KOTA MALANG, Sudutkota.id – Ancaman cuaca panas dan kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia menuntut langkah mitigasi yang lebih terukur dan berkelanjutan.
Pemerintah tidak cukup hanya mengandalkan imbauan, tetapi perlu memperkuat pemantauan lingkungan, efisiensi penggunaan air, serta pemanfaatan teknologi untuk mengantisipasi risiko yang berdampak pada kesehatan, pertanian, dan ketersediaan air.
Hal tersebut disampaikan Ir. Priyanto, S.T., M.Kom., mahasiswa Program Doktor (S3) Manajemen Rekayasa Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, Rabu (21/10/2026).
Menurut Priyanto, perubahan kondisi cuaca merupakan tantangan multidimensi yang membutuhkan integrasi ilmu pengetahuan, teknologi, dan manajemen risiko. Pengambilan keputusan harus didukung data yang akurat agar langkah penanganan sesuai dengan kebutuhan dan kerentanan setiap wilayah.
“Cuaca panas dan kekeringan merupakan tantangan multidimensi. Penanganannya membutuhkan integrasi teknologi, pengelolaan sumber daya, identifikasi risiko, serta pengambilan keputusan berbasis data,” ujarnya.
Ia menjelaskan, peningkatan suhu udara dapat dipengaruhi intensitas radiasi matahari, minimnya tutupan awan, pola angin, dan karakteristik permukaan wilayah. Di kawasan perkotaan, dominasi bangunan beton dan aspal serta minimnya vegetasi juga dapat memperparah fenomena Urban Heat Island, yakni kondisi ketika suhu perkotaan lebih tinggi dibandingkan wilayah sekitarnya.
Karena itu, mitigasi cuaca panas tidak boleh berhenti pada respons sesaat. Perencanaan jangka panjang diperlukan untuk mengurangi risiko lingkungan sekaligus menjaga kesehatan dan produktivitas masyarakat.
Priyanto menyoroti pemanfaatan Internet of Things (IoT), Artificial Intelligence (AI), dan Digital Twin sebagai teknologi yang berpotensi mendukung pengelolaan risiko lingkungan.
Melalui IoT, perangkat sensor dapat mengumpulkan data suhu udara, kelembapan, curah hujan, radiasi matahari, dan kelembapan tanah secara berkala. Data tersebut selanjutnya dapat dianalisis menggunakan AI untuk membantu mengenali pola perubahan lingkungan dan mendeteksi potensi risiko.
Menurut dia, pemantauan berbasis teknologi dapat membantu pemerintah mengidentifikasi wilayah yang rentan mengalami kekeringan maupun peningkatan suhu. Informasi tersebut juga dapat digunakan untuk menentukan prioritas penanganan secara lebih terarah.
“Pemanfaatan teknologi memungkinkan pengambilan keputusan dilakukan secara lebih cepat dan terukur. Namun, sistem yang dibangun harus didukung data yang akurat, infrastruktur memadai, dan sumber daya manusia yang mampu mengoperasikannya,” jelasnya.
Selain itu, teknologi Digital Twin dapat digunakan untuk membuat representasi digital dari suatu kawasan berdasarkan data aktual. Model tersebut memungkinkan pemerintah mengevaluasi sejumlah skenario sebelum menerapkan kebijakan di lapangan.
Sebagai contoh, pemerintah daerah dapat menyimulasikan dampak penambahan pohon peneduh, pengembangan ruang terbuka hijau, dan penggunaan material bangunan yang mengurangi penyerapan panas terhadap kondisi lingkungan perkotaan.
Pada sektor pertanian, teknologi serupa berpotensi membantu memperkirakan kebutuhan air tanaman berdasarkan kelembapan tanah, suhu, jenis tanaman, dan prakiraan cuaca.
Meski demikian, Priyanto mengingatkan bahwa keandalan simulasi tetap bergantung pada kualitas data, ketepatan model, serta validasi melalui pengamatan langsung. Teknologi tidak boleh sekadar menjadi pajangan digital, tetapi harus menghasilkan manfaat nyata yang dapat diukur.
Cuaca panas berkepanjangan juga berpotensi meningkatkan risiko dehidrasi, kelelahan akibat panas, dan penurunan konsentrasi. Kelompok yang beraktivitas di luar ruangan, seperti petani, pekerja konstruksi, dan petugas transportasi, menjadi pihak yang perlu mendapat perhatian.
Priyanto menilai, perlindungan terhadap pekerja dan masyarakat harus menjadi bagian dari manajemen risiko. Upaya yang dapat dilakukan meliputi pengaturan waktu aktivitas, penyediaan air minum yang cukup, pemberian waktu istirahat, serta penerapan prosedur keselamatan sesuai kondisi cuaca.
Di sektor pertanian, keterbatasan air dapat mengganggu irigasi dan produktivitas tanaman. Jika tidak diantisipasi, dampaknya berpotensi meluas hingga mengganggu ketahanan pangan dan perekonomian masyarakat.
Karena itu, pengelolaan sumber daya air perlu diperkuat melalui penampungan air, pemantauan kebutuhan, dan penggunaan sistem irigasi yang sesuai dengan kondisi lahan.
Efisiensi air, menurutnya, harus menjadi bagian dari strategi menghadapi periode kering, bukan hanya dilakukan ketika pasokan mulai terganggu.
Dalam perspektif Manajemen Rekayasa, Priyanto mendorong lima langkah strategis untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi cuaca panas dan kekeringan.
Pertama, membangun sistem pemantauan lingkungan berbasis teknologi digital untuk mengetahui perubahan suhu, curah hujan, dan ketersediaan air secara berkala.
Kedua, meningkatkan efisiensi pengelolaan sumber daya air melalui pembangunan sarana penampungan, pemantauan penggunaan air, serta penerapan irigasi yang sesuai dengan kebutuhan tanaman.
Ketiga, memperluas ruang terbuka hijau, menanam pohon peneduh, dan mendorong penggunaan material bangunan yang dapat mengurangi penyerapan panas di kawasan perkotaan.
Keempat, memperkuat manajemen risiko kesehatan dan keselamatan kerja dengan menyesuaikan aktivitas masyarakat terhadap kondisi cuaca serta memastikan tersedianya air minum dan tempat istirahat yang memadai.
Kelima, memperkuat kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, dunia industri, dan masyarakat dalam mengembangkan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan daerah.
“Teknologi bukan sekadar alat untuk menampilkan data, tetapi harus menjadi instrumen untuk menentukan prioritas dan meningkatkan efektivitas penanganan risiko lingkungan,” tegasnya.
Ia menambahkan, keberhasilan program perlu diukur melalui indikator yang jelas, mulai dari keakuratan data, efisiensi penggunaan air, perubahan kondisi lingkungan, hingga biaya investasi dan operasional. Dengan demikian, manfaat kebijakan dapat dievaluasi secara objektif.
Priyanto juga mendorong perguruan tinggi mengambil peran lebih besar dalam mengembangkan penelitian multidisiplin yang aplikatif. Kerja sama dengan pemerintah dan dunia industri diperlukan agar hasil penelitian dapat diterapkan untuk menjawab persoalan nyata di masyarakat.
Menurutnya, ancaman cuaca panas dan kekeringan membutuhkan respons yang melampaui penanganan jangka pendek. Penguatan ruang terbuka hijau, perlindungan sumber air, pemantauan lingkungan, dan mitigasi berbasis data harus berjalan beriringan.
“Ketahanan lingkungan membutuhkan perencanaan jangka panjang. Integrasi teknologi, manajemen risiko, dan pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan kondisi iklim,” pungkasnya.





















