Daerah

Ketua DPRD Kota Malang Soroti Sampah Sungai: Jangan Cuma Bersih-Bersih, Perilaku Warga Harus Berubah!

5
×

Ketua DPRD Kota Malang Soroti Sampah Sungai: Jangan Cuma Bersih-Bersih, Perilaku Warga Harus Berubah!

Share this article
Ketua DPRD Kota Malang Soroti Sampah Sungai: Jangan Cuma Bersih-Bersih, Perilaku Warga Harus Berubah!
Ketua DPRD Kota Malang, Amithya Ratnanggani Sirraduhita, saat mengikuti kegiatan World Cleanup Day (WCD) 2026 di kawasan Sumber Air Merjosari dan aliran Sungai Metro.(Sudutkota.id/Agus Demit)

KOTA MALANG, Sudutkota.id – Ketua DPRD Kota Malang, Amithya Ratnanggani Sirraduhita, menegaskan penanganan sampah di sungai tidak cukup hanya dilakukan melalui kegiatan bersih-bersih.

Edukasi dan perubahan perilaku masyarakat harus menjadi prioritas agar sungai tidak terus-menerus dijadikan tempat pembuangan sampah.

Hal tersebut disampaikan Amithya dalam konteks kegiatan World Cleanup Day (WCD) 2026 di kawasan Sumber Air Merjosari dan aliran Sungai Metro, Jumat (9/10/2026). Menurutnya, kegiatan pembersihan lingkungan harus diikuti kesadaran masyarakat untuk menghentikan kebiasaan membuang sampah sembarangan.

“Yang paling penting adalah edukasi kepada masyarakat. Jangan sampai sungai dibersihkan, tetapi setelah itu sampah kembali menumpuk karena perilaku masyarakat tidak berubah,” ujarnya.

Amithya menilai, persoalan sampah tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah maupun petugas kebersihan. Masyarakat juga harus mengambil tanggung jawab dengan membiasakan diri mengelola sampah secara benar, mulai dari lingkungan rumah tangga hingga kawasan sungai.

Menurutnya, sampah yang dibuang sembarangan bukan persoalan sepele. Selain mencemari lingkungan, sampah yang masuk ke saluran drainase dan sungai dapat menghambat aliran air serta meningkatkan risiko banjir ketika terjadi penyumbatan.

Ia menegaskan, sungai bukan tempat pembuangan sampah. Sampah yang masuk ke aliran air tidak serta-merta hilang, tetapi dapat terbawa arus dan menimbulkan persoalan baru di sepanjang sungai.

“Karena itu, masyarakat harus benar-benar memahami dampaknya. Jangan hanya melihat sampah sebagai sesuatu yang sudah dibuang, kemudian dianggap selesai. Padahal, sampah itu bisa mencemari lingkungan dan merugikan masyarakat sendiri,” imbuhnya.

Amithya berpandangan, edukasi pengelolaan sampah harus dilakukan secara nyata dan berkelanjutan. Imbauan saja tidak cukup apabila tidak disertai pemahaman mengenai dampak kebiasaan membuang sampah sembarangan.

Ia juga menyoroti keterlibatan relawan dalam kegiatan pembersihan sungai di berbagai daerah. Menurutnya, gerakan tersebut dapat menjadi inspirasi untuk memperluas partisipasi masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.

Namun, Amithya mengingatkan bahwa semangat gotong royong tidak boleh hanya muncul ketika ada kegiatan tertentu. Kesadaran menjaga kebersihan harus menjadi kebiasaan sehari-hari sehingga masyarakat tidak terus bergantung pada kegiatan pembersihan yang dilakukan pemerintah atau relawan.

“Jangan sampai tanggung jawab menjaga kebersihan hanya dibebankan kepada petugas. Masyarakat juga harus terlibat karena sampah yang dihasilkan setiap hari harus dikelola dengan benar,” tegasnya.

Amithya mengungkapkan, saat berkeliling ke sejumlah kelurahan, dirinya telah menyampaikan pentingnya edukasi pengelolaan sampah kepada masyarakat, termasuk kelompok-kelompok warga di lingkungan setempat.

Menurutnya, perubahan perilaku harus dimulai dari lingkungan terdekat, terutama rumah tangga. Kebiasaan membuang sampah pada tempatnya, memilah sampah, dan tidak memasukkan sampah ke saluran air merupakan langkah sederhana yang perlu diterapkan secara konsisten.

Ia menilai, apabila kebiasaan tersebut dilakukan bersama-sama, jumlah sampah yang berakhir di saluran drainase maupun sungai dapat ditekan. Sebaliknya, jika masyarakat tetap membuang sampah sembarangan, upaya pembersihan akan terus menghadapi persoalan berulang.

“Edukasi ini harus terus dilakukan. Masyarakat perlu memahami bahwa menjaga kebersihan lingkungan bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab kita bersama,” jelasnya.

Dalam kegiatan WCD 2026 di kawasan Sumber Air Merjosari dan aliran Sungai Metro, Amithya berharap momentum tersebut tidak berhenti pada kegiatan mengangkat sampah dari sungai. Lebih dari itu, kegiatan tersebut harus mampu mendorong perubahan kebiasaan masyarakat dalam memperlakukan lingkungan.

Menurutnya, keberhasilan gerakan kebersihan tidak semata-mata diukur dari banyaknya sampah yang berhasil dikumpulkan selama kegiatan berlangsung. Hal yang lebih penting adalah apakah setelah kegiatan selesai, masyarakat semakin disiplin mengelola sampah dan tidak lagi membuangnya ke sungai.

Amithya mengingatkan, sungai yang telah dibersihkan berpotensi kembali tercemar apabila kebiasaan lama tidak berubah. Karena itu, pembersihan harus dibarengi edukasi, pencegahan, serta keterlibatan masyarakat secara berkelanjutan.

Ia menegaskan, sinergi antara pemerintah, masyarakat, komunitas lingkungan, dan kelompok warga sangat diperlukan untuk menjaga kebersihan sungai. Edukasi harus menjangkau berbagai lapisan masyarakat agar kesadaran mengelola sampah tidak hanya muncul saat ada kegiatan kerja bakti.

“Harapannya, masyarakat semakin sadar bahwa sampah harus dikelola dengan benar dan tidak dibuang sembarangan, apalagi ke sungai. Kalau perilaku ini berubah, upaya menjaga kebersihan lingkungan akan lebih berkelanjutan,” pungkas Amithya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *