SIDOARJO, Sudutkota.id – Pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Desa Karangpuri, Kecamatan Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo, berdampak pada aktivitas belajar siswa TK Dharma Wanita Persatuan (DWP).
Gedung sekolah yang sebelumnya digunakan untuk kegiatan belajar mengajar dibongkar karena lahannya diperuntukkan bagi pembangunan KDMP.
Akibatnya, para siswa terpaksa mengikuti kegiatan belajar mengajar di salah satu ruangan balai desa setempat.
Kemudian persoalan muncul karena ruangan yang digunakan jauh lebih sempit dibandingkan gedung sekolah sebelumnya Sementara fasilitas bermain anak juga menjadi terbatas.
Nur Aini, Kepala TK DWP Desa Karangpuri, mengatakan sekolah mulai menempati ruangan di balai desa tersebut dimulai sejak akhir Desember 2025.
Namun sebelumnya, menurut Nur Aini, kondisi gedung sekolah memang sudah mengalami kerusakan dan semakin parah setelah adanya kegiatan pemancangan tiang atau paku bumi di sekitar lokasi.
“Mulai awal 2025 itu memang sudah ada kerusakan, tapi semakin rusak saat ada kegiatan paku bumi,” ujar Nur Aini, Senin (24/8/2026).
Menjelang akhir 2025, pihak sekolah diminta mengosongkan gedung karena lahan tersebut akan digunakan untuk pembangunan koperasi desa. Persoalannya, pemindahan dilakukan ketika sekolah belum memiliki gedung pengganti.
Untuk sementara, sekolah memanfaatkan ruang kosong di Balai Desa Karangpuri. Namun, kondisi ruang belajar tersebut tidak ideal. Ruang yang sebelumnya berukuran sekitar 6 x 5 meter kini hanya sekitar 3 x 5 meter.
Keterbatasan ruang tersebut membuat aktivitas siswa, khususnya ketika bermain, menjadi tidak leluasa. Sejumlah fasilitas permainan yang sebelumnya tersedia di sekolah juga tidak dapat dipindahkan ke lokasi sementara.
“Sejumlah alat bermain seperti jungkat-jungkit, perosotan dan lain sebagainya tidak bisa kami bawa,” terangnya.
Masih kata Nur Aini, pengadaan alat permainan baru juga belum dapat dilakukan karena masih menunggu Bantuan Operasional Pendidikan (BOP).
Ia juga berharap pembangunan gedung TK pengganti segera direalisasikan agar kegiatan belajar mengajar kembali berlangsung secara layak.
Di sisi lain, Kepala Desa Karangpuri, Reni Susilowati, mengaku telah berupaya mencarikan solusi atas persoalan tersebut.
Pemdes sempat berencana membangun gedung TK menggunakan Dana Desa dengan anggaran sekitar Rp200 Juta.
Namun, rencana itu urung dilakukan setelah diketahui adanya ketentuan yang tidak memungkinkan penggunaan Dana Desa untuk kebutuhan tersebut.
“Saya sudah memperjuangkan, awalnya saya mau bangunkan dengan dana desa sekitar Rp200 Juta, tapi ternyata tidak boleh,” ungkap Reni.
Tak berhenti di situ, Pemdes Karangpuri juga telah berulang kali mengajukan proposal pembangunan gedung baru kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Sidoarjo. Namun, hingga kini belum ada kepastian realisasi.
“Sudah berkali-kali saya kirimkan proposal tapi tidak ada realisasinya,” kata Reni dengan nada kecewa.
Untuk mendukung pembangunan gedung pengganti, Pemdes Karangpuri telah menyiapkan lahan baru di area Balai Desa dengan luas sekitar 21 x 13 meter. Lahan tersebut diproyeksikan menjadi lokasi gedung baru TK Dharma Wanita Karangpuri.
Sementara itu, Dikbud Sidoarjo menyatakan akan menindaklanjuti kondisi sekolah tersebut. Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dikbud Sidoarjo, Rakhmad, mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan bidang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) untuk mengetahui kebutuhan sekolah.
“Iya, nanti saya koordinasikan dengan bidang PAUD,” pungkasnya.




















