Nasional

Irman Gusman Dorong Perantau Minang Jadi Kekuatan Brain Circulation

7
×

Irman Gusman Dorong Perantau Minang Jadi Kekuatan Brain Circulation

Share this article
Irman Gusman Dorong Perantau Minang Jadi Kekuatan Brain Circulation
Senator RI asal Sumatera Barat, Irman Gusman saat menjadi keynote speech dalam Seminar Nasional Rangkayo Minang Indonesia (RMI) bertajuk “Tokoh Minangkabau yang Mengubah Indonesia” di Balai Kota DKI Jakarta.(Foto:sudutkota.id/Staff)

JAKARTA, Sudutkota.id – Tradisi merantau masyarakat Minangkabau dinilai tidak harus berujung pada terputusnya hubungan dengan kampung halaman. Justru, keberadaan perantau di berbagai kota dan negara dapat menjadi kekuatan pembangunan daerah melalui pertukaran ilmu, pengalaman, jaringan, investasi, dan gagasan.

Pandangan itu disampaikan Senator RI asal Sumatera Barat, Irman Gusman saat menjadi keynote speech dalam Seminar Nasional Rangkayo Minang Indonesia (RMI) bertajuk “Tokoh Minangkabau yang Mengubah Indonesia” di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (27/8/2026). Acara tersebut turut dihadiri Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah dan perwakilan Pemprov DKI Jakarta.

Irman memperkenalkan konsep brain circulation sebagai cara baru memaknai tradisi merantau. Menurutnya, orang Minang tetap dapat berkontribusi kepada daerah meski tidak lagi tinggal di kampung halaman.

“Bagi tradisi Minangkabau, brain circulation terasa paling dekat: orang boleh bergerak ke mana saja, tetapi hubungan, pengetahuan, dan kontribusinya tetap berputar kembali untuk nagari,” ujar mantan Ketua DPD RI tersebut.

Ia menilai konsep itu sebenarnya sejalan dengan falsafah Minangkabau. Pepatah “Karatau madang di hulu, babuah babungo balun; marantau bujang dahulu, di rumah baguno balun” menggambarkan bahwa merantau merupakan proses untuk menambah ilmu, pengalaman, keberanian, serta kemandirian sebelum memberikan manfaat bagi keluarga dan kampung halaman.

“Pergi untuk tumbuh, terhubung untuk berbagi, dan berkontribusi kembali,” kata Irman.

Menurut Ketua Dewan Pakar Bidang Ekonomi UMKM PP Muhammadiyah itu, kontribusi perantau juga tidak harus berbentuk bantuan finansial. Dokter di Melbourne dapat membimbing tenaga kesehatan di kampung, engineer di Singapura membuka akses teknologi bagi mahasiswa Sumbar, pengusaha di Jakarta membantu UMKM memperluas pasar, dan akademisi di luar negeri membangun kolaborasi riset dengan perguruan tinggi di Sumatera Barat.

“Jadi, kembali ke ranah tidak selalu berarti pulang dan menetap. Yang penting bagaimana apa yang kita dapatkan di rantau bisa memberikan manfaat bagi kampung halaman,” tegas Irman.

Irman yang juga dipercaya sebagai Ketua Dewan Pengawas DPP IKM menilai RMI dapat menjadi penghubung antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, organisasi perantau, dan nagari. Menurutnya, jaringan tersebut perlu diarahkan agar potensi diaspora Minangkabau tidak berjalan sendiri-sendiri.

Ia juga mengingatkan nilai merantau perlu diteruskan kepada generasi muda sebagai bekal menghadapi perubahan. Kemandirian, kemampuan beradaptasi, keberanian berpikir, dan kemampuan membangun jejaring, menurutnya, merupakan modal yang membuat banyak tokoh Minangkabau mampu berkontribusi dalam perjalanan Indonesia.

“Tradisi merantau bukan hanya soal pergi dari kampung, tetapi bagaimana seseorang tumbuh, membangun kemampuan, lalu memberikan arti bagi lingkungan asalnya,” pungkas Irman.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *