JAKARTA, Sudutkota.id – Pengalaman orang tua dalam mendampingi anak penyandang disabilitas akan diubah menjadi karya sastra. Selama sebulan, sejumlah keluarga muda mengikuti lokakarya penulisan yang digelar Komunitas Suku Sastra Yogyakarta di kantor DPD RI Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kisah yang lahir dari pengalaman sehari-hari itu tidak hanya diarahkan menjadi karya sastra. Penyelenggara berharap tulisan tersebut dapat menjadi medium edukasi bagi masyarakat yang masih memiliki pemahaman terbatas mengenai kehidupan penyandang disabilitas.
Ketua Suku Sastra Fairuzul Mumtaz mengatakan para peserta akan mendapat pendampingan dalam menulis hingga karya mereka siap dibukukan.
“Selama satu bulan, para orang tua akan didampingi untuk menulis karya sastra dan akan dibukukan,” kata Fairuz, Rabu (2/9/2026).
Menurut dia, pengalaman orang tua memiliki nilai penting karena menghadirkan cerita dari sisi keluarga yang secara langsung menghadapi berbagai persoalan dalam mendampingi anak penyandang disabilitas.
Kegiatan itu mendapat apresiasi dari Anggota DPD RI asal DIY, Hilmy Muhammad. Ia menilai tulisan para orang tua dapat membantu masyarakat memahami cara memperlakukan penyandang disabilitas secara lebih tepat.
“Dengan membaca tulisan Bapak Ibu semua, masyarakat akan paham, ‘Oh, caranya begini. Pengalaman Bapak Ibu begini.’ Mungkin menjadi salah satu alternatif cara dalam memperlakukan anak disabilitas,” ujar Hilmy.
Hilmy juga menyoroti persoalan perundungan yang dapat dialami anak penyandang disabilitas. Menurut dia, keluarga perlu membantu anak menghadapi tekanan tersebut dengan menyalurkan pengalaman dan perasaannya secara positif.
“Orang tua juga penting untuk memahamkan takdir tersebut kepada anak, bagaimana menyikapi ini. Di antaranya dengan cara menyalurkan apa yang dirasakan secara positif tanpa perlu membanding-bandingkan kondisi anak dengan yang lain,” tuturnya.
Ia mengingatkan bahwa anak penyandang disabilitas tetap memiliki martabat yang sama dengan manusia lainnya. Karena itu, kondisi disabilitas tidak seharusnya menjadi alasan bagi masyarakat untuk memberikan perlakuan yang berbeda secara tidak adil.
Bagi Hilmy, pengetahuan masyarakat tentang disabilitas perlu diperluas. Salah satu caranya adalah memberi ruang kepada keluarga untuk menceritakan pengalaman mereka sendiri.
Lokakarya tersebut merupakan bagian dari Program Fasilitasi dan Apresiasi bagi Komunitas Sastra yang didukung Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Kegiatan ini juga bekerja sama dengan Komunitas Bawayang.
Fairuz mengatakan karya yang dihasilkan para peserta nantinya diharapkan tidak hanya memperkuat literasi keluarga, tetapi juga menambah perspektif mengenai disabilitas dalam khazanah sastra Indonesia.





















