Sudutkota.id – Kekayaan alam dan budaya Indonesia belum cukup untuk menjadikan pariwisata sebagai kekuatan ekonomi yang kompetitif di tingkat global. Menurut Anggota Komisi VII DPR RI Novita Hardini, persoalan infrastruktur dan kesiapan ekosistem pendukung masih menjadi pekerjaan penting yang harus dibenahi.
Novita menilai promosi pariwisata di berbagai forum internasional harus diikuti dengan kesiapan daerah dalam menerima wisatawan. Jangan sampai promosi berhasil mendatangkan pengunjung, tetapi kebutuhan dasar wisatawan justru belum tersedia.
“Jangan sampai wisatawannya datang, tetapi ekosistem pendukung tidak siap,” kata Novita pada sabtu (5/9/2026).
Menurutnya, infrastruktur pariwisata tidak hanya berkaitan dengan akses menuju destinasi. Wilayah kepulauan juga membutuhkan dukungan jalan yang terhubung, listrik, air bersih serta konektivitas digital agar potensi wisata dapat berkembang secara berkelanjutan.
Novita juga mendorong pembangunan fasilitas yang mampu menghubungkan sektor pariwisata dengan ekonomi kreatif masyarakat. Pusat kebudayaan, ruang kreatif, sentra kerajinan, kawasan kuliner, galeri produk lokal, studio kreatif dan ruang pertunjukan dinilai dapat menjadi bagian dari ekosistem tersebut.
“Saya mendorong bahwa budaya bukan hanya di nikmati sesaat, namun harus menjadi kekuatan ekonomi. Maka infrastrukturnya juga harus menjadi prioritas pembangunan,” ujarnya.
Di tengah kebutuhan tersebut, Novita melihat teknologi digital memiliki peran penting dalam memberikan kemudahan bagi wisatawan. Informasi mengenai destinasi, kuliner dan produk kreatif daerah, menurutnya, perlu disediakan dalam sistem yang mudah diakses.
“Seperti satu data informasi, menggunakan teknologi yang memudahkan wisatawan, seperti informasi kuliner, spot destinasi wisata, spot kreatif daerah yang bisa di akses satu pintu,” katanya.
Novita mencontohkan Korea Selatan yang telah memiliki sistem pemetaan digital seperti NAVER Map untuk membantu masyarakat maupun wisatawan memperoleh informasi mengenai berbagai lokasi.
“Di Korea Selatan, kita Mengenal NAVER Map. Indonesia masih jauh dikatakan layak menjadi destinasi dunia jika tidak mengupgrade ekosistem pariwisatanya berbasis digital,” tegasnya.
Ia menilai penguatan ekosistem tersebut penting agar diplomasi budaya tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Kesenian daerah yang tampil di panggung internasional harus dapat membuka peluang kerja sama sekaligus memperkenalkan potensi ekonomi daerah.
Pandangan itu disampaikan Novita dalam konteks keterlibatan Trenggalek pada Yeosu World Island Fair 2026 di Korea Selatan. Sebanyak 15 penari dari Trenggalek dipersiapkan untuk membawa kesenian daerah, termasuk Turonggo Yakso, dalam ajang internasional tersebut.
Novita berharap kehadiran budaya Trenggalek tidak hanya menjadi tontonan bagi masyarakat internasional, tetapi juga menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan potensi pariwisata, kuliner, kerajinan dan ekonomi kreatif daerah.
“Karena budaya yang hidup bukan hanya budaya yang dilestarikan tetapi budaya yang mampu menghidupi generasi yang mewarisinya,” pungkas Novita.





















