Nasional

Mentan Amran Siapkan 3 Pabrik Tepung Telur dan Daging, Investasi Capai Rp750 Miliar

10
×

Mentan Amran Siapkan 3 Pabrik Tepung Telur dan Daging, Investasi Capai Rp750 Miliar

Share this article
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat membahas rencana pembangunan tiga pabrik pengolahan tepung telur dan tepung daging untuk memperkuat ekosistem peternakan nasional. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, Sudutkota.id – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyiapkan pembangunan tiga pabrik pengolahan tepung telur dan tepung daging dengan estimasi investasi awal mencapai Rp600 miliar hingga Rp750 miliar. Pembangunan ini ditujukan untuk memperkuat pasar peternak, menjaga stabilitas harga, dan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap produk impor.

Pemerintah menargetkan pembangunan pabrik tersebut mulai berjalan pada 2027, dengan estimasi waktu penyelesaian sekitar 1,5 hingga dua tahun. Rencana ini menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem peternakan nasional yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Amran mengatakan, rencana pembangunan tersebut telah dibahas bersama Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Menteri Perdagangan. Tahap selanjutnya akan mencakup studi kelayakan atau feasibility study (FS) untuk memastikan kesiapan pembangunan dan kebutuhan investasi.

“Kami sudah telepon Menteri BUMN dan Menteri Perdagangan. Kita sepakat membangun ekosistem ternak, terutama pembangunan pabrik pengolahan tepung telur dan tepung daging. Insyaallah, mudah-mudahan tahun depan sudah bisa mulai. Targetnya 1,5 tahun selesai, maksimal dua tahun,” ujar Amran, Jumat (9/10).

Menurut Amran, keberadaan industri pengolahan diperlukan untuk memperluas penyerapan hasil peternakan, terutama ketika produksi telur dan daging ayam melampaui permintaan pasar. Produk yang sebelumnya dijual dalam kondisi segar dapat diolah menjadi bahan pangan dengan daya simpan dan pemanfaatan yang lebih luas.

“Ini solusi permanen, fundamental. Kalau pabriknya berdiri, impor tepung telur kita hentikan. Kita sudah sepakat. Harapannya, setelah ekosistem ini berdiri, persoalan yang sama tidak terus berulang,” tegasnya.

Investasi Satu Pabrik Diperkirakan Rp200–250 Miliar

Pemerintah memperkirakan kebutuhan investasi awal sekitar Rp200 miliar untuk setiap pabrik. Nilai tersebut berpotensi meningkat menjadi Rp250 miliar untuk fasilitas yang mencakup pengolahan daging.

Dengan tiga pabrik yang direncanakan, kebutuhan investasi diperkirakan berada pada kisaran Rp600 miliar hingga Rp750 miliar, bergantung pada spesifikasi dan kapasitas fasilitas yang dibangun.

Amran meminta jajaran terkait mengawal proses persiapan, termasuk studi kelayakan, perencanaan anggaran, dan tahapan pembangunan. Pemerintah juga membuka peluang kerja sama dengan pihak swasta untuk memperkuat pengembangan industri pengolahan tersebut.

“Kalau ada swasta mau bergandengan, silakan. Tapi negara ada di sampingnya,” katanya.

Amran menjelaskan, pembangunan industri pengolahan akan menjadi bagian dari rantai usaha yang menghubungkan petani jagung, peternak, dan industri pengolahan. Petani diharapkan memperoleh pasar bagi hasil panennya, sementara peternak mendapatkan dukungan pasokan pakan dan kepastian penyerapan produk.

Ketika terjadi kelebihan produksi telur atau daging ayam, hasil peternakan dapat dialihkan ke industri pengolahan. Skema tersebut diharapkan membantu mengurangi tekanan harga akibat melimpahnya pasokan sekaligus memperluas pemanfaatan produk peternakan dalam negeri.

“Keuntungannya adalah meningkatkan kesejahteraan peternak, mengurangi kerugian yang sering terjadi pada bulan-bulan tertentu, dan mengurangi belanja devisa untuk impor. Ini keputusan mendasar, kita bangun ekosistem peternakan yang terintegrasi satu sama lain,” ujar Amran.

Peternak Dukung Pembangunan Pabrik

Dukungan terhadap rencana tersebut disampaikan Ii Cahyadi, anggota Pinsar sekaligus pelaku usaha peternakan melalui PT Bereh Poultry Indonesia di Subang. Ia menilai pembangunan industri pengolahan berskala besar diperlukan untuk menjaga keberlanjutan pasar telur dari peternak lokal.

Menurut Cahyadi, pembangunan industri dengan kapasitas besar membutuhkan investasi dan sumber daya yang sulit dipenuhi secara mandiri oleh peternak kecil maupun koperasi. Karena itu, keterlibatan pemerintah dinilai penting untuk membangun fondasi industri dan memperkuat daya saing produk dalam negeri.

“Industri itu tidak mungkin ditangani sendiri oleh swasta, peternak-peternak kecil, ataupun koperasi karena membutuhkan skala yang masif. Kita juga harus berhadapan dengan BUMN dari negara lain, baik India maupun China,” ujarnya.

Cahyadi mengapresiasi respons pemerintah terhadap usulan pembangunan pabrik tersebut. Ia berharap rencana itu dapat memberikan kepastian penyerapan produksi peternak, baik untuk mengatasi persoalan pemasaran dalam jangka pendek maupun memperkuat keberlanjutan usaha dalam jangka panjang.

“Alhamdulillah, hari ini beliau langsung memberikan persetujuan. Itu sangat melegakan bagi kami. Jadi, bukan hanya solusi jangka pendek, tetapi lebih dari itu, program pabrik ini diharapkan bisa mengatasi persoalan penyerapan produk peternak,” kata Cahyadi.

Pemerintah Targetkan Ekosistem Peternakan Terintegrasi

Amran menegaskan, penguatan industri peternakan perlu didukung ketersediaan pakan dengan harga terjangkau, kepastian pasar, serta kemampuan industri menyerap kelebihan produksi. Pemerintah menargetkan ekosistem tersebut dapat membantu peternak meningkatkan pendapatan dan mengurangi risiko kerugian akibat perubahan permintaan.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga ketersediaan sumber protein bagi masyarakat, termasuk ikan, ayam, dan telur. Peningkatan produksi dalam negeri, menurutnya, perlu diimbangi dengan keterjangkauan harga dan perluasan pasar.

“Intinya bagaimana ekonomi bergerak dan bagaimana peternak jangan dipersulit. Pakan tersedia dengan baik, kemudian harga telur dan daging stabil. Kita ingin peternak untung dan kesejahteraannya meningkat,” ujarnya.

Melalui rencana pembangunan tiga pabrik pengolahan tepung telur dan tepung daging, pemerintah berupaya memperkuat industri peternakan dari produksi hingga pengolahan. Langkah ini diharapkan meningkatkan nilai tambah hasil peternakan, memperluas pasar domestik, serta mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.

Meski demikian, rencana tersebut masih memerlukan tindak lanjut melalui studi kelayakan dan persiapan pembangunan. Realisasi investasi, jadwal konstruksi, serta kapasitas produksi akan bergantung pada hasil perencanaan dan pelaksanaan tahapan berikutnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *