KOTA MALANG, Sudutkota.id – Persoalan ketersediaan dan harga beras premium di Kota Malang mulai direspons Pemerintah Kota (Pemkot) Malang dengan memperkuat jalur pasokan dari daerah sentra produksi.
Tak hanya mengandalkan pasokan yang beredar melalui jalur perdagangan selama ini, Pemkot Malang menggandeng sejumlah daerah penghasil komoditas. Untuk beras, kerja sama diarahkan ke Kabupaten Kediri dan Nganjuk, sedangkan untuk cabai Pemkot Malang menggandeng Kabupaten Lumajang.
Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat mengatakan, kerja sama antardaerah tersebut sudah ditandatangani. Saat ini, Pemkot Malang melalui Dinas Perdagangan, Koperasi dan Perindustrian (Diskopindag) mulai menindaklanjutinya dengan mengirimkan tim ke daerah mitra untuk memetakan ketersediaan komoditas.
“Sudah. Kita sudah kerja sama antar daerah, tanda tangan, dan sekarang kita sudah mengirimkan tim dari Disperindag ke sana untuk melihat data-data komoditi yang kita perlukan,” kata Wahyu saat diwawancarai awak media, Jumat (18/9/2026).
Untuk komoditas beras, Wahyu menyebut Kediri dan Nganjuk memiliki ketersediaan yang dinilai cukup besar. Pemkot Malang kini mendorong agar potensi tersebut bisa masuk ke pasar Kota Malang, terutama untuk memenuhi kebutuhan beras premium.
Menurut Wahyu, komunikasi terkait ketersediaan beras premium sudah dilakukan. Tahap berikutnya adalah mempertemukan petani atau pelaku usaha di daerah penghasil dengan distributor yang ada di Kota Malang.
“Kita sudah bernegosiasi kepada mereka agar ketersediaan berasnya, terutama yang premium. Sudah ada, kita sudah ada ketemu. Tinggal kita kerjasamakan dengan pengusaha yang ada di sini agar mereka nanti bisa komunikasi,” ujarnya.
Pemkot Malang, lanjut Wahyu, akan mengambil posisi sebagai penghubung agar rantai pasokan dari daerah produksi ke Kota Malang dapat berjalan.
“Kita yang mempertemukan antara petani yang di sana dengan distributor yang ada di sini,” tegasnya.
Langkah tersebut juga tidak lepas dari adanya perbedaan harga. Wahyu menyebut harga beras di daerah sentra produksi lebih rendah dibandingkan harga di Kota Malang, sementara ketersediaannya juga relatif lebih banyak.
“Karena harga di sana lebih rendah daripada di sini. Sini kan harganya tinggi. Dan ketersediaan berasnya mereka lebih banyak. Nah, ini yang kita ambil ke sini,” ungkapnya.
Meski demikian, Pemkot Malang belum menetapkan angka pasti berapa ton beras premium yang akan didatangkan dari Kediri maupun Nganjuk.
Wahyu menjelaskan, kebutuhan pasokan nantinya akan disesuaikan dengan komunikasi antara pengusaha, distributor dan petani. Dengan demikian, volume pasokan tidak semata ditentukan Pemkot, tetapi mengikuti kebutuhan dan mekanisme perdagangan yang berjalan.
“Kita belum, karena kan antara pengusaha dengan distributor dengan petani,” katanya.
Sambil membangun jalur pasokan antardaerah, distribusi beras premium di dalam Kota Malang juga mulai dilakukan melalui Perum Bulog Cabang Malang.
Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi dan Perindustrian (Diskopindag) Kota Malang Eko Sri Yuliadi melalui Kepala Bidang Perdagangan Diskopindag Kota Malang, Luh Putu Eka Wilantari, S.H., M.Hum., menyampaikan adanya operasi pendistribusian beras premium merek Punokawan di Pasar Bunulrejo.
Dalam kegiatan tersebut, Bulog Cabang Malang menyalurkan 10 ton beras premium kepada 25 pedagang pasar yang menjual kebutuhan sembako.
Eka mengatakan distribusi tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga ketersediaan beras premium di tingkat pedagang sekaligus memastikan masyarakat tetap mendapatkan akses terhadap komoditas tersebut.
“Untuk beras premium merek Punokawan dari Perum Bulog Cabang Malang, kami distribusikan sebanyak 10 ton kepada 25 pedagang sembako di Pasar Bunulrejo. Ini bagian dari upaya menjaga ketersediaan beras premium di pasar,” ujar Eka.
Menurutnya, distribusi melalui pedagang pasar diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus memperkuat pasokan beras premium di tingkat konsumen.





















