SIDOARJO, Sudutkota.id – Suasana mencekam mendadak menyelimuti RSUD RT Notopuro Sidoarjo, Selasa (1/9) malam. Ambulans datang silih berganti membawa ratusan siswa dan santri Pondok Pesantren (Ponpes) Manbaul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, yang diduga mengalami keracunan massal.
Para korban dievakuasi dari lingkungan pesantren setelah mengalami berbagai keluhan kesehatan. Sejumlah santri tampak lemas dan harus segera mendapatkan pertolongan medis, Rabu (2/9/2026).
Situasi semakin mengkhawatirkan lantaran jumlah korban yang berdatangan terus bertambah. Beberapa di antaranya dilaporkan mengalami mual, muntah, sesak napas hingga kejang.
Dugaan keracunan ini menjadi sorotan karena makanan yang dikonsumsi para santri disebut berasal dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Para siswa menyantap makanan tersebut sekitar pukul 13.00 WIB sebelum kemudian sejumlah keluhan kesehatan mulai muncul.
Salah seorang santri Ponpes Manbaul Hikam mengatakan, keluhan dialami banyak siswa setelah menyantap menu MBG.
“Hampir 90 persen siswa yang keracunan usai makan siang dari jatah MBG,” ujar salah satu santri yang enggan disebutkan namanya saat di lokasi rumah sakit.
Namun, pantauan di RSUD RT Notopuro, proses evakuasi berlangsung secara bergelombang. Ambulans terus berdatangan membawa santri untuk mendapatkan penanganan medis.
Di sisi lain, keluarga korban mulai memadati rumah sakit, sebagian terlihat cemas menunggu kepastian kondisi anak maupun anggota keluarganya.
Petugas medis pun terus menangani para korban yang datang hampir bersamaan. Kondisi rumah sakit malam itu berubah menjadi titik konsentrasi penanganan dugaan keracunan massal.
Sejumlah pejabat turut datang untuk memantau situasi secara langsung. Di antaranya Bupati Sidoarjo, Dandim 0816/Sidoarjo, hingga Kapolresta Sidoarjo, serta stakeholder terkait.
Peristiwa ini sekaligus memunculkan sorotan terhadap pelaksanaan program MBG, khususnya terkait keamanan dan kualitas makanan yang dikonsumsi para penerima manfaat.
Namun, sejauh ini masih belum dapat dipastikan apakah makanan MBG menjadi penyebab munculnya keluhan kesehatan para santri.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak RSUD RT Notopuro maupun instansi terkait mengenai jumlah pasti korban, kondisi medis mereka, maupun penyebab kejadian.
Petugas kesehatan dan aparat masih melakukan pendataan serta penanganan terhadap para korban. Sampel makanan dan pemeriksaan medis menjadi bagian penting untuk mengungkap apakah dugaan keracunan tersebut benar-benar berkaitan dengan makanan program MBG.
Dengan jumlah korban yang disebut mencapai ratusan orang, peristiwa ini kini menjadi perhatian serius dan menunggu hasil pemeriksaan resmi untuk memastikan penyebab sebenarnya.





















