuki wilayah Kabupaten Malang.

“Pos Jemplang menjadi fokus pengamanan kami. Personel gabungan terus melakukan penyisiran terhadap titik api maupun bara yang masih aktif agar kebakaran tidak merembet ke wilayah Ngadas,” ujar AKP Teguh.

Sebanyak 80 personel gabungan diterjunkan dalam operasi tersebut. Mereka berasal dari Polsek Poncokusumo, Koramil 0818/24 Poncokusumo, Balai Besar TNBTS, BPBD Kabupaten Malang, BPBD Kabupaten Probolinggo, BPBD Provinsi Jawa Timur, Perhutani BKPH Tumpang, Resort Trisula, Masyarakat Peduli Api (MPA), Masyarakat Mitra TNBTS, hingga relawan kebencanaan.

Berdasarkan laporan di lapangan, sejak pukul 03.00 WIB kobaran api masih terlihat membakar lereng Bukit Bantengan. Medan yang curam membuat api sempat turun ke lereng sebelum kembali merambat ke bagian atas bukit akibat embusan angin yang berubah arah.

Memasuki pukul 06.00 WIB, api belum berhasil dipadamkan dan bergerak menuju dua arah sekaligus, yakni ke Pos Jemplang di Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, dan ke kawasan Savana di wilayah Kabupaten Probolinggo. Jarak antara titik api dengan wilayah Kabupaten Malang diperkirakan hanya sekitar 189,5 meter, sehingga petugas meningkatkan status kewaspadaan di kawasan perbatasan.

Pada pukul 08.30 WIB, tim gabungan melakukan penyisiran intensif terhadap lokasi yang masih mengeluarkan asap dan bara api. Pemadaman dilakukan menggunakan sprayer elektrik, hydrant portable, garuk besi, hingga metode manual dengan memukul bara api menggunakan ranting pohon basah agar tidak kembali membesar. Namun hingga pukul 13.00 WIB, api dilaporkan masih belum berhasil dipadamkan sepenuhnya.

AKP Teguh menjelaskan bahwa tantangan utama bukan hanya luasnya area yang terbakar, tetapi juga karakteristik lokasi kebakaran yang berada di tebing dengan ilalang kering sebagai bahan bakar alami.

“Medan yang terjal menyulitkan mobilisasi personel maupun peralatan. Di sisi lain, angin yang cukup kencang membuat bara api mudah berpindah sehingga potensi munculnya titik api baru tetap tinggi. Karena itu penyisiran terus dilakukan untuk memastikan tidak ada bara yang tersisa,” jelasnya.

Data sementara menunjukkan sekitar 51 hektare kawasan hutan di Bukit Bantengan telah terdampak kebakaran sejak Selasa (4/8/2026). Luasan tersebut masih berpotensi bertambah apabila kondisi cuaca tetap kering dan angin terus bertiup kencang.

Situasi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa penanganan Karhutla tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman ketika api sudah membesar. Penguatan patroli terpadu, deteksi dini, pembatasan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran selama musim kemarau, hingga pengawasan kawasan konservasi perlu terus ditingkatkan agar kebakaran serupa tidak terus berulang setiap tahun.

Hingga berita ini diturunkan, petugas gabungan masih bersiaga di Bukit Bantengan dan Pos Jemplang. Fokus utama saat ini adalah menahan laju api agar tidak memasuki wilayah Kabupaten Malang serta melindungi kawasan konservasi TNBTS dari kerusakan yang lebih luas.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *